Liputan6.com, Jakarta Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) dilakukan ketika anak menginjak usia enam bulan.
Seperti namanya, MPASI adalah makanan selain ASI yang diberikan kepada bayi untuk mendampingi asupan air susu ibu. Artinya, menyusui tetap dilakukan selama masa MPASI.
Advertisement
Dokter anak konsultan nutrisi dan penyakit metabolik, Winra Pratita mengatakan bahwa ada empat syarat yang perlu dipenuhi dalam pemberian MPASI.
“Syarat MPASI ada empat, tepat waktu, adekuat, aman, dan diberikan secara benar,” kata Winra dalam webinar bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Selasa (12/8/2025).
Tepat Waktu
Pada usia nol hingga enam bulan, ASI saja cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi.
Namun, setelah enam bulan, pemberian ASI perlu dibarengi dengan MPASI karena ASI saja sudah tidak cukup lagi.
MPASI diberikan saat kebutuhan energi dan zat nutrisi lain tidak dapat lagi dipenuhi oleh ASI. Pemberian ASI saja sudah tidak dapat mencukupi kebutuhan energi, protein, zat besi, vitamin D, seng, vitamin A, sehingga diperlukan MPASI yang dapat melengkapi kekurangan zat gizi makro dan mikro tersebut sejak umur enam bulan.
“Kalau anak hanya netek saja sampai satu tahun tanpa dipikirkan MPASI-nya yang benar, nanti dia kekurangan energi sehingga berat badannya seret dan lama-lama jadi stunting,” kata Winra.
Adekuat
Syarat pemberian MPASI kedua adalah adekuat. Artinya, MPASI yang diberikan harus sesuai, cukup jumlahnya, dan beraneka ragam.
“Ada karbo, protein, protein hewani yang didahulukan. Karbohidrat bisa dari bubur nasi, pasta, kentang, jagung, ubi, roti. Protein hewani harus dimakan setiap hari, daging ayam, daging ikan, telur, daging sapi, udang, hati ayam.”
Lemak juga dibutuhkan, sambung Winra, ASI sendiri mengandung 50 persen lemak. Dalam MPASI, lemak untuk perkembangan otak bisa didapat dari minyak zaitun, minyak canola, minyak kelapa, dan butter.
“Vitamin dan mineral bisa kita dapatkan dari buah dan sayur tapi ingat bahwa di protein hewani itu juga ada vitamin dan mineralnya. Contoh, hati ayam tinggi mineral dan zat besi.
Aman
Pemberian MPASI juga harus aman. Artinya, jaga kebersihan atau higienitas dengan cuci tangan sebelum menyiapkan makanan bayi dan sebelum menyuapi.
“Pastikan memisahkan makanan yang matang dengan yang mentah, talenannya yang makanan mentah dan matang juga harus dipisahkan, masak dengan suhu yang benar dan pastikan simpan makanan dengan suhu yang benar.”
Pasalnya, ada suhu yang berbahaya untuk MPASI yakni 5 hingga 60 derajat celcius karena di suhu ini bakteri dapat tumbuh dengan sangat pesat. Maka dari itu, jika tidak dikonsumsi maka sebaiknya simpan makanan di lemari pendingin di bawah suhu 5 derajat celcius agar terhindar dari pertumbuhan mikroorganisme.
Cara Pemberian MPASI yang Tepat
MPASI juga harus diberikan dengan cara yang tepat. Perhatikan tanda kesiapan bayi untuk diberi MPASI.
Tanda kesiapan bayi mendapat MPASI di antaranya kepala sudah bisa tegak dan bisa duduk dengan bantuan.
MPASI juga perlu diberikan sesuai dengan perkembangan keterampilan makan anak sesuai umur. Berikan MPASI sesuai dengan sinyal rasa lapar dan kenyang bayi (responsive feeding).
Sinyal bayi lapar dapat ditandai dengan anak bangun tidur dan tersenyum, menghisap atau menyusu, menangis, membuka mulut Ketika diberi makan. Sedangkan, sinyal kenyang dapat berupa mulai lambat atau berhenti menghisap/menyusu, tertidur, menutup mulut, dan memalingkan kepala.
“Diberikan dengan jadwal dan metode yang sesuai dengan basic feeding rules.”
Aturan dasar memberi makan ini terkait dengan jadwal makan utama dan makanan selingan yang teratur. ASI dapat diberikan dua sampai tiga kali sehari. Durasi makan tak boleh lebih dari 30 menit dan hanya boleh mengonsumsi air putih di antara waktu makan.