Liputan6.com, Jakarta - Xiaomi Auto akhirnya buka suara soal kabar adanya permintaan pelunasan mobil jauh sebelum pengiriman. Perusahaan menegaskan, aturan ini hanya berlaku untuk segelintir calon pembeli yang dianggap berisiko tinggi, bukan untuk semua pelanggan. Tujuannya, mencegah pembatalan mendadak yang bisa mengacaukan jadwal distribusi.
Sejumlah tenaga penjual Xiaomi di Beijing mengatakan kepada National Business Daily, kebijakan ini biasanya diberlakukan pada pembeli yang pernah meminta penundaan pengiriman atau dinilai kurang kooperatif saat proses pembiayaan.
Advertisement
Contohnya, pelanggan yang lambat merespons dokumen kredit atau menunjukkan keraguan saat jadwal pengiriman semakin dekat.
Isu ini mencuat setelah beberapa konsumen mengeluh di media sosial. Mereka mengaku diminta melunasi pembayaran akhir hanya dalam hitungan minggu, padahal mobil mereka masih berbulan-bulan dari jadwal produksi.
Ada yang diberi tenggat 30 hari untuk melunasi, dengan peringatan bahwa jika tidak dibayar, pesanan akan dibatalkan dan uang muka sekitar 5.000 yuan (Rp11 juta) hangus.
Kebijakan ini kabarnya paling banyak menyasar pemesan SU7 dan SU7 Ultra. Saat ini, waktu tunggu produksi SU7 diperkirakan 38–41 minggu.
Berdasarkan perjanjian pembelian, pelanggan wajib melunasi sisa pembayaran paling lambat tujuh hari setelah menerima pemberitahuan.
Xiaomi juga punya hak untuk meminta pelunasan kapan saja sesuai kondisi penjualan atau jadwal produksi.
Dalam aturan tersebut, keterlambatan melunasi dianggap pelanggaran kontrak. Artinya, Xiaomi berhak membatalkan pesanan dan menahan uang muka. Klausul ini memicu perdebatan, karena sebagian pembeli menilai syarat tersebut terlalu memberatkan.
Beda dari Produsen Lain
Kebijakan Xiaomi ini cukup berbeda dari produsen mobil listrik lain seperti Tesla dan Nio, yang umumnya memberi kesempatan pembeli memeriksa kendaraan sebelum melunasi.
Sementara pabrikan konvensional seperti BYD dan Geely biasanya meminta pelunasan penuh saat unit diserahkan.
Sumber internal Xiaomi mengungkapkan, kekhawatiran terbesar perusahaan adalah pembatalan pesanan setelah mobil masuk tahap produksi.
Hal itu bisa mengacaukan antrian pengiriman pembeli lain. Meski begitu, Xiaomi belum memastikan apakah aturan ini akan diberlakukan lebih luas di masa depan.