Harga Minyak Menguat Tipis Tersengat Dolar AS Melemah

Harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) kompak menguat didorong dolar AS yang melemah dan investor fokus fundamental pasar.

oleh Agustina MelaniDiperbarui 27 Juni 2025, 08:40 WIB
Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak naik tipis pada perdagangan Kamis, 26 Juni 2025. Hal ini dengan investor fokus pada fundamental pasar karena persediaan minyak mentah dan bahan bakar turun di Amerika Serikat (AS) dan dolar AS melemah ke level terendah. Di sisi lain, pasar tetap berhati-hati tentang gencatan senjata Iran Israel.

Mengutip CNBC, Jumat, (27/6/2025), harga minyak Brent naik 5 sen atau 0,07% menjadi USD 67,73 per barel pada pukul 2:37 PM. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 32 sen atau 0,49% ke posisi USD 65,24 per barel.

Harga minyak patokan itu naik hampir 1% pada Rabu pekan ini, pulih dari koreksi pada awal pekan setelah data menunjukkan permintaan AS yang tangguh.

Harga minyak mentah berjangka Brent diperdagangkan di bawah penutupan mereka di USD 69,36 pada 12 Juni, sehari sebelum Israel memulai serangan udara di Iran.

"Pasar mulai mencerna fakta kalau persediaan minyak mentah tiba-tiba sangat ketat,” ujar Senior Analyst Price Futures Group, Phil Flynn.

"Dari sudut pandang musiman, kita berada pada posisi terendah dalam satu dekade untuk periode tahun ini,” ujar dia.

 

Pasokan Minyak

Analis UBS Giovanni Staunovo menuturkan, harga minyak telah mengikuti pasar saham sejauh ini pada Kamis pekan ini. Sementara itu, analis ANZ mengatakan musim berkendara AS telah dimulai dengan lambat tetapi sekarang memicu permintaan.

The Energy Information Administration (EIA) atau Badan Informasi Energi mengatakan, inventaris minyak mentah dan bahan bakar AS turun hingga 20 Juni 2025. Hal ini seiring aktivitas penyulingan dan permintaan meningkat.

EIA menyebutkan, inventaris minyak mentah turun 5,8 juta barel, melebihi harapan analis dalam jajak pendapat Reuters untuk penarikan 797.000 barel.

Selain itu, faktor yang mendukung harga minyak yakni indeks dolar AS yang merosot ke posisi terendah dalam tiga tahun karena laporan Presiden AS Donald Trump berencana memilih pimpinan the Federal Reserve (the Fed) berikutnya lebih awal. Hal ini memicu taruhan baru terhadap pemotongan suku bunga AS.

Dolar AS yang lebih lemah membuat minyak lebih murah bagi pemegang mata uang lain, meningkatkan permintaan.

 

Sentimen Geopolitik

Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

Sementara itu, Trump memuji berakhirnya perang antara Iran dan Israel dengan cepat dan mengatakan Washington kemungkinan akan meminta komitmen dari Teheran untuk mengakhiri ambisi nuklirnya dalam perundingan dengan pejabat Iran minggu depan.

Trump juga mengatakan pada Rabu kalau AS mempertahankan tekanan maksimum terhadap Iran - termasuk pembatasan penjualan minyak Iran, tetapi mengisyaratkan potensi pelonggaran dalam penegakan hukum untuk membantu negara tersebut membangun kembali.

"(Dorongan) cepat untuk gencatan senjata menunjukkan bahwa Presiden Trump tetap peka terhadap harga minyak yang tinggi, menurut pandangan kami, yang berpotensi membatasi premi risiko geopolitik bahkan saat konflik mungkin masih berlangsung," kata Citi dalam sebuah catatan pada Kamis.

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya