Liputan6.com, Kyiv - Kyiv kembali diguncang insiden berdarah. Seorang agen Dinas Keamanan Dalam Negeri Ukraina (SBU) ditembak mati di siang bolong ketika berada di area parkir, usai didekati oleh seorang pria tak dikenal yang langsung melarikan diri setelah melepaskan tembakan.
Meski pihak SBU tidak secara resmi mengungkap identitas korban, sejumlah media Ukraina menyebut korban adalah Kolonel Ivan Voronych, dikutip dari laman BBC, Senin (14/7/2025).
Advertisement
Dalam rekaman CCTV yang tersebar luas, terlihat seorang pria mengenakan celana jins dan kaus oblong gelap keluar dari sebuah gedung di distrik Holosiivskyi, Kyiv selatan, sekitar pukul 09.00 waktu setempat pada Kamis, 10 Juli 2025.
Saat hendak menuju mobil sambil membawa kantong plastik dan tas, tiba-tiba seorang pria lain berlari ke arahnya dan menembaknya lima kali dengan pistol, menurut laporan Ukrainska Pravda yang mengutip sumber anonim.
Kepolisian Kyiv hanya mengatakan pihaknya menemukan jasad pria dengan luka tembak dan kini tengah mengidentifikasi pelaku serta mengambil langkah-langkah untuk menangkapnya.
“Petugas sedang berupaya mengidentifikasi pelaku dan mengambil tindakan untuk menahannya,” demikian pernyataan polisi Kyiv.
Sementara itu, SBU menyebut pihaknya telah mengambil berbagai langkah komprehensif guna mengungkap semua detail kejahatan ini dan membawa pelakunya ke pengadilan.
SBU yang sejatinya berfokus pada keamanan dalam negeri dan kontraintelijen — mirip MI5 di Inggris — sejak invasi besar-besaran Rusia pada 2022 juga berperan aktif dalam operasi sabotase serta serangan mematikan di wilayah Rusia.
Sumber-sumber di internal SBU bahkan mengonfirmasi kepada media bahwa mereka berada di balik kematian Jenderal Rusia Igor Kirillov pada Desember 2024. Awal tahun ini, Jenderal Yaroslav Moskalik juga tewas akibat bom mobil di Moskow, insiden yang langsung dituduhkan Kremlin sebagai ulah Kyiv. Namun, otoritas Ukraina tak pernah secara terbuka mengakui keterlibatan mereka.
Belum Ada Laporan Motif Kejadian
Hingga kini, baik SBU maupun polisi Kyiv belum membeberkan kemungkinan motif di balik penembakan Kolonel Voronych.
Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah Ukraina digempur salah satu serangan udara terbesar Rusia sejak perang dimulai. Pada Selasa lalu, Presiden Volodymyr Zelensky menyebut Rusia melancarkan serangan massif dengan mengerahkan 728 drone serta 13 rudal jelajah dan balistik yang menghantam kota-kota di seluruh Ukraina.
Serangan lanjutan pada Rabu malam hingga Kamis dini hari juga mengguncang Kyiv. Setidaknya dua orang tewas dan 16 lainnya luka-luka ketika 18 rudal dan 400 drone menghantam delapan distrik berbeda di ibu kota. Rusia kembali dituduh sengaja menargetkan wilayah sipil.
Sementara di garis depan, pasukan Rusia terus bergerak maju perlahan di Ukraina timur. Mereka juga berhasil merebut kembali sebagian wilayah Kursk Rusia yang sempat direbut Ukraina dalam serangan kilat musim panas lalu. Saat ini, Moskow menguasai sekitar seperlima wilayah Ukraina, termasuk Krimea yang dicaplok sejak 2014.
Upaya menegosiasikan gencatan senjata dalam perang yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun sejauh ini belum menemui titik terang. Di tengah situasi yang makin tegang, Presiden AS Donald Trump dikabarkan semakin kehilangan kesabaran terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin.