Liputan6.com, Tunis - Di tengah gersangnya gurun selatan Tunisia, suara mesin perah unta mengisi udara saat hewan-hewan berkaki panjang itu melangkah mendekat. Di balik pemandangan tak biasa ini, tersembunyi kisah perubahan ekonomi yang digerakkan oleh perempuan.
Adalah Latifa Frifita, seorang wirausaha berusia 32 tahun, yang memimpin transformasi ini. Ia mendirikan unit pasteurisasi susu unta pertama — dan satu-satunya — di Tunisia, tepatnya di Medenine.
Advertisement
Mengutip Malay Mail, Senin (9/6/2025), proyek ini tidak hanya memanfaatkan potensi lokal yang selama ini diabaikan, tapi juga membuka peluang kerja dan memberi harapan bagi komunitas yang selama ini termarjinalkan.
Langkah Frifita dibangun di atas fondasi riset ilmiah.
Amel Sboui, biokimiawan senior berusia 45 tahun dari Institute of Arid Regions, berhasil mematenkan metode pasteurisasi yang mampu menjaga kandungan nutrisi dan khasiat terapeutik susu unta, sekaligus memperpanjang masa simpannya hingga dua minggu.
Kandungan zat besi lima kali lebih tinggi dari susu sapi dan sifat non-alergeniknya menjadikan susu unta semakin diminati. Bahkan, uji klinis di rumah sakit regional menunjukkan bahwa konsumsi susu ini dapat membantu penderita diabetes mengurangi dosis obat hingga 50 persen.
"Orang mulai sadar manfaat kesehatannya," kata Sboui, menjelaskan meningkatnya permintaan yang sebagian besar datang dari mulut ke mulut.
Ide Bisnis Susu Unta
Saat mulai menawarkan gagasannya ke peternak, Frifita sempat ditolak. Mayoritas lebih memilih menjual daging unta, bukan susunya. Susu dianggap hanya untuk konsumsi pribadi atau diberikan gratis.
Namun, berbekal pendekatan personal dan edukasi tentang manfaat ekonomi, Frifita perlahan mengubah pola pikir mereka.
Kini, ia berhasil menjalin kerja sama dengan sejumlah peternak dan bahkan melatih mereka menggunakan mesin perah otomatis yang dapat meningkatkan produksi dari dua menjadi tujuh liter per hari.
Lulusan magister teknologi pangan ini mulai merancang bisnisnya sejak 2016, namun baru terealisasi pada 2023 dengan dukungan Institut Wilayah Kering. Ia mendirikan ChameLait, perusahaan yang kini dikelola bersama dua perempuan lainnya, termasuk sang kakak, Besma.
Produksi mingguan mereka mencapai 500 liter susu pasteurisasi, dijual melalui sistem pesanan dan sekitar selusin toko ritel lokal dengan harga 12 dinar Tunisia per liter — dua kali lipat dari harga yang dibayarkan kepada peternak.
Frifita memilih untuk tetap tinggal dan membangun bisnis di kampung halamannya, alih-alih ikut suaminya yang bekerja di Timur Tengah.
"Saya ingin mempromosikan produk lokal yang menjadi identitas wilayah selatan Tunisia," ujarnya sambil menggendong putrinya yang baru berusia dua tahun.