Peretas Bobol Sistem BigONE, Curi Jutaan Dolar Bitcoin dan Ethereum

Bursa kripto BigONE diretas hingga rugi USD 27 juta akibat celah di dompet panas. Dana pengguna dijamin aman, sementara pelaku terus dilacak. Insiden ini terjadi tak lama setelah peretasan GMX senilai USD 42 juta.

oleh Arthur GideonDiperbarui 18 Juli 2025, 20:08 WIB
Ilustrasi peretas atau cyber hacker internet atau kripto. (Foto by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa aset kripto BigONE mengonfirmasi telah mengalami pelanggaran keamanan serius yang menargetkan infrastruktur dompet panas (hot wallet) mereka, menyebabkan kerugian senilai sekitar USD 27 juta.

Insiden ini pertama kali diungkap oleh platform keamanan blockchain SlowMist pada 16 Juli 2025.

Menurut laporan SlowMist, dikutip dari cryptopotato, Kamis (17/7/2025), jaringan produksi BigONE telah disusupi, dan pelaku berhasil memodifikasi logika operasional akun serta server kontrol risiko, yang memungkinkan mereka menarik dana tanpa terdeteksi.

BigONE membenarkan adanya pelanggaran setelah sistem pemantauan real-time mereka mendeteksi aktivitas aset yang tidak biasa. Serangan ini diketahui dilakukan oleh pihak ketiga. Namun, BigONE menegaskan bahwa seluruh kunci pribadi (private key) pengguna tetap aman dan jalur serangan telah ditutup untuk mencegah kerugian lebih lanjut.

Adapun dana yang dicuri mencakup:

  1. 120 Bitcoin (BTC)
  2. 350 Ethereum (ETH)
  3. Lebih dari 8 juta USDT yang tersebar di empat jaringan blockchain.

BigONE menyatakan tengah bekerja sama dengan SlowMist untuk melacak alamat dompet pelaku dan memantau pergerakan dana curian.

Ganti Rugi dan Pemulihan Layanan

Dalam pernyataannya, BigONE berkomitmen untuk mengganti seluruh kerugian pengguna dengan menggunakan dana cadangan keamanan internal. Mereka memastikan bahwa aset pengguna tidak akan terdampak selama penyelidikan berlangsung.

Setelah sempat menangguhkan layanan, BigONE kini telah memulihkan aktivitas deposit dan perdagangan. Eksekutif BigONE, Alex Ash, mengatakan:

"Pembaruan sistem telah berhasil diselesaikan. Layanan deposit dan perdagangan kini telah dipulihkan sepenuhnya, dan Anda dapat masuk melalui Web atau Aplikasi untuk melanjutkan transaksi. Terima kasih atas kesabaran dan dukungan Anda."

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Kritik dari Komunitas Kripto

Ilustrasi peretas atau cyber hacker internet atau kripto. (Foto by AI)

Detektif blockchain ZachXBT menanggapi dingin insiden ini. Ia mengaku tidak simpati terhadap BigONE dan menuduh bursa tersebut memfasilitasi penipuan, seperti scam asmara, investasi palsu, dan praktik “penyembelihan babi”.

Menurut ZachXBT, jika bursa kripto luar negeri lainnya seperti MEXC atau KuCoin juga diretas dan kehilangan dana besar, hal itu bisa menjadi "pembersihan alami" di industri kripto — tanpa harus menunggu intervensi dari regulator pemerintah.

 

Peretasan GMX: Kasus Lain yang Menggemparkan

Ilustrasi peretas atau cyber hacker internet atau kripto. (Foto by AI)

Insiden BigONE terjadi hanya beberapa hari setelah platform perdagangan terdesentralisasi GMX juga diretas dengan kerugian mencapai USD 42 juta. Menariknya, peretas mengembalikan USD 40,5 juta dalam waktu kurang dari 48 jam.

Eksploitasi terjadi akibat celah reentrancy dalam kontrak pintar GMX V1, yang memungkinkan manipulasi harga token GLP untuk menguras dana. Peretas kemudian menjembatani token dari Arbitrum ke Ethereum.

GMX menawarkan hadiah 10% dari dana curian kepada pelaku sebagai bagian dari kesepakatan. Sang peretas menerima tawaran itu, dan meraup untung sekitar USD 4,5 juta.

GMX menegaskan bahwa protokol versi V2 tidak terpengaruh oleh serangan tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya