Jelang Tenggat 8 Juli, Indonesia Tunggu Respons AS soal Negosiasi Tarif Dagang

Indonesia telah mengajukan penawaran lanjutan ke AS dalam negosiasi tarif dagang. Jelang tenggat 8 Juli, pemerintah menunggu respons Washington di tengah dinamika kebijakan Donald Trump.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 02 Juli 2025, 13:15 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat rapat koordinasi, Jumat, (23/5/2025). (Foto: ekon.go.id)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Indonesia tengah menanti tanggapan dari Amerika Serikat (AS) terkait kelanjutan negosiasi tarif resiprokal yang diberlakukan Presiden Donald Trump.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia telah menyampaikan penawaran lanjutan atau second offer, yang kini tengah dikaji oleh United States Trade Representative (USTR).

"Indonesia sudah memberikan second offer, seperti yang saya sudah sampaikan, dan second offer ini sudah diterima oleh USTR dan sudah di-review. Tentu, Indonesia tinggal menunggu feedback, apakah masih ada tanggapan tambahan terkait proses negosiasi yang ada," ujar Airlangga di Jakarta, Rabu (2/7/2025).

Penawaran ini merupakan bagian dari upaya menjelang batas waktu negosiasi yang akan berakhir pada 8 Juli 2025, tepat 90 hari sejak Presiden Trump mengumumkan kebijakan tarif baru terhadap negara mitra dagang utama, termasuk Indonesia.

Airlangga menyebut pemerintah telah menyepakati sejumlah permintaan dari pihak AS, termasuk penyesuaian tarif dan penghapusan hambatan dagang tertentu. Bahkan, komunikasi langsung telah dilakukan dengan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang menurut Airlangga memberikan apresiasi atas tawaran Indonesia.

 

Bergantung AS

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat rapat koordinasi, Jumat, (23/5/2025). (Foto: ekon.go.id)

Namun demikian, keputusan akhir tetap bergantung pada proses internal pemerintah AS, yang mencakup koordinasi lintas lembaga seperti USTR, Departemen Perdagangan, dan Departemen Keuangan.

Airlangga menambahkan bahwa tim negosiator Indonesia kini bersiaga di Washington dan Tiongkok, menanti perkembangan terbaru dari pihak AS.

"Saat sekarang, tim Indonesia standby di Washington dan di China. Kita tunggu saja bagaimana pemerintah Amerika merespons. Hari ini mereka sedang sibuk urusan anggaran, peak budget itu sampai tanggal 4 Juli. Jadi, mungkin sesudah itu baru masalah tarif ini bisa dibahas lebih lanjut," jelasnya.

 

Menyeimbangkan Neraca Perdagangan

Sebagai catatan, pengenaan tarif 32 persen yang diberlakukan pemerintah AS ke Indonesia ditujukan untuk menyeimbangkan neraca perdagangan antara kedua negara.

Meski demikian, Airlangga menegaskan bahwa hasil akhir negosiasi masih bersifat dinamis, terutama karena banyak negara lain yang juga tengah melakukan proses serupa dengan Washington.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya