Liputan6.com, Jakarta - Amerika Serikat (AS) mencatat peningkatan inflasi pada Juni 2025 yang didorong kenaikan biaya energi.
Melansir Channel News Asia, Rabu (16/7/2025) inflasi harga konsumen (IHK) AS mencapai 2,7% secara tahunan pada Juni 2025, naik dari 2,4% yang tercatat pada Mei.
Advertisement
Rilis laporan dari Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan, naiknya inflasi pada Juni didorong oleh kenaikan biaya energi.
Inflasi AS yang tidak termasuk segmen pangan dan energi, atau inflasi inti menyentuh 2,9% pada Juni, naik hingga 0,1% dari Mei 2025.
Secara khusus, perabot rumah tangga dan pakaian jadi mengalami kenaikan biaya, dan keduanya merupakan segmen yang dicermati para ahli karena lebih rentan terhadap tarif.
Kenaikan inflasi AS pada Juni 2025 sekaligus menandakan perusahaan mulai membebankan biaya impor yang lebih tinggi kepada pelanggan.
Namun, biaya kendaraan baru dan bekas di AS menurun pada Juni. Secara keseluruhan, inflasi AS naik 0,3% pada Juni dibandingkan bulan sebelumnya, meningkat dari kenaikan 0,1% pada Mei 2025.
Meskipun Trump mengenakan tarif 10% pada hampir semua mitra dagangnya, serta mengenakan bea masuk yang lebih tinggi pada impor baja, aluminium, dan otomotif, para pejabat AS telah menepis perkiraan langkah tersebut dapat memicu kenaikan inflasi.
Presiden AS Donald Trump menyatakan dalam sebuah unggahan di platform Truth Social inflasi konsumen AS tetap rendah. Ia juga mendesak agar suku bunga The Federal Reserve (the Fed) diturunkan. "Turunkan Suku Bunga The Fed, SEKARANG!!!,” tulisnya.
Ekonom Ingatkan Turbulensi pada Inflasi AS Buntut Tarif Dagang
Beberapa ekonom memperingatkan kenaikan tarif dapat memicu inflasi dan membebani pertumbuhan ekonomi.
"Biaya tarif terlihat jelas dalam data IHK bulan Juni," kata kepala ekonom AS di Pantheon Macroeconomics, Samuel Tombs dalam sebuah catatan.
"Harga naik tajam terutama untuk barang-barang yang sebagian besar diimpor, dan lebih lambat untuk barang-barang yang sebagian besar dibuat di AS," tambahnya.
Ini termasuk peralatan rumah tangga, peralatan olahraga, dan mainan, meskipun produk-produk lainnya seperti ponsel menjadi pengecualian.
Dampak Besar Akan Muncul Bertahap?
Meskipun inflasi umum tidak menunjukkan lonjakan besar hanya dari tarif, ekonom Nationwide, Oren Klachkin, memperingatkan dampak penuhnya mungkin masih terlalu dini untuk dilihat.
Ekonom juga mengingatkan harga konsumen dapat naik lebih jauh akibat bea masuk yang lebih tinggi ini, dan karena pengecualian untuk barang-barang seperti farmasi dan semikonduktor pada akhirnya dapat berakhir.
Para analis dan pembuat kebijakan Federal Reserve sedang memantau apakah tarif Trump akan memicu kenaikan inflasi lebih dari satu kali atau menyebabkan inflasi yang lebih persisten.
"Kenaikan harga akan mempersulit The Fed untuk memangkas suku bunga dan mempersulit keluarga yang hidup dari gaji ke gaji," kata Ekonom di Navy Federal Credit Union, Heather Long.