Liputan6.com, Jakarta - Sekitar 15 rumah susun atau rusun yang telah dibangun pemerintah dalam kondisi terbengkalai. Rumah susun itu tersebar di Sulawesi, Lampung, Palembang, Sumatera Selatan, Sumatera Utara dan sebagainya.
Seiring hal itu, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (Kementerian PKP) menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mendalami 15 rusun tersebut.
Advertisement
Inspektur Jenderal Kementerian PKP Heri Jerman mengatakan fokus Inspektorat Jenderal (Itjen) itu adalah rusun yang dibangun oleh pemerintah seperti rusun untuk ASN, rusun untuk kelompok-kelompok masyarakat, rusun untuk pendidikan.
"Memang ada yang terbengkalai. Saya inventarisir itu ada 15 rusun, dan dari 15 rusun itu kami akan turun bersama KPK," tutur Heri di Jakarta, Jumat, (11/7/2025), seperti dikutip dari Antara.
Apakah ada unsur fraud, penyimpangan atau tidak, ia menuturkan, karena memang rusun-rusun yang terbengkalai tersebut sudah lama-lama di mana rata-rata ada yang 2015 atau sudah puluhan tahun mangkrak.
15 rusun tersebut tersebar di Sulawesi, Lampung, Palembang, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan sebagainya.
Ada banyak hal yang menyebabkan rusun-rusun tersebut mangkrak misalnya saat diserahterimakan penerima menolak rusun karena ada kekurangan sehingga tidak bisa dimanfaatkan, atau ada yang memang ketika mau diserahkan tetapi yayasan sekolahnya bubar sehingga tidak bisa diserahterimakan begitu saja.
Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut) menerima laporan pemeriksaan Inspektorat Jenderal (Irjen) Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) dugaan korupsi pembangunan rumah susun pada tiga kabupaten di Sumut dengan potensi kerugian negara sementara Rp6,5 miliar.
Laporan temuan dugaan korupsi itu diserahkan langsung kepada Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Sumut Muttaqin Harahap SH MH.
Pihaknya mengatakan temuan tersebut berkaitan dengan proyek pembangunan rumah susun tersebar di tiga kabupaten, yakni Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara dan Deli Serdang.
Sekretaris Itjen Kementerian PKP Dian Fris Nalle menyebutkan penyerahan laporan ini sejalan dengan komitmen Menteri PKP Maruarar Sirait mewujudkan kementerian yang bersih dan bebas korupsi.
Fahri Hamzah Usul Bentuk Lembaga Khusus Penyalur Rumah Subsidi, Disebut "Bulog Papan"
Sebelumnya, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Fahri Hamzah, mengusulkan pembentukan lembaga khusus untuk menyalurkan rumah subsidi melalui skema Public Service Obligation (PSO) tanpa orientasi keuntungan.
Usulan ini disampaikan sebagai upaya menekan harga rumah subsidi agar lebih terjangkau bagi masyarakat.
Menurut Fahri, Indonesia memerlukan lembaga seperti Perum Bulog, tetapi difokuskan pada sektor perumahan. Ia menyebut lembaga ini sebagai “Bulog Papan”, yang bertugas menjadi off-taker dalam distribusi rumah subsidi.
Wamen Fahri mencontohkan negara seperti Singapura dan Turki yang telah berhasil mengelola sektor perumahan rakyat melalui peran aktif negara.
Meski saat ini sudah ada Perum Perumnas yang memiliki tugas serupa, Fahri menilai kinerjanya belum optimal.
"Tapi gara-gara Perumnas mungkin cari untung terlalu banyak begitu ya, lama-lama dia tinggalkan perumahan rakyat,” ujarnya.
Bisa memangkas Harga Rumah Subsidi
Fahri menegaskan, keberadaan lembaga non-profit seperti yang diusulkan dapat memangkas harga rumah subsidi secara signifikan. Terlebih, pemerintah saat ini sudah berkontribusi melalui penyediaan lahan dalam program 3 juta rumah.
"Kalau sudah tinggal biaya konstruksi berarti tinggal 50 persen harganya, kalau sudah 50 persen enggak perlu subsidi lagi. Tapi bisa juga dikasih subsidi kalau pemerintahnya mau,” ujarnya.
Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi kesuksesan Singapura atas berbagai kebijakannya dalam mengelola negara. Untuk itu, Pemerintah RI bakal mengadaptasikan beberapa kebijakan Singapura, semisal dalam membangun rumah dan mengelola dana kekayaan negara (Sovereign Wealth Fund/SWF).