Liputan6.com, Manila - Kementerian Pendidikan China mengeluarkan peringatan keamanan bagi para pelajar China di Filipina setelah apa yang disebut sebagai serangkaian insiden kriminal yang menargetkan mereka.
Peringatan singkat yang dikeluarkan pada Jumat (18/7/2025) itu tidak menyebutkan secara spesifik insiden apa saja yang dimaksud, namun meminta para mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran akan keselamatan mereka jika memilih untuk menempuh studi di Filipina. Jumlah mahasiswa China di negara tersebut tidak disebutkan, namun menurut surat kabar South China Morning Post yang berbasis di Hong Kong, jumlah pendaftaran telah menurun menjadi hanya beberapa ratus dalam beberapa tahun terakhir.
Advertisement
Hubungan antara pemerintah China dan Filipina saat ini sangat tegang akibat sengketa klaim wilayah maritim di Laut China Selatan, yang hampir seluruhnya diklaim oleh China. China telah menggunakan meriam air dan alat pencegah lain yang tidak mematikan dari atas kapal untuk mengusir kapal-kapal nelayan Filipina.
Kantor Komunikasi Kepresidenan Filipina seperti dilansir AP mengatakan pada Jumat bahwa China memiliki hak untuk mengeluarkan imbauan semacam itu, namun pada saat bersamaan menekankan bahwa tingkat kriminalitas di Filipina telah menurun.
"Keamanan serta keselamatan di Filipina, bisa kami katakan, sejauh yang kami ketahui, semakin membaik," sebut Kantor Komunikasi Kepresidenan Filipina.
Kantor Komunikasi Kepresidenan Filipina menambahkan bahwa tanggapan polisi terhadap kekhawatiran publik soal kejahatan berlangsung cepat. Kejahatan yang dipicu oleh judi online ilegal yang melibatkan warga China telah menurun atau bahkan sudah diberantas dan banyak tersangka warga negara China telah dideportasi.
Peringatan Serupa di Negara Berbeda
Pada Februari, seorang pelajar China berusia 14 tahun diculik di Manila oleh kelompok kriminal yang dipimpin warga negara China. Kelompok itu membunuh sopir dan memotong jari sang pelajar dalam upaya memaksa orang tuanya membayar uang tebusan dalam jumlah besar.
Menteri dalam negeri Filipina mengatakan bahwa keluarga pelajar tersebut dan pemimpin kelompok penculiknya diduga merupakan mantan operator bisnis judi online.
Secara politik, China menolak keputusan pengadilan internasional yang didukung PBB di Den Haag yang membatalkan sebagian besar klaim China di Laut China Selatan. China juga menyatakan ketidaksenangannya atas hubungan erat antara Amerika Serikat (AS) dan Manila.
Pada April, China mengeluarkan peringatan serupa tentang risiko yang dihadapi pelajar China di Amerika Serikat.