Liputan6.com, Jakarta - Iran yang tengah berperang melawan Israel dikejutkan dengan serangan Amerika Serikat (AS) ke tiga fasilitas nuklir milik mereka pada Minggu 22 Juni 2025. Presiden AS, Donald Trump mengumumkan sendiri serangan ini melalui media sosial.
"Kami telah menyelesaikan serangan yang sangat sukses terhadap tiga lokasi nuklir di Iran, termasuk Fordo, Natanz, dan Isfahan," tulis Trump.
Advertisement
"Seluruh pesawat telah meninggalkan wilayah udara Iran dan kembali dengan selamat. Muatan bom terbesar dijatuhkan di Fordo," lanjut dia.
Operasi militer AS yang menyerang fasilitas nuklir Iran di Fordow, Isfahan, dan Natanz ini diberi nama Midnight Hammer. Lalu, apa sebenarnya Operasi Midnight Hammer itu? Bagaimana operasi ini dilakukan?
Dilansir dari BBC, Operasi Midnight Hammer melibatkan 125 pesawat militer AS dan menargetkan tiga fasilitas nuklir Iran yakni Fordo, Natanz, dan Isfahan. Tiga lokasi ini diserang pada Minggu dini hari sekira pukul 02.40 hingga 03.05 waktu Teheran.
Kepala Staf gabungan Jenderal AS, Dan Caine mengatakan, pengebom lepas landas dari AS dalam penerbangan selama 18 jam. Sebagian armada menuju barat ke Samudra Pasifik sebagai ‘pengalih perhatian’, sedangkan pesawat lain untuk serangan utama yang terdiri dari tujuh pengebom B-2 bergerak menuju Iran. Sesaat sebelum pesawat memasuki wilayah udara Iran, lebih dari dua lusin rudal jelajah Tomahawk diluncurkan dari kapal selam AS ke target di situs Isfahan.
Saat para pengebom memasuki wilayah udara Iran, AS menggunakan berbagai taktik pengecoh, termasuk umpan. Caine menjelaskan, jet tempur membersihkan wilayah udara di depan mereka untuk memeriksa keberadaan pesawat musuh dan rudal permukaan ke udara.
Dikutip dari Kanal Global Liputan6.com, sekira satu jam setelah peluncuran rudal, pesawat-pesawat pengebom AS memasuki wilayah udara Iran. Tepat pukul 18.40 hingga 19.05 waktu Timur AS atau antara pukul 02.10 hingga 02.35 waktu Iran pada Minggu, rangkaian serangan dimulai. Lokasi nuklir Fordow dan Natanz dihantam dengan presisi tinggi oleh bom-bom yang dijatuhkan dari langit, sementara rudal-rudal Tomahawk membombardir Isfahan secara bersamaan.
Sebanyak 75 amunisi berpemandu presisi digunakan dalam serangan terkoordinasi ini, termasuk 14 bom GBU-57 Massive Ordnance Penetrator—bom super berat yang dirancang untuk menghancurkan target terkubur dalam tanah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, bom ini digunakan dalam pertempuran sesungguhnya.
AS mengklaim, bom berbobot 13.000 kg itu mampu menembus beton setebal 18 m atau 60 kaki dan tanah setebal 61 m atau 200 kaki sebelum meledak.
Setelah misi rampung, pukul 19.30 waktu Timur AS atau pukul 03.00 waktu Iran, pesawat-pesawat pengebom AS mulai meninggalkan wilayah udara Iran dan memulai perjalanan panjang kembali ke AS.
Trump Umumkan Gencatan Senjata Iran-Israel
Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Iran telah menyepakati gencatan senjata. Hal ini diumumkan tidak lama setelah Iran meluncurkan serangan rudal terbatas pada Senin (23/6/2025) malam ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar sebagai balasan atas serangan terhadap tiga situs nuklirnya pada Minggu (22/6).
Trump menulis di Truth Social bahwa gencatan senjata bertahap selama 24 jam akan dimulai sekitar tengah malam Selasa waktu Timur Amerika Serikat (AS). Dia menjelaskan bahwa kedua negara akan diberi waktu enam jam untuk mengakhiri dan menyelesaikan misi akhir mereka yang sedang berlangsung sebelum gencatan senjata secara penuh diberlakukan. Demikian seperti dilansir AP.
Presiden AS itu menyebut kesepakatan ini sebagai "akhir resmi" dari perang.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belum memberikan tanggapan atas pernyataan Trump.
Sementara itu, seorang pejabat tinggi Iran mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa Teheran menyetujui gencatan senjata setelah dibujuk oleh Qatar.
Serangan Iran pada Senin mengindikasikan bahwa negara itu bersiap untuk mundur dari ketegangan yang meningkat di kawasan yang sudah labil. Menurut Presiden Trump, AS telah diberi peringatan oleh Iran sebelum serangan dan tidak ada korban jiwa. Dia juga mengecilkan dampaknya dengan menyebut serangan itu sebagai respons yang sangat lemah.
Qatar mengutuk serangan terhadap Pangkalan Udara Al Udeid sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatannya, wilayah udaranya, dan hukum internasional. Qatar mengatakan pihaknya berhasil mencegat semua rudal kecuali satu, meskipun belum jelas apakah rudal yang lolos itu menimbulkan kerusakan.