Kapan Puasa 1 Muharram 1447 H/2025 M? Simak Jadwal dan Keutamaannya

Kapan puasa 1 Muharram 1447 H dilaksanakan? Simak penjelasan lengkap mengenai perkiraan tanggal dan keutamaan melaksanakan puasa sunnah ini.

oleh Nafiysul QodarDiterbitkan 26 Juni 2025, 14:15 WIB
Ilustrasi puasa sunnah 1 Muharram. (Foto: Freepik)

Liputan6.com, Jakarta - Umat Muslim di seluruh dunia akan segera memasuki tahun baru Islam, 1 Muharram. Momen ini menjadi penanda penting dalam kalender Hijriah dan seringkali diiringi dengan berbagai amalan sunnah, salah satunya adalah puasa. Lantas, kapan sebenarnya puasa 1 Muharram 1447 H/2025 M akan dilaksanakan?

Perlu diketahui, penentuan awal bulan dalam kalender Hijriah, termasuk 1 Muharram, didasarkan pada metode rukyatul hilal (pengamatan hilal) atau hisab (perhitungan astronomi). Karena itu, tanggal pasti 1 Muharram bisa berbeda-beda setiap tahunnya, tergantung pada hasil pengamatan hilal dan ketetapan pemerintah.

Pemerintah sendiri telah menetapkan 1 Muharram 1447 H jatuh pada Jumat 27 Juni 2025. Penetapan ini juga tercantum dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2025.

Berbeda dengan penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah puasa wajib dan hari raya, penetapan 1 Muharram tidak melalui proses sidang isbat. 1 Muharram telah ditetapkan jauh-jauh hari berdasarkan metode hisab.

Meski begitu, perbedaan tanggal masih bisa terjadi. Contohnya Muhammadiyah yang menetapkan 1 Muharram 1447 H jatuh pada Kamis, 26 Juni 2025.

 

Keutamaan Puasa di Bulan Muharram

Kamu yang menjalankan ibadah puasa Muharram, ini sejumlah manfaat yang akan kamu dapatkan. (Ilustrasi: bbci.co.uk)

Bulan Muharram adalah salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Di bulan ini, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak amalan ibadah, salah satunya adalah puasa. Puasa di bulan Muharram memiliki keutamaan yang sangat besar, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis Nabi Muhammad SAW.

Salah satu hadis menyebutkan bahwa puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram. Hadis ini menunjukkan betapa istimewanya bulan Muharram dan betapa besar pahala yang dijanjikan bagi orang-orang yang berpuasa di bulan ini.

Selain puasa 1 Muharram, umat Muslim juga dianjurkan untuk melaksanakan puasa Tasu'a di tanggal 9 Muharram, dan Asyura di tanggal 10 Muharram.

Dengan mengetahui keutamaan puasa di bulan Muharram, diharapkan kita semakin termotivasi untuk melaksanakan ibadah sunnah ini.

Puasa di bulan Muharram tidak hanya memberikan pahala yang besar, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk membersihkan diri dari dosa-dosa dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Bacaan Niat Puasa Sunnah di Bulan Muharram

Ribuan umat Islam dari berbagai elemen melakukan aksi longmarch sejuta obor dari kawasan Sukasari menuju Ciawi, di Jalan Raya Tajur, Bogor, Senin (10/9). Aksi ini dilakukan dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1440 H. (Merdeka.com/Arie Basuki)

1. Puasa 1 Muharram – 27 Juni 2025

Berpuasa di hari pertama bulan Muharram sangat dianjurkan karena mengandung keutamaan yang besar. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas disebutkan:

"Barang siapa berpuasa pada hari akhir Dzulhijjah dan awal Muharram, niscaya Allah ampunkan segala dosa-dosanya, walaupun selama lima puluh tahun melakukannya." (HR. Ibnu Abbas).

Niat puasa awal Muharram:

نَوَيْتُ صَوْمَ الْمُحَرَّمِ لِلَِّهِ تَعَالَى

Nawaitu shaumal Muharrami lillâhi ta'âlâ

Artinya: Saya niat puasa Muharram karena Allah ta'ala.

2. Puasa Tasu’a (9 Muharram) – 5 Juli 2025 

Puasa Tasu’a dilakukan pada tanggal 9 Muharram. Seperti dilansir Antara, Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan keinginannya untuk menjalankan puasa di tanggal ini sebagai bentuk pembeda dari kaum Yahudi, yang hanya berpuasa pada hari Asyura.

Hadis riwayat Muslim menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, aku akan berpuasa pada hari kesembilan (Muharram).” (HR. Muslim).

Niat Puasa Tasu’a:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatit Tasû’â lillâhi ta’âlâ

Artinya: Aku berniat puasa sunah Tasu’a esok hari karena Allah SWT.

3. Puasa Asyura (10 Muharram) – 6 Juli 2025

Kemudian ada puasa yang sangat dianjurkan di bulan Muharram adalah puasa Asyura, yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. Keutamaannya sangat besar, seperti yang disebutkan dalam hadis riwayat Muslim:

“Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah dapat menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim).

Niat Puasa Asyura:

نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُورَاءَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma Âsyûrâ-a Sunnatan lilâhi ta’âlâ

Artinya: Aku berniat puasa sunnah Asyura karena Allah Ta’ala.

 

Bacaan Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun

Zikir dan doa bersama tersebut dilakukan untuk memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1445 Hijriah. (merdeka.com/Arie Basuki)

Doa akhir tahun umumnya dibaca tiga kali di penghujung akhir tahun Hijriyah atau setelah waktu ashar akhir bulan dzulhijjah.

Adapun bacaan doa akhir tahun yang masyhur adalah sebagai berikut:

اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِيْ وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ

Allâhumma mâ ‘amiltu min ‘amalin fî hâdzihis sanati mâ nahaitanî ‘anhu, wa lam atub minhu, wa hamalta fîhâ ‘alayya bi fadhlika ba‘da qudratika ‘alâ ‘uqûbatî, wa da‘autanî ilat taubati min ba‘di jarâ’atî ‘alâ ma‘shiyatik. Fa innî astaghfiruka, faghfirlî wa mâ ‘amiltu fîhâ mimmâ tardhâ, wa wa‘attanî ‘alaihits tsawâba, fa’as’aluka an tataqabbala minnî wa lâ taqtha‘ rajâ’î minka yâ karîm.

Sedangkan doa awal tahun umumnya dibaca tiga kali selepas sholat Maghrib atau di malam pertama tahun baru 1 Muharram.

Berikut bacaan doa awal tahun yang masyhur:

اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ

Allâhumma antal abadiyyul qadîmul awwal. Wa ‘alâ fadhlikal ‘azhîmi wa karîmi jûdikal mu‘awwal. Hâdzâ ‘âmun jadîdun qad aqbal. As’alukal ‘ishmata fîhi minas syaithâni wa auliyâ’ih, wal ‘auna ‘alâ hâdzihin nafsil ammârati bis sû’I, wal isytighâla bimâ yuqarribunî ilaika zulfâ, yâ dzal jalâli wal ikrâm.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya