Liputan6.com, Gaza - Pembunuhan jurnalis oleh Israel kembali terjadi. Lima wartawan Al Jazeera tewas dalam pembunuhan terencana saat mereka berada di tenda yang terletak di luar gerbang utama Rumah Sakit al-Shifa di Kota Gaza pada Minggu (10/8/2025) malam.
Lima jurnalis korban kebiadaban Israel itu terdiri dari dua koresponden, yakni Anas al-Sharif dan Mohammed Qreiqeh serta tiga juru kamera, yaitu Ibrahim Zaher, Mohammed Noufal, dan Moamen Aliwa.
Advertisement
Menyusul kematian Anas, pesan terakhirnya pun dipublikasikan. Dia meminta dunia tidak melupakan Gaza.
Berikut pesan terakhir Anas selengkapnya seperti dikutip dari akun media sosialnya di X:
Ini adalah wasiat dan pesan terakhirku. Jika kata-kata ini sampai kepadamu, ketahuilah bahwa Israel telah berhasil membunuhku dan membungkam suaraku. Pertama-tama, semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah tercurah untuk kalian semua.
Allah Maha Mengetahui bahwa aku telah mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuanku untuk menjadi penopang dan suara bagi bangsaku, sejak pertama kali aku membuka mata di gang-gang sempit kamp pengungsi Jabalia. Harapanku, Allah memanjangkan umurku agar aku dapat kembali bersama keluarga dan orang-orang tercinta ke kota asal kami, Asqalan (Al-Majdal) yang kini diduduki. Namun, kehendak dan ketetapan Allah selalu yang utama.
Aku telah menjalani kehidupan yang penuh kepedihan dalam segala bentuknya, merasakan derita dan kehilangan berkali-kali. Meski begitu, tidak sekalipun aku ragu untuk menyampaikan kebenaran apa adanya, tanpa distorsi atau pemalsuan—agar Allah menjadi saksi atas mereka yang diam, yang membiarkan pembunuhan kami, yang menutup jalan napas kami, dan hati mereka tidak terguncang oleh jasad anak-anak dan perempuan kami yang berserakan. Mereka tidak berbuat apa pun untuk menghentikan pembantaian yang telah menimpa rakyat kami lebih dari satu setengah tahun lamanya.
Aku titipkan kepadamu Palestina—permata mahkota dunia Islam, detak jantung setiap insan merdeka di dunia ini. Aku titipkan kepadamu rakyatnya, terutama anak-anak yang terzalimi dan tidak berdosa, yang tidak pernah sempat bermimpi atau merasakan hidup dalam aman dan damai. Tubuh-tubuh suci mereka hancur dihantam ribuan ton bom dan rudal Israel, tercabik-cabik dan terpencar di dinding-dinding rumah mereka.
Jangan biarkan rantai membungkam suara kalian. Jangan biarkan batas negara menghalangi langkah kalian. Jadilah jembatan menuju pembebasan tanah dan rakyat Palestina, hingga matahari kehormatan dan kebebasan terbit di atas tanah air kita yang dirampas.
Aku menitipkan putri tercinta, Sham, cahaya mataku, yang tidak pernah sempat aku lihat tumbuh sebagaimana yang selalu aku impikan. Aku juga menitipkan putra tersayang, Salah, yang kuharapkan dapat kudampingi hingga dia cukup kuat untuk memikul tanggung jawabku dan melanjutkan perjuangan ini. Kepada ibuku tercinta, yang doa-doa tulusnya mengantarku sejauh ini, menjadi benteng yang melindungiku dan cahaya yang menuntunku, semoga Allah memberinya kekuatan dan membalasnya dengan sebaik-baik balasan. Dan kepada istriku tercinta, Umm Salah (Bayan), yang terpisah dariku berhari-hari dan berbulan-bulan lamanya karena perang, aku saksikan kesetiaannya pada ikatan kami, keteguhannya laksana batang pohon zaitun yang tidak pernah bengkok—sabar, percaya pada Allah, dan memikul tanggung jawabku dengan kekuatan dan iman yang luar biasa.
Aku memohon kepada kalian untuk mendampingi mereka, menjadi penopang mereka setelah pertolongan Allah Yang Maha Tinggi. Jika aku pergi maka aku pergi dengan tetap teguh memegang prinsip. Aku bersaksi di hadapan Allah bahwa aku ridha dengan ketetapan-Nya, yakin akan perjumpaan dengan-Nya, dan percaya sepenuhnya bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan kekal.
Ya Allah, terimalah aku di antara para syuhada. Ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang. Jadikan darahku cahaya yang menerangi jalan kebebasan bagi rakyat dan keluargaku. Ampunilah jika aku pernah lalai, dan limpahkanlah rahmat-Mu kepadaku, karena aku telah setia pada janji dan tidak pernah mengingkarinya atau mengkhianatinya.
Jangan lupakan Gaza. Dan jangan lupakan aku dalam doa-doa tulus kalian agar aku diampuni dan diterima di sisi-Nya.
Anas Jamal Al-Sharif
06.04.2025
Al Jazeera: Israel Bertanggung Jawab
Jaringan Media Al Jazeera mengutuk sekeras-kerasnya pembunuhan yang disengaja terhadap al-Sharif dan rekan-rekannya oleh Israel, serangan yang sekali lagi menjadi bukti nyata serangan terang-terangan dan terencana terhadap kebebasan pers.
"Serangan ini terjadi di tengah akibat yang menghancurkan dari agresi Israel yang terus berlangsung di Gaza, yang telah menyaksikan pembantaian warga sipil tanpa henti, kelaparan paksa, dan pemusnahan seluruh komunitas. Perintah untuk membunuh Anas Al Sharif, salah satu jurnalis paling pemberani di Gaza, beserta rekan-rekannya, merupakan upaya putus asa untuk membungkam suara-suara yang mengungkap rencana perebutan dan pendudukan Gaza yang akan segera terjadi," sebut Al Jazeera.
Seiring dengan Al Jazeera kembali melepas kepergian jurnalis-jurnalis terbaiknya, kantor berita ini menegaskan bahwa pasukan dan pemerintah Israel bertanggung jawab atas penargetan dan pembunuhan yang disengaja ini.
"Israel berulang kali menghasut dan menyerukan agar jurnalis pemberani Anas Al Sharif dan rekan-rekannya dijadikan target," ungkap Al Jazeera.
"Anas dan rekan-rekannya adalah sebagian dari sedikit suara terakhir yang tersisa dari dalam Gaza, yang memberi dunia liputan langsung tanpa sensor dari lapangan tentang kenyataan mengerikan yang dialami rakyatnya. Ketika media internasional dilarang masuk, para jurnalis Al Jazeera tetap berada di Gaza yang terkepung, merasakan sendiri kelaparan dan penderitaan yang mereka dokumentasikan lewat lensa kamera mereka. Melalui liputan langsung yang terus-menerus dan penuh keberanian, mereka telah menyampaikan kesaksian mata yang menggugah tentang kengerian yang terjadi selama 22 bulan pengeboman dan penghancuran tanpa henti."
Al Jazeera menambahkan, "Meskipun telah kehilangan sejumlah jurnalis akibat serangan yang disengaja dan terus bekerja di bawah ancaman konstan, Anas Al Sharif, Mohammed Qraiqea, dan rekan-rekan mereka tetap bertahan di Jalur Gaza demi memastikan dunia melihat kenyataan pahit yang dialami rakyat Gaza."
"Sambil dengan tegas mengecam kejahatan keji ini dan upaya yang terus dilakukan otoritas Israel untuk membungkam kebenaran, Jaringan Media Al Jazeera menyerukan kepada komunitas internasional dan semua organisasi terkait agar mengambil langkah tegas menghentikan genosida yang sedang berlangsung dan mengakhiri penargetan sengaja terhadap jurnalis. Al Jazeera menegaskan bahwa impunitas bagi pelaku dan ketiadaan akuntabilitas justru memberanikan Israel untuk terus melakukan tindakan tersebut dan mendorong penindasan lebih lanjut terhadap para saksi kebenaran."