Indonesia Siap Jalankan Program B50 pada 2026, Bakal Untung atau Rugi?

Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Sahat Sinaga menilai, Indonesia saat ini idealnya masih berada di level B20 untuk implementasi program biodiesel.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiperbarui 05 Juli 2025, 17:50 WIB
Sampel biodiesel B0, B20, B30, dan B100 dipamerkan saat uji jalan Penggunaan Bahan Bakar B30 untuk kendaraan bermesin diesel di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (13/6/2019). (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Sahat Sinaga, mempertanyakan program BBM Solar dengan campuran 50% bahan bakar nabati, atau biodiesel (B50) yang bakal mulai diterapkan awal 2026.

Dari sisi ketersediaan bahan, ia tidak mempermasalahkan lantaran Indonesia dikaruniai banyak kelapa sawit. Namun, Sahat meminta pemerintah turut mempertimbangkan keuntungan ekonomi dari padanya. 

"Dari volume realistis, tapi menguntungkan enggak? Itu pertanyaan kedua. Itu yang perlu dikaji," kata Sahat saat ditemui di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu (5/7/2025).

Sebagai gambaran, ia menghitung ongkos pengadaan bahan bakar untuk mesin diesel, yang berasal dari energi fosil dengan rentang harga USD 68-70 per barel. Jika diproduksi dalam bentuk Solar, harga keekonomiannya menjadi USD 72 per barel. 

"Sekarang sawit berapa? USD 870 per ton. Untuk jadi biodiesel tambah USD 85, jadi USD 955 per ton. USD 955 per ton dikali dengan 0,879, itu kira-kira USD 1.100 per kubik meter. Dibagi 6,2 untuk ke barel, itu USD 120-130. Mana yang lebih menguntungkan bagi Indonesia?" bebernya. 

Menurut dia, Indonesia saat ini idealnya masih berada di level B20 untuk implementasi program biodiesel. "Habis itu tergantung daripada market," imbuhnya. 

 

Diminta Contoh Brasil

Sampel biodiesel B0, B20, B30, dan B100 dipamerkan saat uji jalan Penggunaan Bahan Bakar B30 untuk kendaraan bermesin diesel di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (13/6). (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Untuk menjalankan program biodiesel, Sahat meminta pemerintah mengikuti pola Brasil dalam mengembangkan bioetanol, sebagai bahan bakar nabati (BBN) yang bisa dicampurkan dalam BBM. 

Sahat menyebut Brasil sukses memanfaatkan tebu (bahan baku utama bioetanol) sesuai dengan kondisi pasar. Selain untuk BBN, Brasil juga bisa mengoptimalkan tebu untuk memproduksi gula. 

"Harusnya kita coba mengikuti pola Brasil. Brasil menggunakan bahan bakar kan bensin. Tapi bensin juga bisa diganti dengan etanol. Pada saat harga bensin tinggi, dia tidak bikin gula, dia bikin etanol. Tapi persis minyak ini turun, dia pakai gula aja sebagai bahan bakar," ungkapnya.

 

Bakal Dimulai Awal 2026

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, Pertamina telah menyiapkan sistem scan QR Code untuk pembelian BBM Pertalite (RON 90) di jalur mudik Lebaran 2025.

Sebelumnya, Wakil Menteri SDM Yuliot Tanjung memastikan program B50 bakal mulai diterapkan di awal 2026. Berdasarkan hasil evaluasi, Yuliot mengklaim program B40 yang sudah berjalan sukses diimplementasikan dengan baik. Baik yang bersifat public service obligation (PSO) maupun non PSO. 

Kementerian ESDM juga tengah mempersiapkan evaluasi untuk ketersediaan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) untuk pencampuran bahan bakar B50.

"Kita udah mau siap untuk masuk di B50 tahun depan. Jadi untuk B50 tahun depan ya mudah-mudahan daripada awal tahun itu kita sudah bisa tetapkan," ujar Yuliot di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, beberapa waktu lalu. 

 

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya