Kenapa Gempa Rusia Magnitudo 8,8 Tidak Memicu Tsunami Besar? Ini Penjelasan Ahli

Ahli menggarisbawahi bahwa tsunami tidak hanya ditentukan oleh kekuatan gempa.

oleh Khairisa FeridaDiperbarui 01 Agustus 2025, 18:13 WIB
Gempa magnitudo 8,8 mengguncang wilayah Kamchatsky, Rusia, pada Rabu (30/7/2025) pagi waktu setempat. (Dok. Tangkapan layar USGS)

Liputan6.com, Washington, DC - Saat gempa magnitudo 8,8 mengguncang Semenanjung Kamchatka, Rusia, pada Selasa (29/7/2025), para pejabat memperingatkan bahwa gelombang tsunami yang merusak bisa menyusul. Namun, gelombang yang mencapai Hawaii dan Pantai Barat Amerika Serikat (AS) ternyata lebih kecil dari yang semula dikhawatirkan.

Meskipun kekuatan gempa sangat besar, gelombang tsunami yang mencapai pantai Hawaii dan Pantai Barat AS tidak menyebabkan kerusakan. Gubernur Hawaii Josh Green melaporkan bahwa tidak ada gelombang yang berarti.

"Ini semacam berkah karena kami tidak melaporkan adanya kerusakan," tutur Green kepada wartawan pada Rabu (30/7) pagi, seperti dilansir ABC News.

Dampak yang minimal ini mengejutkan banyak orang, mengingat gempa sebesar ini jarang terjadi. Namun, pakar tsunami sekaligus profesor dari Universitas Texas A&M dan Universitas Cornell Philip Liu menjelaskan bahwa magnitudo gempa bukan satu-satunya faktor penentu ukuran tsunami.

"Tidak semua gempa akan menghasilkan tsunami," kata Liu kepada ABC News. "Itu sangat bergantung pada bagaimana gempa menciptakan deformasi dasar laut atau dasar samudra."

Liu menjelaskan bahwa yang paling menentukan dalam pembentukan tsunami bukanlah kekuatan gempa semata, melainkan gerakan vertikal dasar laut.

"Sebagian dasar laut akan terangkat, sebagian lainnya akan turun, dan gerakan vertikal dasar laut inilah yang memicu terjadinya tsunami," ujarnya.

Dalam kasus ini, menurut Liu, meskipun magnitudo gempa sangat besar, pola keretakan yang terjadi tidak menciptakan deformasi vertikal yang dibutuhkan untuk menghasilkan gelombang besar. Alat pemantau di laut mencatat ketinggian gelombang hanya sekitar 3 hingga 4,3 meter—tergolong kecil untuk gempa sebesar ini.

Akurasi Sistem Peringatan Tsunami

  Gambar dari drone yang dirilis oleh Layanan Geofisika Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia pada Rabu (30/7/2025) ini memperlihatkan dampak tsunami di Severo-Kurilsk, Pulau Paramushir, yang terletak di Kepulauan Kuril bagian utara, Rusia.  (Dok. Geophysical Service of the Russia/AFP)

Ilmuwan gempa dan ahli geologi struktur Judith Hubbard menjelaskan bahwa gempa terjadi cukup dalam, yaitu sekitar 19 kilometer di bawah permukaan Bumi, tepatnya di zona subduksi—daerah di mana satu lempeng tektonik menyusup ke bawah lempeng lainnya.

Dia menyebutkan bahwa kedalaman seperti ini adalah hal yang biasa atau wajar untuk zona tersebut, artinya gempa-gempa yang terjadi di kawasan Kamchatka memang sering terjadi pada kedalaman sekitar itu.

Gelombang tsunami pasca gempa Rusia tiba di Monterey, California, pada pukul 00.48 waktu setempat dan di San Francisco pada pukul 1.12 waktu setempat, namun tidak menimbulkan gangguan berarti.

Meski demikian, sistem peringatan berfungsi persis seperti yang dirancang. Liu memuji akurasi sistem peringatan dalam memprediksi waktu kedatangan tsunami di seluruh wilayah Pasifik, meskipun ketinggian gelombang lebih rendah dari perkiraan awal.

Maskapai Hawaiian Airlines dan Alaska Airlines melanjutkan penerbangan pada Rabu pagi setelah sempat menghentikan operasi sementara akibat peringatan tersebut, menandai kembalinya aktivitas secara cepat ke kondisi normal setelah peristiwa seismik itu.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya