Liputan6.com, Manila - Di dalam gereja Barasoain yang berarsitektur barok di utara Manila, Filipina, lantunan musik pernikahan bergema seperti biasa. Namun hari itu, ada yang tak biasa dari upacara sakral ini: seluruh lantai gereja terendam air hampir setinggi lutut.
Meskipun begitu, James Aguilar tetap melangkah mantap menuju altar, menggandeng lengan ayahnya. Ia mengenakan gaun putih dan kerudung panjang, berjalan perlahan melewati lorong yang berubah menjadi kolam kecil. Jemarinya sedikit menggenggam rok gaunnya, agar tidak terlalu basah.
Advertisement
Di ujung altar, sang mempelai pria, Jade Rick Verdillo, menunggunya dengan senyum lebar yang nyaris menyembunyikan kekhawatiran akan hujan yang tak juga reda sejak malam sebelumnya.
Bagi pasangan muda berusia 27 tahun ini, keputusan untuk melangsungkan pernikahan bukanlah keputusan mudah. Hujan deras dan peringatan dari perencana pernikahan membuat mereka harus memilih: melanjutkan atau menunda hari besar mereka.
"Itu malam yang sulit. Kami sempat ragu. Saya 50:50 antara lanjut atau membatalkan," ujar James, dikutip dari laman BBC, Kamis (24/7/2025).
Namun pagi harinya, di tengah guyuran hujan yang tak kunjung berhenti dan air yang mulai masuk ke dalam gereja, mereka memutuskan untuk tetap melangsungkan pernikahan.
"Banjir ini menantang, tapi kami fokus pada yang benar-benar penting – cinta kami dan orang-orang yang hadir untuk merayakannya," kata Verdillo, mempelai pria. "Dan kami sungguh bahagia."
Upacara tetap berjalan, meski kaki para tamu dan imam terendam air. Beberapa anak kecil terlihat bermain riang di sisi lorong gereja, seolah genangan air ini bagian dari permainan. Di balik kekacauan kecil ini, ada keteguhan dan kehangatan yang terpancar dari seluruh prosesi.
Namun kisah ini bukan semata tentang cinta yang menang dari cuaca buruk. Ia juga merekam wajah lain dari realitas di Filipina – negara yang setiap tahun dihantam puluhan badai tropis dan harus bergulat dengan sistem drainase yang sudah usang.
Banjir di Hari Bahagia
Usai upacara, sebelum sempat merayakan sebagai pasangan suami-istri, James dan Verdillo mendatangi pusat kesehatan untuk mendapatkan antibiotik. Mereka mengonsumsi doksisiklin—obat untuk mencegah leptospirosis, penyakit yang dapat ditularkan dari air banjir dan menyerang hati.
Beberapa jam kemudian, gereja yang masih tergenang itu kembali menjadi tempat upacara – kali ini pemakaman. Peti jenazah putih diletakkan di atas panggung yang sama, menandai betapa kehidupan dan kematian begitu berdampingan, bahkan di tengah bencana.
Topan Wipha—yang oleh warga Filipina dikenal sebagai Crising—adalah badai ketiga tahun ini. Enam orang telah dilaporkan tewas dan puluhan ribu lainnya terpaksa mengungsi akibat curah hujan tinggi dan banjir yang melanda wilayah utara Manila.
Barasoain, yang menjadi tempat berlangsungnya pernikahan viral ini, bukan pertama kalinya menjadi saksi cinta dalam genangan. Pada 2022, pasangan lain juga menikah di gereja yang sama dengan kondisi serupa. Bahkan pada 2018, cerita yang hampir identik datang dari provinsi Bulacan.
Ketangguhan Warga, Ketidakmampuan Sistem
Di balik kisah romantis ini terselip kenyataan pahit: banjir yang semakin parah, infrastruktur yang tertinggal, dan perencanaan kota yang masih jauh dari memadai. Metro Manila, tempat gereja Barasoain berada, adalah rumah bagi lebih dari 13 juta jiwa, menjadikannya salah satu kawasan terpadat di dunia.
Namun sistem pembuangan limbahnya berasal dari awal 1900-an—dan kini, 70% dari jalur drainasenya telah tertutup lumpur dan sampah. Sampah yang tak terangkut dan pembangunan yang menutup aliran air alami memperburuk keadaan.
Kementerian Pekerjaan Umum Filipina mengakui masalah ini. Mereka tengah menyusun rencana induk penanganan banjir, bekerja sama dengan Bank Dunia. Salah satu solusi jangka pendek adalah memperbaiki 32 stasiun pompa air di ibu kota.
"Kita harus duduk bersama, segera, untuk mencari solusi," kata Manuel Bonoan, Menteri Pekerjaan Umum era Presiden Marcos Jr.
Sementara itu, kritik juga ditujukan pada prioritas pemerintah. Saat banjir melanda, viral foto-foto petugas memasang potret Presiden di tiang lampu untuk persiapan pidato kenegaraan. Banyak pihak mempertanyakan: bukankah sumber daya ini seharusnya dialihkan untuk membantu korban bencana?
Optimisme di Tengah Derasnya Air
Meski hidup dalam lingkungan yang penuh ketidakpastian, James dan Verdillo memilih untuk melihat hari pernikahan mereka sebagai simbol ketahanan.
"Filipina punya banyak air – dari sungai, laut, hujan. Tapi kita juga punya akal dan kemampuan. Pemerintah harus berinvestasi di pintu air, kanal yang lebih lebar, dan pompa air," ujar Verdillo.
"Perbaikan tidak bisa dalam sehari, tapi bisa dalam beberapa tahun. Saya optimistis – asal kita fokus pada solusi, bukan janji kosong."
Di tengah gemuruh badai dan riak air yang menyentuh ujung altar, cinta dua anak muda ini menyala terang. Pernikahan mereka mungkin basah kuyup, tapi janji yang terucap tetap hangat—dan tidak ada badai yang bisa meredam itu.