Liputan6.com, Jakarta Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari Senin pagi. Kurs rupiah loyo sebesar 2 poin atau 0,01 persen menjadi 16.197 per dolar AS dari sebelumnya 16.195 per dolar AS.
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra memperkirakan nilai tukar (kurs) rupiah menguat seiring respons positif pasar terhadap meredanya ketegangan di Timur Tengah dengan adanya gencatan senjata antara Iran dengan rezim Israel.
Advertisement
“Pasar masih menanggapi positif meredanya ketegangan di Timur Tengah dengan adanya gencatan senjata antara Israel dan Iran yang dimediasi oleh AS (Amerika Serikat),” ujarnya dikutip dari Antara, Senin (30/6/2024).
Pada pagi ini, pasar saham regional Asia yang terlihat cukup positif menandakan nilai tukarnya menguat terhadap dolar AS. Hal ini mengindikasikan minat pasar terhadap risiko yang cukup baik, antara lain dipengaruhi gencatan senjata Iran dengan rezim Israel.
Sentimen lainnya berasal dari kesepakatan dagang tercapai antara AS dengan China, sehingga memberikan sentimen positif ke pasar.
Isu terkait persetujuan anggaran AS juga bisa menjadi tekanan bagi dolar AS karena perdebatan keras di Senat yang berpotensi membuat anggaran tertunda.
“Anggaran ini juga menambah utang AS sebesar 3,3 triliun USD (dolar AS),” kata Ariston.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, kurs rupiah diprediksi menguat ke arah 16.150-16.120 per dolar AS.
Rupiah Pekan Lalu
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini makin perkasa. Meredanya konflik antara Iran dan Israel membuat pelaku pasar kembali memburu aset berisiko dan melepas dolar AS.
Pada Kamis (26/6/2025), kurs rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan di Jakarta menguat sebesar 10 poin atau 0,06 persen menjadi Rp 16.290 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.300 per dolar AS.
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra memperkirakan, pergerakan rupiah masuk ke area konsolidasi di sekitaran Rp 16.200 per dolar AS.
"Pergerakan rupiah sendiri kembali masuk area konsolidasi di sekitaran Rp 16.200. Kelihatannya agak sulit untuk rupiah menguat di bawah level tersebut," katanya dikutip dari Antara.
Saat ini, indeks dolar Amerika Serikat (AS) disebut masih dalam tekanan di area 97, seiring berita gencatan senjata antara Iran dengan zionis Israel yang mendorong pelaku pasar masuk ke aset berisiko.
Gencatan senjata antara Iran dan Israel dimulai sekitar pukul 04.00 GMT pada hari Selasa (24/6/2025). Kedua belah pihak kemudian mengonfirmasi dimulainya gencatan senjata.
Trump Bicara dengan Iran
Mengutip Xinhua, Presiden AS Donald Trump mengaku bahwa pihaknya akan mengadakan pembicaraan dengan Iran pada pekan depan.
"Kami akan berbicara dengan mereka minggu depan, dengan Iran. Kami mungkin menandatangani kesepakatan," kata Trump saat konferensi pers di Den Haag, Belanda, setelah pertemuan puncak NATO (North Atlantic Treaty Organization).
Di sisi lain, pasar masih melihat banyak ketidakpastian yang bisa membuat perekonomian global kembali tertekan, mulai dari isu kebijakan tarif AS hingga ketegangan perang di beberapa wilayah.
"Perang Israel dan Iran pun masih terbuka untuk terjadi lagi," ujar Ariston.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, kurs rupiah diperkirakan berkisar Rp 16.200-Rp 16.350 per dolar AS.