Pengamat: Industri Pakistan Terjun Bebas, Kini Jadi Sektor yang Terpinggirkan

Seperti apa industri di Pakistan saat ini?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiperbarui 14 Agustus 2025, 23:27 WIB
Para pedagang bekerja di pasar bunga di tengah kondisi kabut asap di Lahore, Pakistan (23/11/2021). Kondisi kabut asap yang memburuk membuat Lembaga pendidikan, kantor swasta tutup selama tiga hari seminggu di Lahore. (AFP/Arif Ali)

Liputan6.com, Islamabad - Industri Pakistan, yang dulu menjadi penopang utama ambisi ekonomi nasional, kini dilaporkan berada di ujung tanduk. Pada 1996, sektor ini menyumbang 26% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, pada 2025 angkanya merosot tajam menjadi hanya 18%—sebuah tanda jelas dari deindustrialisasi dan lemahnya arah kebijakan selama puluhan tahun.

Pengamat ekonomi Haroon Akhtar Khan menilai kemunduran ini bukan sekadar soal angka, melainkan cerminan dari kelesuan ekonomi yang mengancam pertumbuhan jangka panjang dan posisi Pakistan di kancah global, dikutip dari laman Daily Asian Age, Rabu (13/8/2025).

Selama ini, kebijakan industri Pakistan lebih banyak bersifat reaktif dan terfragmentasi, tanpa visi jangka panjang. Pertumbuhan produksi manufaktur yang tak berkelanjutan, ditambah produktivitas yang stagnan bahkan menurun, membuat daya saing merosot.

Peringkat Pakistan dalam Indeks Kinerja Industri Kompetitif (CIP) UNIDO turun dari posisi 75 pada 2006 menjadi 81 pada 2023—tertinggal jauh dari India (peringkat 37) dan Vietnam (peringkat 30).

Sektor Kunci Satu per Satu Tumbang

Industri garmen, tulang punggung ekspor Pakistan, kehilangan hampir 700 ribu pekerjaan akibat penutupan pabrik besar-besaran. Sektor farmasi pun ikut terpuruk; puluhan perusahaan gulung tikar akibat biaya produksi yang melonjak, depresiasi mata uang, dan pembatasan impor—mengakibatkan kelangkaan obat di berbagai daerah.

Industri konstruksi tak kalah terpukul. Lonjakan harga baja dan semen membuat biaya pembangunan melambung, sementara pajak yang berat menghambat proyek baru. Investor pun memilih menanam modal di luar negeri, meninggalkan pasar domestik.

Sektor otomotif menunjukkan potensi di kendaraan listrik dan hibrida, namun produksi mesin diesel anjlok akibat salah prediksi permintaan dan kelebihan pasokan.

Sementara itu, industri tekstil—sektor ekspor terbesar—menghadapi krisis yang nyaris mematikan. Biaya energi yang tinggi memaksa 187 pabrik tutup, terutama di Punjab. Produksi kapas nasional merosot 30%, bahkan di Sindh penurunannya mencapai 47% akibat cuaca ekstrem, hama, dan kualitas benih yang buruk. Akibatnya, seluruh rantai pasok tekstil terganggu, dan pabrik harus bergantung pada impor mahal.

 

Ketertinggalan dalam Angka

Meski cukup berbahaya, warga terlihat menikmati perjalan mereka menuju kampung halaman dengan duduk di atap bus. (AP Photo/K.M. Chaudary)

Beberapa indikator menunjukkan betapa Pakistan tertinggal jauh:

  • Kualitas ekspor industri: 45% (India: 67%)
  • Porsi barang manufaktur dalam ekspor: 76% (Vietnam: 89%, India: 88%)
  • Nilai tambah manufaktur terhadap PDB: 12%
  • Ekspor teknologi menengah dan tinggi: 11% (Vietnam: 59%, India: 38%)

Data ini menggambarkan ketergantungan Pakistan pada produksi berteknologi rendah dan bernilai tambah kecil, tanpa transisi menuju industri berbasis inovasi.

Kelemahan infrastruktur menjadi penghambat kronis. Pemadaman listrik sering terjadi, bahkan blackout nasional pada Januari 2023 membuat 220 juta orang tanpa listrik dan merugikan industri tekstil sekitar 70 juta dolar AS.

Sektor telekomunikasi juga rapuh. Gangguan internet akibat kerusakan kabel bawah laut maupun pemblokiran pemerintah kerap melumpuhkan aktivitas bisnis digital. Pemadaman internet selama 13 jam pada hari pemilu 2024 menjadi pukulan berat bagi pelaku usaha berbasis daring.

Transportasi pun tak kalah bermasalah. Sebanyak 94% barang diangkut lewat jaringan truk yang usang dan jumlahnya sangat terbatas. Pelabuhan utama seperti Karachi dan Qasim mengalami kemacetan parah dan fasilitas penanganan barang yang ketinggalan zaman.

 

Krisis Kepercayaan dan Investasi

Juru bicara militer Pakistan dalam pernyataannya menyebut jumlah korban tewas akibat serangan udara India pada Rabu (7/5/2025) dini hari bertambah menjadi delapan orang yang kesemuanya warga sipil. (Asif HASSAN/AFP)

Ketidakpastian politik, aturan yang memberatkan, serta praktik korupsi membuat investor enggan menanam modal. Investasi langsung asing (FDI) anjlok 91% pada Maret 2025 dibanding tahun sebelumnya. Nilai rupee jatuh lebih dari 70% hanya dalam dua tahun, membuat impor mesin dan bahan baku semakin mahal.

Sementara itu, ekosistem inovasi nyaris mati suri. Dana riset minim, jumlah peneliti dan teknisi jauh tertinggal dari negara tetangga, dan penyelundupan barang impor makin melemahkan produksi lokal.

Dengan fondasi industri yang rapuh, Pakistan kini berada di persimpangan jalan. Tanpa reformasi mendalam, investasi strategis, dan keberanian untuk beralih ke produksi bernilai tinggi, sektor industri negara ini berisiko terperosok lebih dalam—menjadi sekadar penonton di panggung perdagangan global.

Infografis Adu Kekuatan Tempur Pakistan Vs India. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya