Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia, Arifah Fauzi, menyoroti meningkatnya kasus kekerasan seksual pada anak yang kini tak hanya berasal dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari penggunaan gadget.
"Ternyata, alat digital yang sering dimainkan anak-anak justru menjadi faktor utama meningkatnya kekerasan terhadap anak dan perempuan," kata Arifah dalam talkshow "Pentingnya Makan Bergizi dan Fortifikasi untuk Cegah Anemia pada Anak" yang digelar di Aula R.A. Kartini, KemenPPPA, Jakarta Pusat, Rabu, 6 Agustus 2025.
Advertisement
Arifah menjelaskan bahwa gadget, yang seharusnya menjadi alat bantu belajar dan hiburan, justru kerap menjadi pintu masuk kekerasan. Baik secara fisik, emosional, maupun seksual.
Dia menyayangkan kurangnya pengawasan dari orang tua terhadap aktivitas anak saat menggunakan perangkat digital. "Ketika anak dibiarkan mengakses berbagai konten tanpa filter dan pendampingan, risiko kekerasan semakin besar," tambahnya.
Lebih dari sekadar kekhawatiran, data terbaru menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak telah mencapai level darurat nasional.
Dalam 45 hari terakhir, ribuan kasus kekerasan dilaporkan ke sistem nasional, dan banyak di antaranya bermula dari interaksi anak dengan teknologi.
Menteri PPPA: Hampir Semua Kekerasan Anak Sumbernya dari HP
Penggunaan gadget yang tidak terkontrol telah menjadi gerbang utama terjadinya kekerasan terhadap anak di Indonesia. Akses tanpa pengawasan terhadap media sosial, game online, hingga pesan instan membuka peluang anak berinteraksi dengan pihak-pihak yang tidak dikenal.
Tak jarang hal seperti ini berujung pada kekerasan verbal, emosional, bahkan seksual. Kejadian seperti cyberbullying, eksploitasi seksual daring, hingga tantangan-tantangan berbahaya di internet semakin sering ditemukan dalam keseharian anak-anak.
"Hampir semua kekerasan yang dialami oleh anak-anak itu sumbernya dari HP," katanya.
Ungkapan ini mencerminkan betapa seriusnya ancaman tersebut. Ketika gadget lebih banyak digunakan sebagai alat hiburan tanpa batasan waktu dan konten, maka anak-anak rentan terpapar hal-hal berbahaya.
Penting bagi orang tua dan pengasuh untuk aktif dalam mengawasi, membatasi, dan memandu anak dalam menggunakan teknologi.
"Tidak cukup hanya memberikan gadget, namun harus diikuti dengan edukasi dan batasan jelas. Tanpa itu, ruang digital akan menjadi lingkungan yang tidak ramah bagi tumbuh kembang anak," tambahnya.
Kurangnya Pengawasan Memicu Risiko
Salah satu faktor utama yang memperparah kondisi ini adalah minimnya pengawasan dari orang tua atau wali. Banyak anak yang menghabiskan waktu berjam-jam dengan gadget tanpa arahan atau batasan.
Hal ini memperbesar kemungkinan mereka mengakses konten kekerasan, berinteraksi dengan orang asing, hingga menjadi korban eksploitasi.
"Kalau kita sebagai orang tua tidak bisa memberikan pengawasan terhadap anak-anak, itu akan membahayakan mereka. Karena sebetulnya kecanggihan teknologi dunia digital ini, satu sisi memang sangat kita butuhkan, tetapi satu sisi jika kita tidak bisa mengawasi anak-anak kita, maka akan ada dampak negatif yang akan menimpa mereka," kata Menteri Arifah.
Kalimat ini menyoroti urgensi keterlibatan orang tua secara aktif dalam kehidupan digital anak-anaknya. Pengawasan ini bukan berarti melarang penggunaan gadget secara total, melainkan menciptakan ruang aman yang seimbang antara teknologi dan nilai edukatif.
Melalui pendekatan yang positif dan dialog terbuka, orang tua bisa membantu anak memilah mana yang sehat dan mana yang berbahaya dari internet.
Perlu Kolaborasi dan Kesadaran Bersama
Menghadapi era digital yang terus berkembang, tanggung jawab melindungi anak tidak bisa hanya dibebankan kepada keluarga. Diperlukan kolaborasi lintas sektor --- antara pemerintah, sekolah, organisasi masyarakat, dan media untuk menciptakan sistem perlindungan yang lebih menyeluruh.
Penyusunan regulasi yang tegas, kampanye kesadaran digital, hingga program edukasi yang ramah anak menjadi langkah penting.
“Faktor gadget ini sangat berpengaruh. Dan jika tidak disikapi dengan bijak, maka kita akan kehilangan kendali terhadap kualitas generasi mendatang. Ayo kita jaga anak-anak kita, kita kuatkan keluarga-keluarga kita. Karena keluarga yang kuat akan menjadi fondasi negara dan bangsa yang kuat,” tutup Menteri Arifah pada sambutannya.
Oleh karena itu, permasalahan gadget menjadi isu strategis yang menentukan masa depan anak Indonesia. Langkah konkret seperti pelatihan orang tua, edukasi digital di sekolah, serta pembatasan konten berbahaya di internet harus segera diimplementasikan.
Ini bukan sekadar wacana, melainkan langkah darurat yang harus diambil demi mencegah angka kekerasan yang terus meningkat.