Saham TPIA Melonjak Usai Kabar Investasi Danantara, Bagaimana Rekomendasinya?

Analis menyampaikan sejumlah sentimen yang akan pengaruhi pergerakan saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).

oleh Pipit Ika RamadhaniDiterbitkan 18 Juni 2025, 12:33 WIB
Karyawan memfoto layar pergerakan IHSG, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Harga saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatat lonjakan signifikan pada perdagangan Selasa, 17 Juni 2025 usai muncul kabar kerja sama investasi strategis dengan Indonesia Investment Authority (INA) dan BPI Danantara.

Saham TPIA ditutup menguat 3,28% di level Rp10.225, bahkan sempat melesat hingga 7,5% di awal sesi ke level Rp10.650. Kenaikan tajam ini menjadi perhatian karena terjadi dalam waktu singkat.

Aktivitas perdagangan juga mencatat sinyal positif dari investor asing. Data menunjukkan terjadi aksi net buy oleh asing di pasar reguler senilai Rp38 miliar untuk saham TPIA. Ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap potensi jangka panjang TPIA seiring dengan kejelasan proyek ekspansi yang didukung oleh investor strategis.

"Jadi silahkan dicermati ya teman-teman, TPIA kemarin itu closing-nya solid, naik 3,28%. Bahkan sempat loncat 7,5% di awal sesi. Investor asing juga net buy sampai Rp 38 miliar," ungkap Retail Research Team Leader CGS International Indonesia, Mino, Rabu (18/6/2025).

Katalis: Masuknya Investor Sovereign dan Ekspansi Hulu-Hilir

Katalis utama pergerakan saham TPIA adalah penandatanganan nota kesepahaman antara INA, Danantara, dan TPIA senilai USD 800 juta (sekitar Rp 13 triliun).

Dana jumbo ini akan difokuskan untuk proyek pembangunan pabrik klor–alkali dan etilen diklorida (CA–EDC) yang akan dikelola oleh anak usaha TPIA, PT Chandra Asri Alkali (CAA). Fasilitas ini ditargetkan memproduksi 400.000 ton soda kaustik dan 500.000 ton EDC per tahun.

Proyek CA–EDC tidak hanya berkontribusi pada substitusi impor bahan baku industri dalam negeri, tetapi juga mendukung hilirisasi mineral nasional, khususnya untuk industri pengolahan nikel. Proyek ini bahkan masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diproyeksikan dapat menghemat devisa hingga Rp4,9 triliun dan berpotensi menghasilkan ekspor senilai Rp5 triliun per tahun.

"Kemitraan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas produksi dalam negeri untuk soda kaustik dan EDC, bahan penting industri seperti pengolahan nikel. Proyeknya bagian dari PSN dan punya dampak ekonomi cukup besar," ujar Mino.

Rekomendasi Teknikal

Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Rekomendasi: Masih Bullish, Cermati Support-Resistance

Secara teknikal, tren saham TPIA masih menunjukkan kecenderungan bullish. Analis merekomendasikan pemantauan area support utama di level Rp10.000 dan Rp9.775 serta area resistance di Rp10.450 dan Rp10.675. Selama harga bertahan di atas Rp9.700, saham TPIA dinilai masih punya ruang untuk melanjutkan penguatan.

TPIA tetap menjadi salah satu rekomendasi saham yang layak dicermati dalam jangka pendek dengan momentum entry yang disesuaikan pada saat market buka. Katalis yang kuat dari masuknya sovereign wealth fund dan rencana ekspansi besar memberikan penopang kuat bagi tren positif harga.

"Secara teknikal masih cukup bullish, teman-teman bisa pantau level 9.700. Selama masih kuat di atas itu, TPIA punya potensi lanjut bullish dengan resistance 10.450 dan 10.675," ungkap analis CGS International.

 

Prospek: Diversifikasi dan IPO Anak Usaha Jadi Penopang Jangka Panjang

Karyawan berjalan di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Indeks acuan bursa nasional tersebut turun 96 poin atau 1,5 persen ke 6.317,864. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Selain proyek CA–EDC, TPIA melalui joint venture Aster Chemicals and Energy (dengan Glencore) juga mengumumkan rencana akuisisi 100% aset condensate splitter milik PCS Pte. Ltd. di Pulau Jurong, Singapura.

Aster juga akan merevitalisasi fasilitas tersebut agar kapasitas pengolahan minyak naik dari 237.000 menjadi 300.000 barel per hari. Langkah akuisisi ini melengkapi strategi hilirisasi TPIA di sektor energi dan petrokimia.

Tak hanya itu, TPIA juga tengah menyiapkan IPO untuk anak usahanya, Chandra Daya Investasi (CDI), yang berpotensi membuka pendanaan baru dan meningkatkan valuasi perusahaan induk. Dukungan dari mitra strategis seperti INA dan Glencore menunjukkan kepercayaan jangka panjang terhadap roadmap ekspansi TPIA.

"Boleh dibilang cukup banyak catalyst positif mendukung TPIA, termasuk akuisisi Aster dan rencana IPO anak usaha. Ini membuka potensi jangka panjang yang signifikan bagi saham TPIA," kata Mino.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya