Liputan6.com, Aceh Selatan - Di sebuah sudut dapur sederhana di Aceh Selatan, aroma kelapa sangrai yang berpadu dengan rempah khas Aceh perlahan memenuhi udara. Di balik wangi itu, tangan-tangan terampil para ibu sibuk mengaduk kelapa parut dalam wajan besar yang masih menggunakan tungku kayu. Bukan sekadar memasak, inilah bagian dari perjuangan mereka untuk bertahan hidup dan kembali bangkit.
Mereka adalah para ibu kepala keluarga, sebagian di antaranya pernah terdampak konflik Aceh di masa lalu. Kini, lewat sebuah komunitas bernama Kopeka (Komunitas Pejuang Kemakmuran) mereka menemukan jalan baru untuk menghidupi keluarga.
Advertisement
Kopeka didirikan oleh dua pemuda Aceh, Ahmad Baizalwi dan Said Munawir, yang ingin menciptakan ruang bagi perempuan-perempuan ini agar berdaya secara ekonomi.
“Kelapa itu bukan sekadar buah di sini. Ia adalah sumber hidup,” tutur Erna, salah satu ibu yang terlibat dalam program Kopeka. Di pesisir Aceh Selatan, kelapa memang menjadi komoditas utama setelah pala.
Salah satu olahan tradisionalnya adalah kelapa gongseng, bumbu dasar dalam masakan seperti rendang, gulai kari kambing, dan sayur khas Aceh.
Namun, proses mengolah kelapa gongseng ini bukan perkara mudah. Dari mulai mengupas kelapa tua dengan “sundak U”, menumbuk kelapa parut memakai “leusong” hingga menyangrai kelapa di atas tungku kayu—semuanya masih dilakukan secara manual.
Skala produksinya kecil, terbatas pada dapur-dapur rumah. “Selama ini ibu-ibu seperti kami sulit berkembang. Alat terbatas, pasar juga belum banyak yang tahu,” ujar Erna, matanya menatap api di tungku yang perlahan mengecil.
Inilah yang mendorong Kopeka untuk hadir, bukan hanya sebagai pendamping, tetapi sebagai jembatan yang menghubungkan potensi lokal dengan dunia yang lebih luas.
Menurut Said Munawir, Kopeka berupaya mengembangkan produk turunan lain dari komoditas unggulan Aceh Selatan seperti pala, kelapa, kopi, dan nilam.
Bukan hanya itu, Kopeka juga membuka peluang kerjasama dengan mitra luar agar UMKM lokal ini mendapat akses pasar yang lebih luas serta pelatihan manajemen usaha yang selama ini kurang tersentuh.
Di balik wajan-wajan besar dan aroma kelapa sangrai, ada harapan yang perlahan menghangat ibu-ibu yang tak lagi hanya bertahan, tapi mulai melangkah lebih jauh.
Mereka bukan lagi sekadar tangan-tangan di dapur, melainkan pejuang yang menghidupkan tradisi dan masa depan sekaligus.
A. Baizalwi