Mitos Tradisi: Rambu Solo', Upacara Pengantaran Arwah Menuju Alam Roh

Upacara rambu solo' digelar sebagai bentuk penghormatan sekaligus cara masyarakat Toraja mengantar arwah seseorang yang telah mati menuju alam roh. Oleh masyarakat setempat, alam roh tersebut dinamakan puya.

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 24 Juni 2025, 02:00 WIB
Masyarakat Toraja membawa peti mati saat upacara pemakaman yang dikenal dengan nama "Rambu Solo" di Londa di Kabupaten Tana Toraja (11/09/2018). (AFP/Goh Chai Hin)

Liputan6.com, Makassar - Suku Toraja di Sulawesi Selatan bagian utara memiliki tradisi khusus yang berkaitan dengan tahap-tahap kehidupan seseorang, termasuk tradisi mengantarkan arwah menuju tempat terakhirnya. Tradisi ini disebut dengan rambu solo'.

Upacara rambu solo' digelar sebagai bentuk penghormatan sekaligus cara masyarakat Toraja mengantar arwah seseorang yang telah mati menuju alam roh. Oleh masyarakat setempat, alam roh tersebut dinamakan puya.

Setiap komunitas adat Suku Toraja memiliki ketentuan dan tahapan berbeda dalam upacara rambu solo'. Namun, tujuan utamanya tetap sama.

Mengutip dari laman Indonesia Kaya. upacara rambu solo' yang diadakan di komunitas adat Kete Kesu digelar dengan menyertakan sejumlah kerbau. Bagi masyarakat Suku Toraja, kerbau merupakan hewan yang dianggap suci.

Kerbau diyakini dapat mengiringi arwah seseorang yang telah mati. Semakin banyak jumlah kerbau dalam upacara rambu solo', maka akan semakin cepat pula sang arwah menuju alam roh.

Jenazah yang akan diupacarakan dalam rambu solo' diletakkan di sebuah tongkonan kecil. Tongkongan kecil ini berada di tengah-tengah tongkonan besar.

Tongkonan merupakan rumah adat Suku Toraja. Terdapat sekitar 10 tongkonan di desa adat ini yang konon sudah berusia lebih dari 300 tahun.

Para wanita mempersiapkan masakan untuk para undangan yang datang. Adapun ragam masakan dalam upacara rambu solo' didominasi oleh olahan daging babi atau kerbau.

Sementara itu, para tamu yang datang merupakan kerabat dekat yang sudah berkeluarga. Setiap keluarga menempati satu tongkonan.

Sambil menunggu masakan selesai dibuat, para tamu akan membuat lingkaran mengelilingi tongkonan yang berisi jenazah. Mereka bergerak berlawanan arah jarum jam dengan diselingi pembacaan mantra-mantra.

Upacara dilanjutkan dengan pemberian khotbah secara kristiani yang dipimpin oleh seorang pendeta. Setelah khotbah selesai, kaum wanita yang telah memasak hidangan pun keluar dari dapur dan membawakan berbagai masakan ke tiap-tiap tongkonan.

 

Foto Bersama

Usai acara makan bersama, upacara dilanjutkan dengan sesi foto bersama tongkonan berisi jenazah sang tuan yang sedang diupacarakan. Prosesi selanjutnya adalah mengelilingi jenazah sambil membacakan mantra-mantra penghantar.

Selanjutnya, prosesi rante atau pemakaman dengan membawa peti jenazah yang telah dilepaskan dari tongkonan. Peti dibawa ke lokasi makam yang berada sekitar 30 meter dari lokasi pemberkatan.

Peti tersebut tidak dikuburkan dalam tanah, melainkan dimasukkan ke dalam gua, tebing batu, atau rumah kecil yang menyimpan beberapa peti jenazah. Setiap peti diberi penanda berupa boneka atau patung kayu tau-tau yang menyerupai jenazah.

Prosesi ini menandakan bahwa sang roh sudah tidak ada lagi di dunia. Para kerbau yang dikorbankan telah mengantarkan mereka menuju alam roh.

Dalam beberapa komunitas, upacara rambu solo' juga kerap diisi dengan pertunjukan kesenian sebagai hiburan. Para wisatawan juga dapat menyaksikan langsung rangkaian prosesi upacara sakral ini.

Rangkaian prosesi upacara rambu solo' umumnya digelar selama 2-7 hari dengan prosesi yang sangat khidmat. Upacara rambu solo' tak hanya mengandung unsur mitos berupa cerita, tetapi juga berkaitan dengan hubungan manusia dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta.

Penulis: Resla

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya