Musikal Karya untuk Negeri: Suara Kritis di Balik Layar Seni Pertunjukan

Musikal Karya untuk Negeri mengangkat isu korupsi dalam seni pertunjukan, menggugah kesadaran generasi muda.

oleh Aditia SaputraDiterbitkan 04 Juli 2025, 17:00 WIB
Film pendek musikal berjudul “Karya Untuk Negeri”

Liputan6.com, Jakarta Industri seni pertunjukan Indonesia mengalami perkembangan yang pesat dengan munculnya berbagai komunitas teater dan pertunjukan musikal. Namun, di balik kemeriahan ini, terdapat tantangan serius yang dihadapi para seniman, yaitu praktik korupsi yang menghambat kreativitas mereka. Ketua KPK, Nawawi Pomolango, mengungkapkan bahwa selama lima bulan pertama tahun 2024, KPK menangani 93 kasus korupsi dengan 100 tersangka, menunjukkan betapa seriusnya masalah ini.

Mahasiswa Program Studi Performing Arts Communication dari LSPR Institute of Communication and Business merasa perlu menyuarakan isu ini melalui karya seni. Mereka menciptakan film pendek musikal berjudul “Karya Untuk Negeri”, yang diproduksi oleh Waka Waka Production. Film ini mengisahkan perjuangan Diandra, seorang seniman muda, dalam menggelar pertunjukan teater di tengah birokrasi korup dan dilema moral.

Film berdurasi 45 menit ini melibatkan 20 cast dan 60 crew profesional, serta ditayangkan perdana di CGV Central Park, Jakarta, pada 3 Juli 2025. Dalam acara tersebut, 300 tamu undangan menyaksikan bagaimana Diandra berjuang melawan sistem yang tidak adil, terutama saat kekasihnya, Adrian, seorang jurnalis, menyarankan agar mereka berkompromi dengan sistem demi kelangsungan pertunjukan.


Perjuangan di Balik Pembuatan Musikal

Film pendek musikal berjudul “Karya Untuk Negeri”

Amelia Angeliqa Hadinata, penulis dan sutradara “Karya Untuk Negeri”, menjelaskan bahwa proses pembuatan film ini melibatkan banyak pihak dan penuh perjuangan. “Bagi kami, karya ini bukan sekadar tugas akhir, tetapi bentuk nyata dari cinta kami terhadap seni,” ungkapnya. Film ini juga menjadi medium kolaboratif yang inklusif, melibatkan anak-anak dari Taman Anak Pesisir yang sering tampil dalam pertunjukan teater jalanan.

Di bawah pendampingan Aceng Gimbal, pendiri Yayasan Sanggar Seni Trotoar, anak-anak ini berkontribusi dalam film yang mengangkat isu sosial. Amelia menekankan pentingnya memberikan ruang bagi generasi muda untuk bersinar dan berkontribusi dalam industri kreatif. “Kami ingin industri kreatif di Indonesia bertumbuh dan dihargai,” tambahnya.

Dosen pembimbing, Mikhael Yulius Cobis, M.Si., M.M, menilai bahwa karya ini lahir dari proses panjang yang melibatkan kedewasaan berpikir dan kemampuan bekerja dalam tim. “Saya berharap karya ini bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkarya dan memperjuangkan ruang kreatif yang inklusif,” ujarnya.

Lanjut Baca:

“Karya Untuk Negeri” bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga sebuah pernyataan sosial yang menyoroti realitas pahit di balik layar industri seni. Film ini menggugah penonton untuk mempertanyakan apakah karya seni harus tunduk pada sistem yang tidak adil. Melalui narasi Diandra dan Adrian, penonton diajak untuk merenungkan dilema moral yang dihadapi para seniman muda. Film ini berfokus pada tema-tema penting seperti korupsi dan birokrasi yang menyulitkan, serta bagaimana hal tersebut berdampak pada kreativitas seniman. Dengan mengangkat isu ini, “Karya Untuk Negeri” berusaha menyuarakan perubahan dan memberikan suara bagi mereka yang terpinggirkan dalam industri seni. Film ini akan dipublikasikan secara luas melalui platform digital seperti YouTube dan Spotify, agar dapat dinikmati oleh masyarakat luas, khususnya generasi muda dan komunitas seni di seluruh Indonesia. Dengan cara ini, diharapkan pesan yang terkandung dalam film ini dapat menjangkau lebih banyak orang dan menginspirasi perubahan positif.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya