Fakta-Fakta tentang Selat Hormuz, Jalur Perdagangan Penting di Timur Tengah

Ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran di tengah ketegangan geopolitik memicu kekhawatiran akan lonjakan harga minyak dan ketidakstabilan ekonomi global.

oleh Hanz Jimenez SalimDiterbitkan 24 Juni 2025, 15:00 WIB
Dalam foto yang dirilis pada hari Rabu, 2 Agustus 2023 oleh Sepahnews dari Garda Revolusi Iran, speedboat Garda berpartisipasi dalam latihan di Teluk Persia. Militer AS sedang mempertimbangkan untuk menempatkan personel bersenjata di kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, dalam tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang bertujuan untuk menghentikan Iran dari menyita dan mengganggu kapal-kapal sipil, empat pejabat Amerika mengatakan kepada The Associated Press pada hari Kamis, 3 Agustus 2023. (Sepahnews via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Amerika Serikat (AS) menyerang sejumlah fasilitas nuklir milik Iran pada Sabtu 21 Juni 2025 waktu setempat. Sikap AS ini memancing reaksi dari sejumlah pihak, termasuk anggota senior parlemen Iran Esmaeil Kowsari.

Ia mengklaim bahwa parlemen Iran telah sepakat menutup Selat Hormuz, jalur utama perdagangan energi global, sebagai respons terhadap serangan Amerika Serikat (AS) dan sikap diam komunitas internasional. Kowsari adalah anggota komite parlemen urusan keamanan nasional dan kebijakan luar negeri.

"Parlemen telah sampai pada kesimpulan bahwa Selat Hormuz harus ditutup, namun keputusan akhir berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi," kata Kowsari dikutip kantor berita Iran, Press TV pada Minggu (22/6/2025).

Lalu apa itu Selat Hormuz?

Selat Hormuz, merupakan jalur laut yang menghubungkan Teluk Oman dan Teluk Persia. Selat ini menjadi satu-satunya jalur keluar masuk kapal dari Teluk Persia menuju Samudra Hindia. 

Dikutip dari berbagai sumber, Selat Hormuz memiliki lebar hanya 54 km pada titik tersempitnya, namun perannya sangat vital dalam perdagangan global, terutama untuk minyak bumi. Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam dunia melewati selat ini setiap harinya. Sebagian besar dari pasokan tersebut menuju ke negara-negara Asia seperti Tiongkok, India, dan Jepang, yang sangat bergantung pada energi dari kawasan tersebut.

Antara awal 2022 hingga bulan lalu, menurut data perusahaan analitik Vortexa, diperkirakan sekitar 17,8 juta hingga 20,8 juta barel minyak mentah, kondensat, dan bahan bakar lainnya mengalir setiap hari melalui selat ini.

Negara-negara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) – seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak – mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui selat ini, terutama ke wilayah Asia.

Menutup Selat Hormuz memang memiliki keuntungan strategis, yaitu dapat menjadi cara untuk memberikan tekanan langsung kepada Trump. Tindakan ini akan memicu lonjakan harga minyak yang berdampak cepat terhadap inflasi, tidak hanya di AS, namun juga di seluruh dunia.

Namun, langkah yang sama pula akan menjadi bentuk kerugian ekonomi yang sangat besar bagi Iran sendiri. Pasalnya, ekspor minyak Iran bergantung pada jalur yang sama. Di lain sisi, menutup Selat Hormuz berisiko memicu keterlibatan negara-negara Teluk Arab—yang meskipun telah mengkritik keras serangan Israel—bisa terdorong masuk ke dalam konflik demi melindungi kepentingan ekonomi mereka sendiri.

Secara khusus, penutupan Selat Hormuz disebut akan sangat merugikan China. Sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, China membeli hampir 90 persen ekspor minyak Iran, yang saat ini berada di bawah sanksi internasional.

 

Dampak Potensial Penutupan Selat Hormuz

Potensi penutupan Selat Hormuz akan berdampak signifikan terhadap pasar energi global. Lonjakan harga minyak menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan. Ketergantungan banyak negara pada pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia membuat mereka sangat rentan terhadap gangguan di jalur distribusi utama ini.

Tidak hanya harga minyak yang terpengaruh, ketidakstabilan ekonomi global juga menjadi ancaman nyata. Kenaikan harga energi dapat memicu inflasi, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan bahkan menyebabkan resesi di beberapa negara. Negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi akan merasakan dampak paling besar.

Ancaman penutupan Selat Hormuz juga dapat memicu konflik regional yang lebih luas. Negara-negara yang berkepentingan dengan stabilitas pasokan energi dapat mengambil tindakan untuk memastikan kelancaran lalu lintas di selat tersebut. Hal ini dapat meningkatkan risiko konfrontasi militer dan memperburuk ketegangan di kawasan tersebut.

Penutupan Selat Hormuz Berimbas pada Perdagangan Minyak dan Gas

Berdasarkan Bloomberg, Iran dapat menolak akses ke kapal tanker raksasa yang mengangkut minyak dan gas ke China, Eropa dan kawasan konsumen energi utama lainnya. Jika hal ini terjadi, harga minyak akan mengalami lonjakan dan berpotensi menganggu stabilitas ekonomi global.

Mengutip CNN, Pendiri dan CEO Vanda Insights, Vandana Hari menuturkan pemblokiran selat oleh Iran sebagai risiko jarak jauh. "Kehadiran armada angkatan laut AS yang diperkuat di wilayah tersebut merupakan alat pencegah sekaligus respons,” ujar dia.

"Iran akan kehilangan banyak hal dan sangat sedikit, jika ada, yang akan diperoleh dengan mencoba menutup Selat tersebut," kata Hari.

"Iran tidak mampu mengubah tetangga penghasil minyaknya, yang telah bersikap netral atau bahkan bersimpati terhadap Republik Islam tersebut saat menghadapi serangan Israel dan AS, menjadi musuh, sama seperti tidak memicu kemarahan pasar minyak mentah utamanya, China,” ia menambahkan.

AS Desak China Cegah Iran Tutup Selat Hormuz

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio pada Minggu (22/6/2025) menyerukan kepada China agar mendorong Iran untuk tidak menutup Selat Hormuz, setelah AS melancarkan serangan terhadap tiga situs nuklir Iran.

Pernyataan Rubio tersebut disampaikan dalam acara "Sunday Morning Futures with Maria Bartiromo" di Fox News, setelah stasiun televisi Iran, Press TV, melaporkan bahwa parlemen Iran telah menyetujui langkah untuk menutup Selat Hormuz — jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

"Saya mendorong pemerintah China untuk menelepon mereka soal itu karena mereka sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk pasokan minyak mereka," kata Rubio, yang juga menjabat sebagai penasihat keamanan nasional seperti dilansir CNA.

"Jika mereka (Iran) melakukan itu, itu akan menjadi kesalahan besar lainnya. Itu sama saja dengan bunuh diri ekonomi bagi mereka jika mereka melakukannya. Dan kami punya opsi untuk menangani hal itu, namun negara-negara lain juga seharusnya memperhatikannya. Itu akan lebih merugikan perekonomian negara-negara lain dibandingkan kita."

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya