Selami Kisah Sukses dan Kegagalan Raksasa Furnitur Dunia di Museum IKEA

Tak hanya menampilkan kesuksesan, museum IKEA ini juga membagikan momen-momen kegagalan.

oleh Nila Chrisna YulikaDiperbarui 09 Juni 2025, 08:06 WIB
Museum IKEA di Älmhult di Swedia Selatan. (Nila Chrisna).

Liputan6.com, Jakarta - Tak banyak yang tahu bahwa kota kecil Älmhult di Swedia Selatan menjadi saksi bisu lahirnya salah satu merek furnitur paling terkenal di dunia: IKEA. Di sinilah kisah dimulai, dan kini, sebuah museum megah berdiri sebagai penanda sejarah panjang IKEA. Menyimpan kisah sukses dan kegagalan.

Liputan6.com berkesempatan mengunjugi Museum IKEA saat Democratic Design Days 2025 di Älmhult, Swedia. Saat memasuki gedung bersejarah ini, pengunjung seolah melangkah ke mesin waktu membawa kami ke dekade 1950-an, masa ketika Ingvar Kamprad pemuda visioner berusia 17 tahun memulai bisnis kecilnya.

Bagian paling menarik dari museum ini adalah bagaimana IKEA merancang setiap produknya. “Kami tidak memulai dari meja desain,” ujar salah satu staf museum pada Rabu, 4 Juni 2025.

“Kami mulai dari rumah-rumah penduduk. Tim kami turun langsung, berbicara, mengamati, dan mendengarkan kebutuhan mereka.”

Pendekatan ini menjadi dasar dari filosofi Desain Demokratis yang diusung IKEA. Lima prinsip utama menjadi pilar dalam setiap produk: harga terjangkau, kualitas, fungsi, estetika, dan keberlanjutan. Kelima unsur ini harus hadir secara seimbang jika satu saja kurang, produk tidak akan lolos ke pasar.

Tak hanya menampilkan kesuksesan, museum ini juga membagikan momen-momen kegagalan. Salah satu yang paling ikonik adalah kisah sofa udara dari era 90-an. Konsepnya menarik: ringan, fleksibel, mudah dikemas. Namun realitas berbicara lain.

Instruksi penggunaan yang membingungkan membuat banyak pelanggan menggunakan vacuum cleaner alih-alih hair dryer untuk mengisi udara, menyebabkan sofa rusak dan kempis. IKEA tak menutup-nutupi kegagalan ini. Justru, mereka menjadikannya pelajaran berharga.

“Kesalahan adalah bagian dari proses kreatif,” ujar seorang manajer di Älmhult.

“Kami mendorong tim kami untuk berani gagal, karena dari situlah lahir inovasi yang sesungguhnya," katanya.

 

Toko Pertama IKEA Jadi Museum

Museum IKEA di Älmhult di Swedia Selatan. (Nila Chrisna).

Bangunan museum ini dulunya adalah toko pertama IKEA, yang dibuka pada tahun 1958. Awalnya, tempat ini adalah sebuah pabrik karpet tua yang dibeli Kamprad dan disulap menjadi showroom permanen. Di masa itu, pelanggan hanya bisa melihat produk, lalu memesannya dan menunggu hingga 8 minggu untuk pengiriman. 

Kehadiran toko ini menjadi magnet bagi pengunjung dari berbagai wilayah, sekaligus mendorong perkembangan kota Älmhult dari desa kecil menjadi pusat aktivitas.

 

 

Berawal dari Anak Muda Berusia 17 Tahun

Ingvar Kamprad, pendiri IKEA, yang membangun kerajaan bisnis global dari benih-benih kreativitas, daya juang, dan warisan keluarga yang unik. (Nila Chrisna).

Nama IKEA mungkin kini identik dengan furnitur bergaya minimalis, fungsional, dan terjangkau. Tapi siapa sangka, raksasa ritel asal Swedia ini justru berawal dari seorang anak muda pemalu dan penuh rasa ingin tahu dari desa kecil Älmhult.

Dialah Ingvar Kamprad, pendiri IKEA, yang membangun kerajaan bisnis global dari benih-benih kreativitas, daya juang, dan warisan keluarga yang unik.

Lahir pada tahun 1926, Ingvar tumbuh dalam keluarga sederhana di pedesaan Swedia Selatan. Ia dibesarkan di Majtorp, rumah ibunya Berta—seorang wanita tangguh dan penuh akal. Bersama adik perempuannya, Kerstin, dan ayahnya, Feodor, ia hidup dalam lingkungan yang mendidik anak-anak untuk hemat, mandiri, dan berpikir kreatif.

Sejak kecil, Ingvar terbiasa bermain di toko kakek dari pihak ibu, CB Nilsson, yang menjual mulai dari paku hingga dinamit. Di sinilah daya imajinasi dan naluri dagangnya tumbuh. Sementara dari sisi ayahnya, warisan karakter keras kepala dan kegigihan mengalir dari sang nenek, Franziska, imigran Jerman yang mempertahankan pertanian keluarga meski ditinggal suami secara tragis.

Kedua sosok perempuan kuat inilah—Berta dan Franziska—yang kemudian memberi dorongan besar pada mimpi bisnis Ingvar. Sementara sang ayah, Feodor, mengajarinya pentingnya kerja keras dan efisiensi dalam pengelolaan lahan keluarga di Elmtaryd.

Sejak usia 10 tahun, Ingvar mulai mencari cara untuk menghasilkan uang. Ia menjual korek api, kartu Natal, majalah, hingga ikan hasil pancingannya sendiri. Tak puas hanya dengan memancing, ia belajar memasang jaring agar hasilnya lebih efisien. Untuk itu, ia meminta modal dari ayahnya dengan perjanjian bagi hasil—kerja sama bisnis pertamanya.

Bisnis kecil ini berkembang pesat. Ia membeli sepeda untuk memperluas area distribusinya, serta mesin ketik untuk mencatat pelanggan. Bahkan saat bersekolah di asrama Osby, ia menyimpan stok dagangan seperti ikat pinggang dan jam tangan di bawah tempat tidurnya untuk dijual kepada teman-teman.

Mulai Membangun IKEA di Usia 17 Tahun

 

Pada tahun 1943, di usia 17 tahun, Ingvar memutuskan mendirikan perusahaannya sendiri. Ia memberi nama IKEA, akronim dari Ingvar Kamprad Elmtaryd Agunnaryd—menggabungkan nama dirinya, pertanian keluarganya, dan desa tempat tinggalnya.

Dengan hadiah uang dari sang ayah untuk membayar biaya registrasi, IKEA resmi berdiri pada 28 Juli 1943. Fokus awalnya adalah menjual barang-barang kecil melalui sistem pesanan lewat pos.

Namun, Ingvar tak puas hanya menjadi pedagang. Ia mulai mempertanyakan: Jika sebuah pensil hanya seharga setengah öre dari pabrik, mengapa harga jualnya bisa 20 kali lipat? Dari sinilah, visinya terbentuk: memotong rantai distribusi dan menawarkan produk langsung ke pelanggan dengan harga serendah mungkin.

Gagasan sederhana inilah yang kemudian merevolusi industri furnitur dunia. IKEA tak hanya menjual produk rumah tangga—tetapi menciptakan pengalaman berbelanja yang menyenangkan, efisien, dan terjangkau. Mulai dari desain datar untuk efisiensi pengiriman, hingga toko ritel besar yang juga menyuguhkan makanan khas Swedia.

Kini, IKEA hadir di lebih dari 50 negara dan melayani jutaan pelanggan setiap tahun. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya