Periode Singkat Scolari di Chelsea dan Biang Keladi Bernama Anelka

Pada Februari 2009, pria Brasil itu dipecat, dan ia menuding Nicolas Anelka sebagai biang keladinya.

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 20 Juni 2025, 10:03 WIB
9. Luiz Felipe Scolari (2008-2009), 55.6% - Salah satu pelatih Chelsea yang dinilai gagal. Ditunjuk pada Juni 2008 kemudian dipecat pada Februari 2009 karena penampilan tim yang jauh di bawah standar. (AFP/Carl De Souza)

Liputan6.com, Jakarta Luiz Felipe Scolari datang ke Chelsea dengan segudang harapan, tapi kebersamaannya bersama klub London Barat itu hanya bertahan tujuh bulan. Di bawah kepemilikan Roman Abramovich yang terkenal tidak sabar, Scolari menjadi pelatih dengan masa jabatan tersingkat. Pada Februari 2009, pria Brasil itu dipecat, dan ia menuding Nicolas Anelka sebagai biang keladinya.

Scolari bukanlah sosok sembarangan. Ia datang dengan reputasi besar sebagai pelatih yang membawa Brasil juara Piala Dunia 2002. Namun, tantangan di Premier League berbeda, sementara Chelsea saat itu tengah berada dalam transisi setelah ditinggal Avram Grant.

Grant sendiri sempat membawa The Blues ke final Liga Champions dan Piala Liga pada musim 2007/08. Sayangnya, ia juga harus angkat kaki tak lama setelah Chelsea kalah adu penalti dari Manchester United di Moskwa—laga di mana Anelka gagal menunaikan tugasnya sebagai penendang terakhir.


Anelka Menolak Main di Sayap

Nicolas Anelka. Striker asal Prancis ini mengoleksi 126 gol dan 54 assist dalam 364 laga di Premier League dengan 6 tim berbeda mulai musim 1996/1997 hingga 2013/2014. Total 2 trofi Premier League dikoleksinya saat bersama Arsenal (1997/1998) dan Chelsea (2009/2010). (AFP/Adrian Dennis)

Salah satu titik kritis dalam masa kepemimpinan Scolari adalah saat ia mencoba memasukkan Didier Drogba ke dalam tim utama. Ia ingin Anelka, yang saat itu menjadi pencetak gol terbanyak Liga Inggris, bermain lebih melebar. Namun, respons Anelka mengejutkan.

“Saya punya Anelka sebagai penyerang utama. Nomor 9. Pencetak gol terbanyak liga,” ujar Scolari kepada ESPN Brasil, seperti dikutip talkSPORT. “Saat semua pemain kembali, saya bilang, ‘Sekarang Drogba sudah pulih setelah dua bulan, kita coba skema dengan dua penyerang, satu di tengah dan satu di sisi, bisa saling bertukar posisi.’”

Namun, rencana itu langsung dimentahkan oleh sang pemain. “Lalu Anelka, pencetak gol terbanyak liga, bilang, ‘Saya tidak main di sayap.’ Ya sudah, saya bilang, ‘Kalau begitu, kamu tidak main di sayap, salah satu dari kalian main di kiri, selesai, saya tidak mau berdebat lagi.’”


Situasi Memanas dan Pemecatan

2. Luiz Felipe Scolari. Manajer asal Brasil ini mulai membesut Chelsea pada 1 Juli 2018. Setelah 223 hari ia dipecat karena tidak memenuhi ekspektasi petinggi klub di Premier League. (AFP/Glyn Kirk)

Ketegangan di ruang ganti semakin menjadi-jadi. Saat itu, tim asuhan Scolari masih berada di posisi ketiga klasemen dan hanya terpaut tiga atau empat poin dari puncak—tepatnya tujuh poin dari Manchester United. Namun, suasana tim sudah memburuk.

“Saya keluar dari sana saat kami ada di posisi ketiga klasemen, tiga atau empat poin dari puncak,” kata Scolari. “Kami juga lolos ke babak 16 besar Liga Champions. Namun, ada suasana yang tidak enak, situasi itu.”

Lanjut Baca:

Ia juga menyanggah isu bahwa keterbatasan bahasa menjadi penyebab utama kegagalannya. “Mereka bilang, ‘Karena Anda tidak bisa bahasa Inggris dengan sempurna.’ Tentu saja tidak. Saya tidak bicara Inggris dengan sempurna,” ungkapnya. “Namun, saya mengerti dengan baik. Dengan bahasa Inggris saya dan bahasa Inggris yang digunakan di sana, kami saling mengerti.”

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya