Liputan6.com, Jakarta - Tari Pakarena adalah salah satu mahakarya budaya dari Sulawesi Selatan, khususnya dari masyarakat Gowa, Makassar. Tidak hanya dikenal karena keindahan geraknya yang anggun dan teratur, tetapi juga karena makna simbolik yang terkandung di dalam setiap gerakan, kostum, dan alunan musik pengiringnya.
Dalam lintasan sejarah dan tradisi Bugis-Makassar yang sarat dengan nilai-nilai kesopanan, penghormatan terhadap leluhur, dan hubungan spiritual antara manusia dengan alam, Tari Pakarena hadir sebagai manifestasi budaya yang menggambarkan filosofi hidup masyarakatnya.
Advertisement
Tari ini biasanya dipentaskan dalam acara-acara penting seperti penyambutan tamu agung, pernikahan adat, upacara kerajaan, hingga perayaan kebudayaan, menjadikannya bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk penghormatan yang sakral terhadap momen-momen bernilai tinggi.
Dalam setiap putaran gerakan dan tatapan para penari, tergambar ajaran-ajaran leluhur tentang kehalusan budi, ketaatan perempuan terhadap adat, serta keseimbangan antara kekuatan dan kelembutan dalam menjalani kehidupan. Ciri khas Tari Pakarena terletak pada kelembutan dan keanggunan geraknya yang mengalir pelan namun penuh pengendalian.
Para penari perempuan, biasanya berjumlah ganjil, mengenakan busana adat Baju Bodo yang berwarna cerah dengan kain sarung sutra khas Makassar, dihiasi perhiasan emas dan hiasan kepala yang menjulang, membentuk tampilan yang elegan sekaligus berwibawa.
Dalam Pakarena, tidak ada gerakan kasar atau tiba-tiba; semua mengalir pelan dan berulang, seolah-olah menandakan ketenangan jiwa dan keteguhan hati seorang perempuan. Tangan-tangan yang melengkung halus ke luar, mata yang menunduk sopan, dan kaki yang tidak pernah terangkat terlalu tinggi menggambarkan citra perempuan Bugis-Makassar yang lembut, patuh, dan penuh tata krama.
Gerakan yang tampak lambat ini bukan berarti tanpa makna; justru di situlah letak keistimewaannya setiap gerakan melambangkan narasi kehidupan, mulai dari kisah tentang asal muasal manusia, hubungan antara alam gaib dan dunia nyata, hingga petunjuk tentang bagaimana seorang wanita harus bertindak dalam berbagai fase kehidupan.
Tari Pakarena tidak bisa dilepaskan dari iringan musiknya yang khas, dimainkan dengan alat-alat tradisional seperti gendang, gong, suling bambu, dan alat petik tradisional yang disebut kecapi. Musik pengiring ini tidak sekadar menjadi latar suara, melainkan menjadi jiwa yang menghidupkan tarian, mengatur tempo gerakan, serta membentuk suasana yang mendalam dan emosional.
Simak Video Pilihan Ini:
Cerminan Budaya Masyarakat
Ritme musik Pakarena yang berulang-ulang dan cenderung hipnotik menciptakan suasana magis, seolah membawa penonton masuk ke dalam dunia yang berbeda dunia spiritual yang sunyi namun penuh getaran makna. Dalam beberapa versi tradisionalnya, bahkan dilakukan ritual tertentu sebelum pementasan tari, termasuk doa dan pembacaan mantra agar roh leluhur hadir dan menyaksikan tarian tersebut.
Kehadiran penari laki-laki yang bertugas membawa kipas, senjata, atau bendera juga menjadi bagian penting dari pementasan, mencerminkan peran laki-laki sebagai pelindung dalam kehidupan masyarakat tradisional, meskipun peran utama tetap diberikan kepada penari perempuan sebagai simbol pusat keharmonisan.
Makna filosofis dalam Tari Pakarena sangat dalam dan berlapis. Salah satu pesan yang paling menonjol adalah nilai ketundukan dan keikhlasan dalam menjalani hidup, sesuatu yang secara historis sangat dihargai dalam budaya Bugis-Makassar.
Tari ini juga dianggap sebagai media komunikasi antara manusia dan makhluk halus atau roh leluhur, terutama dalam konteks kepercayaan lama yang masih hidup berdampingan dengan agama formal yang kini dianut oleh masyarakat.
Oleh sebab itu, Tari Pakarena tidak bisa dipisahkan dari konteks spiritual masyarakatnya ia bukan sekadar kesenian, melainkan bagian dari laku hidup yang mencerminkan nilai-nilai seperti kesabaran, penghormatan terhadap yang tua, keteguhan menghadapi cobaan, dan penghargaan terhadap keteraturan kosmos.
Dalam dimensi modern, Tari Pakarena juga mengajarkan kita tentang pentingnya kesadaran diri, pengendalian emosi, dan peran perempuan dalam menjaga harmoni sosial, sekaligus menjadi alat diplomasi budaya yang menyampaikan pesan bahwa masyarakat Makassar memiliki peradaban yang tinggi, halus, dan berakar kuat pada nilai-nilai leluhur.
Kini, di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang terus bergerak cepat, Tari Pakarena tetap eksis dan bahkan mengalami kebangkitan sebagai bentuk ekspresi kebudayaan yang membanggakan. Di berbagai festival budaya nasional dan internasional, tarian ini tampil sebagai duta budaya Sulawesi Selatan, menunjukkan kepada dunia bahwa kearifan lokal masih sangat relevan dan menawan di era modern.
Banyak komunitas seni, sekolah, dan institusi budaya yang mengajarkan kembali Tari Pakarena kepada generasi muda, tidak hanya sebagai warisan tari, tetapi juga sebagai warisan nilai. Tantangan tentu ada semakin sedikitnya penari yang benar-benar memahami makna di balik gerakan, semakin banyaknya modifikasi modern yang mengaburkan esensi asli tarian ini.
Namun, harapan tetap hidup selama masih ada orang yang menghargai, memahami, dan mau melestarikan Tari Pakarena bukan hanya dengan tubuh, tetapi juga dengan hati dan jiwa.
Karena pada akhirnya, Tari Pakarena adalah cermin budaya yang hidup, tarian yang tidak hanya ditarikan, tetapi juga dimaknai sebuah peninggalan luhur yang terus menari dalam diam, menuntun generasi Makassar dan Indonesia ke masa depan yang tidak lupa pada akar sejarahnya.
Penulis: Belvana Fasya Saad