Isu PHK Menggema di Balik Tembok-Tembok Perkantoran Ibu Kota

Lutfian sudah empat tahun bekerja di salah satu perusahaan skincare asal Korea Selatan.

oleh Ady AnugrahadiDiterbitkan 30 Juli 2025, 14:44 WIB
Deretan gedung perkantoran di Jakarta, Senin (27/7/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta mengalami penurunan sekitar 5,6 persen akibat wabah Covid-19. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Lutfian Fikri. Kira-kira di pagi hari bulan April 2025 lalu. Isi pesan itu sempat membuatnya terdiam beberapa saat. Meski pada akhirnya, dia menerima pasrah.

Kabar itu jelas pahit. Tetapi tak banyak cara bisa dilakukannya. Selain mengikuti alur proses pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Saya alami itu pemanggilan dulu. Jadi pemanggilan one-on-one dengan Head of Marketing. Terus dibilangin kalau ada efisiensi," kata Lutfian saat berbincang, Rabu (30/7/2025).

Lutfian sudah empat tahun bekerja di salah satu perusahaan skincare asal Korea Selatan. Ia terakhir menduduki jabatan sebagai eksekutif media sosial dan belakangan memimpin tim kecil berisi dua content creator dan dua desainer grafis.

"Jadi ada intern content creator dua orang sama 2 design graphics lah yang harus saya supervise. Terus saya juga handle QOL," ucap dia.

Sudah Bersiap Hadapi PHK

Sejumlah orang berjalan di trotoar pada saat jam pulang kantor di Kawasan Sudirman, Jakarta, Senin (8/6/2020). Aktivitas perkantoran dimulai kembali pada pekan kedua penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi pandemi COVID-19. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebagai bagian dari tim kreatif, ia paham betul arah angin perusahaan. Maka ketika satu per satu rekan di divisi dicoret sejak akhir 2024, ia mulai bersiap.

"Efisiensi itu yang emang bertahap sih. Jadi emang kalau ada isu dan juga ada sesuatu itu pasti dari mulut ke mulut itu pasti langsung kedengeran jelas lah. Dan di akhir percakapan juga dikabarin kalau misalkan salah satu yang kena efisiensi itu saya sendiri," ucap dia.

Isu PHK kembali menyebar di ruang kantor yang kecil itu. Hari itu, suasana kantor mendadak sunyi. Kantor minimalis dengan jumlah 15 karyawan itu memutuskan kembali perampingan. Ia bersama empat rekannya tercantum dalam daftar pemberhentian awal April 2025.

Saat kabar itu datang kepadanya, ia tak terlalu terkejut. Tapi tetap saja, ada rasa waswas yang sulit ditampik.

"Karena emang ini kebijakan dari perusahaan kita enggak bisa pungkirin hal tersebut," ucap dia.

Sebanyak 15 karyawan yang bekerja di kantor Jakarta, sepertiganya harus hengkang. Lutfian termasuk beruntung karena masih menerima pesangon.

"Alhamdulillah dari perusahaan dapet sih (pesangon) sesuai dengan UU yang berlaku di Indonesia," ucap dia.

Sulitnya Mencari Kerja

Aktivitas pekerja saat jam pulang kantor di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (29/9/2022). Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengungkapkan bakal mendukung pemerintah pusat jika hendak mencabut satus pandemi Covid-19 menjadi endemi dan akan menyesuaikan program-program penunjang kebijakan tersebut. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Usai badai PHK menyerang kantornya, Lutfian kembali membuka layar laptop. Ia mengajukan curriculum vitae ke beberapa perusahaan. Beberapa di antaranya membalas. Sebagian mengundang wawancara. Tapi semuanya berhenti sebelum sampai tahap penawaran.

"Banyak yang sudah saya lamar, ada yang sampai HR atau user tapi belum ada yang sampai tahap offering letter," ujar dia.

Tak terasa setahun berlalu. Diakuinya, mencari pekerjaan baru sangat sulit. Dia pun mengalaminya. Padahal, katanya, pemerintah pernah berjanji soal penyediaan 19 juta lapangan kerja. Sayangnya, tampak semua hanya janji belaka.

"Udah lebih dari setahun itu saya amati itu lumayan cukup susah juga untuk cari kerja juga. Dan juga saya alami juga sendiri," ucap dia.

Tetapi, hidup harus terus berjalan. Lutfian kini mengandalkan penghasilan dari pekerjaan freelance untuk menyambung hidup.

Dia berharap, ke depan ekonomi Indonesia semakin baik. Sehingga pengangguran kian berkurang.

"Mungkin itu salah satunya kenapa perusahaan juga sulit cari pekerjaan mungkin dari demand dari pencari kerjanya yang untuk istilahnya gajinya yang offeringnya terlalu tinggi dan juga sebagian mungkin salah satunya itu sih penyebabnya," ujar dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya