Bank DBS Indonesia Hadirkan Pembiayaan Inovatif & Inklusif untuk Ekonomi Hijau

Bank DBS Indonesia hadir sebagai katalis dalam pembangunan ekonomi hijau melalui pendekatan holistik mencakup pembiayaan berkelanjutan dan produk perbankan yang bertanggung jawab.

oleh Gilar RamdhaniDiperbarui 18 Juli 2025, 15:53 WIB
(Ki-ka) Head of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia Anthonius Sehonamin; Menteri Investasi dan Hilirisasi/CEO Danantara Rosan Roeslani; Utusan Khusus Presiden RI Bidang Iklim dan Energi Hashim S. Djojohadikusumo; Ekonom Indonesia dan Mantan Menteri Keuangan (2013-2014) Chatib Basri; dan Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia Lim Chu Chong pada acara DBS Asian Insights Conference 2025: Growth in a Changing World. (Foto: DBS Indonesia).

Liputan6.com, Jakarta Bank DBS Indonesia dengan visi menjadi ‘Best Bank for A Better World’ berkomitmen penuh untuk mencapai net zero paha tahun 2050. Komitmen ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi diimplementasikan melalui strategi bisnis yang terstruktur, termasuk dalam kebijakan pembiayaan dan investasi. Bank DBS Indonesia telah menetapkan tiga pilar berkelanjutan, yakni Responsible Banking, Responsible Business Practices dan Impact Beyond Banking.

Dalam pilar Responsible Banking, Bank DBS menciptakan produk perbankan yang selaras dengan portofolio bisnis dengan tujuan keberlanjutan. Sejumlah inisiatif adalah pembiayaan responsible financing, investasi berbasis ESG, dan inklusi finansial.

Pembiayaan Berkelanjutan untuk Ekonomi Hijau

Dalam kaitannya dengan pilar responsible banking, Bank DBS Indonesia secara konsisten mendorong pembiayaan berkelanjutan sebagai bagian dari komitmennya terhadap transisi menuju ekonomi hijau. Pendekatan ini diwujudkan melalui penyaluran dana ke sektor-sektor yang mendukung tujuan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), termasuk energi terbarukan, transportasi rendah karbon, pengelolaan limbah, dan infrastruktur hijau.

Princeton Digital Group (PDG).

Salah satu contoh pembiayaan hijau yang dilakukan Bank DBS adalah dukungannya terhadap pembangunan data center ramah lingkungan oleh Princeton Digital Group (PDG). Data center ini dirancang dengan efisiensi energi tinggi dan memanfaatkan sumber energi terbarukan guna menekan jejak karbon. Bank DBS memberikan fasilitas pinjaman berkelanjutan (green loan) kepada PDG yang memenuhi standar taksonomi hijau, mencakup penggunaan teknologi pendingin hemat energi dan sistem manajemen daya yang berkelanjutan.

Contoh komitmen lainnya adalah dengan memberikan fasilitas pembiayaan hijau senilai USD 15 juta bekerja sama dengan Asian Development Bank (ADB) dan Australian Climate Finance Partnership (ACFP). Dana ini disalurkan melalui PT Electrum untuk mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik roda dua di Indonesia, termasuk penyediaan sepeda motor listrik dan infrastruktur pengisian daya atau battery swapping station. Ini membantu mengurangi emisi dari sektor transportasi dan mendorong transisi energi bersih.

Pembiayaan hijau yang dilakukan Bank DBS Indonesia, termasuk untuk kendaraan Listrik, data center maupun dan fasilitas Indorama, turut mendukung konektivitas ekonomi dan lingkungan antara Indonesia, Singapura, India, dan Tiongkok. Sebagai bank yang memiliki akar kuat di Asia, Bank DBS menjembatani aliran investasi berkelanjutan, teknologi bersih, dan inovasi lintas batas. Proyek seperti pengembangan ekosistem EV dan infrastruktur industri rendah karbon memperkuat integrasi rantai pasok hijau regional, sekaligus mendorong kedua negara menuju komitmen net-zero yang selaras.

Berkat dedikasinya dalam mengintegrasikan keberlanjutan dalam budaya organisasi, operasional hingga portfolio penghargaan, telah mengantarkan Bank DBS Indonesia untuk meraih penghargaan internasional di antaranya:

  • Euromoney Awards for Excellence 2024 dalam kategori Indonesia’s Best Bank for ESG
  • Global Finance Sustainable Finance Awards 2025 dalam kategori Best Bank for Sustainable Finance
  • Finance Asia Finance Asia Awards 2025 untuk kategori Best Sustainable Bank – Indonesia

Inovasi Produk Berbasis ESG

Ilustrasi ESG. (ramirezom/depositphoto)

Selain produk investasi berbasis ESG seperti reksa dana dan obligasi, Bank DBS Indonesia juga memiliki Spark Saving, sebuah inovasi tabungan berbasis ESG yang tidak hanya mendorong kebiasaan menabung secara berkelanjutan, tetapi juga memungkinkan nasabah untuk berkontribusi langsung pada dampak sosial. Setiap dana yang disisihkan dari hasil bunga tabungan otomatis akan mendukung program pendidikan di daerah pedalaman melalui Yayasan Tangan Pengharapan dan sebelumnya melalui Krakakoa untuk membantu pemberdayaan petani cokelat lokal. Produk ini mencerminkan komitmen Bank DBS Indonesia untuk menggabungkan tujuan finansial pribadi dengan aksi sosial dan lingkungan yang nyata.

Sejak tahun 2021, Spark Saving telah berhasil menyalurkan Rp1,54 miliar untuk meningkatkan kesejahteraan petani cokelat di Sumatera dan Sulawesi dan Rp1,35 miliar untuk meningkatkan program pendidikan bagi anak-anak di pelosok pedalaman Indonesia Timur.

Ecosystem Lending Dorong Inklusi Finansial pada Segmen Unbanked

Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia Lim Chu Chong (kiri) dan Managing Director and Group Chief Financial Officer of Indorama Vishnu Baldwa saat menandatangani fasilitas kredit berbasis keberlanjutan Sustainability-Linked Trade Facility (SLTF) antara PT Indo-Rama Synthetics Tbk (Indorama) dengan PT Bank DBS Indonesia di Jakarta. (Foto: Bank DBS Indonesia).

Model ecosystem lending memberikan kontribusi signifikan terhadap inklusi keuangan menjangkau segmen masyarakat yang sebelumnya tidak terlayani oleh layanan perbankan. Bank DBS Indonesia berkolaborasi dengan sejumlah perusahaan multifinance dan platform fintech untuk memperluas akses pembiayaan, didukung oleh sistem digital yang efisien sehingga mempercepat proses penyaluran dana.

Kolaborasi ini tidak hanya mendorong inklusi keuangan bagi generasi muda, tetapi juga meningkatkan literasi finansial digital. Sejak 2019 hingga akhir 2024, Bank DBS Indonesia telah menyalurkan lebih dari Rp30 triliun kepada masyarakat Indonesia melalui skema ecosystem lending. Secara keseluruhan, model ini turut mendorong pertumbuhan sektor konsumtif yang menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi nasional.

 

(*)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya