Indonesia Bakal Impor CO2 dari Singapura Buat Garap Proyek Ini

Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana menyampaikan Indonesia akan mendatangkan karbon (CO2) dari Singapura dan negara lainnya. Ini akan digunakan dalam proyek penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture and storage (CCS).

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 22 Juli 2025, 13:00 WIB
Sebuah kapal bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (4/12/2020). Perbaikan kinerja ekspor dari Kuartal II sebesar minus 11,7 persen menjadi minus 10,8 persen di Kuartal III dan kuartal IV menjdi pijakan untuk perbaikan ditahun 2021. (merdeka.com/Imam Buhori)

Liputan6.com, Jakarta Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana menyampaikan Indonesia akan mendatangkan karbon (CO2) dari Singapura dan negara lainnya. Ini akan digunakan dalam proyek penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture and storage (CCS).

Diketahui, pemerintah Indonesia dan Singapura telah meneken Nota Kesepahaman (MoU) tentang proyek CCS ini beberapa waktu lalu. Dadan menegaskan, Indonesia akan mengimpor CO2 dari Singapura, dan disimpan di wilayah Tanah Air.

"Singapura nanti akan melakukan capturing-nya (CO2) di sana, kemudian di-transport, kemudian disimpan di wilayah Indonesia, dan ini tentunya merupakan salah satu peluang ekonomi juga. Kita sedang memastikan dengan Singapura bahwa hal-hal ini dari sisi risiko, dari sisi keekonomian, dari sisi regulasi juga bisa sesuai," kata Dadan dalam webinar Menakar Potensi Bisnis CCS/CCUS di Indonesia, Selasa (22/7/2025).

Dia menjelaskan, skema ini membuka peluang ekonomi buat Indonesia, mengingat ada satuan harga yang ditentukan. Di sisi lain, mampu menurunkan tingkat emisi karbon nasional.

"Jadi kalau ini bisa berjalan, tentunya ini membuka peluang ekonomi baru, di samping juga tentunya membuka kesempatan yang baru buat Indonesia untuk menurunkan dari emisi CO2-nya," kata dia.

"Jadi ada kombinasi dari pemanfaatan teknologi CCS ini, dari sisi ekonomi dan juga dari sisi penurunan emisi," imbuh Dadan.

 

Impor CO2 dari Luar Negeri

Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap Muara Karang yang berlokasi di daerah Pluit, Jakarta Utara. PT PLN (Persero) akan segera melantai di Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon), dan mengklaim bakal menjadi trader terbesar dengan membuka setara hampir 1 juta ton CO2.Dok PLN

Dadan menyadari nantinya langkah impor CO2 akan menuai beragam komentar. Dia pun meluruskan impor yang dilakukan bukan membawa dampak negatif.

"Memang nanti akan ada banyak cerita, kita kok mengimpor CO2, kan datangnya dari luar negeri. Ini konteksnya bukan seperti itu, kita bekerjasama dengan negara lain, kita memanfaatkan potensi ekonomi yang ada di dalam negeri, dan kalau ini tidak dimanfaatkan kan juga ini percuma," tuturnya.

"Jadi kita dorong juga untuk bekerjasama luar negeri, nanti pengalaman tersebut dari keekonomian tersebut ini yang akan dipakai untuk yang di dalam negeri. Tidak dalam urutan sebetulnya harus luar negeri juga, kalau dalam negeri sudah siap, kita dorong juga ini bisa berjalan dengan cepat," sambung Dadan menjelaskan.

 

Bahlil Pamer Potensi Bisnis CCS RI

Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia seusai melaksanakan salat Idul Fitri bersama para kader di Masjid Ainul Hikmah, Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta Barat. (Foto: Merdeka.com/Nur Habibie)

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan produk industri tak akan kompetitif tanpa melirik praktik hijau. Dia menjagokan potensi Indonesia terhadap penyimpanan karbon atau carbon capture and storage (CCS).

Bahlil menyampaikan ini di hadapan perwakilan pemerintah Singapura usai menandatangani tiga Nota Kesepahaman (MoU). Ada MoU soal ekspor listrik hingga kerja sama CCS.

"Kita juga harus mau membuka diri untuk menerima program dan kerjasama terhadap CCS," kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (13/6/2025).

 

Jadi Keunggulan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Dia menegaskan, CCS menjadi salah satu keunggulan jika diterapkan untuk membuat produk menjadi kompetitif di tatanan global.

"Sekarang tidak akan mungkin sebuah produk industri itu akan kompetitif dengan produk-produk lain di dunia kalau tidak memakai energi baru terbarukan atau prosesnya tidak mendekatkan pada green industry yang baik," ungkapnya.

Bahlil menegaskan kembali Indonesia memiliki potensi jumbo dalam CCS tersebut. Apalagi Indonesia memiliki banyak bekas sumur minyak dan gas (migas). "Kita mempunyai kapasitas untuk CCS salah satu terbesar di dunia, bahkan terbesar untuk di Asia Pasifik karena kita mempunyai eks daripada sumur-sumur minyak dan sumur-sumur gas," tandasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya