Benarkah Prada Lucky Disiksa Seniornya Berulang Kali?

TNI sudah menetapkan 20 orang menjadi tersangka atas tewasnya Prada Prada Lucky Saputra Namo.

oleh Tim NewsDiperbarui 11 Agustus 2025, 21:48 WIB
Prada Lucky Namo (23), prajurit TNI di NTT akhirnya meninggal dunia setelah dirawat secara intensif selama empat hari di rumah sakit usai diduga mendapat penganiayaan berat dari seniornya. (Liputan6.com/ Ola Keda)

Liputan6.com, Jakarta - Prada Lucky Chepril Saputra Namo menjadi bulan-bulanan seniornya hingga berujung meregang nyawa. Padahal Prada Lucky baru dua bulan terakhir masuk barak usai dinyatakan lolos TNI.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Inf Wahyu Yudhayana membenarkan 20 senior korban yang sudah ditetapkan sebagai tersangka melakukan penganiayaan berulang kali. Tetapi, dalam rentang waktu berbeda.

Prada Lucky (23) bertugas di Batalyon TP 834 Wakanga Mere, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

"Iya (berhari-hari), tapi kan tidak mungkin juga berhari-hari berturut-turut itu tidak. Karena kita ini kan juga menganut sistem pengawasan, pengendalian dari unsur pimpinan," kata Wahyu kepada wartawan di Gedung Mabes TNI AD, Jakarta, Senin (11/8).

Menunggu Hasil Pemeriksaan

Suasana di rumah duka jelang penguburan Prada Lucky Namo

Kadispenad tidak menjelaskan rinci seberapa jauh rentang waktu yang dia maksud. Dia berdalih akan menunggu hasil pemeriksaan yang sedang berjalan.

"Sangat tidak mungkin kalau itu berturut-turut, tapi mungkin pada rentang waktu, jeda waktu. Nanti kita coba lihat dari hasil pemeriksaan," sambungnya.

Jenderal bintang satu berharap semua pihak bersabar menunggu untuk mengetahui konstruksi penyebab kematian Prada Lucky secara jelas.

"Nanti yang ditanyakan itu menjadi esensi yang akan coba dilihat konstruksinya, pola-pola bagaimana yang menyebabkan kejadian wafat," pungkasnya.

Ibunda Prada Lucky Sujud di Kaki Pangdam

Ibunda almarhum Prada Lucky Chepril Saputra Namo, Sepriana Paulina Mirpey

Ibunda almarhum Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23), Sepriana Paulina Mirpey tidak bisa menahan perasaannya saat Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto berkunjung ke rumah, di asrama tentara Kuanino, Kota Kupang.

Sepriana menangis sambil bersujud, memohon kepada Pangdam IX/Udayana agar para pelakunya dihukum sesuai perbuatan mereka.

"Tolong jangan ada fitnah lagi bapak, saya seorang ibu. Saya rela kalau anak saya mati di medan perang, tetapi ini di oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab," kata Sepriana, Senin (11/8).

Reporter: Nur Habibie/merdeka.com

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya