Liputan6.com, Jakarta - Libur panjang akhir pekan (long weekend) saat Iduladha 2025 turut membuat tingkat kunjungan di pusat perbelanjaan atau mal naik. Namun, mal ternyata masih lebih ramai di momentum libur kejepit ketimbang long weekend.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, kunjungan ke mal masih lebih tinggi saat hari libur kejepit. Seperti saat hari libur Kenaikan Yesus Kristus pada Kamis, 29 Mei 2025.
Advertisement
Meskipun Jumat, 30 Mei 2025, esoknya ditetapkan sebagai hari cuti bersama, tetapi momen itu tidak jadi tanggal merah untuk semua orang. Lantaran beberapa pegawai swasta masih diwajibkan untuk bekerja.
"Secara umum libur akhir pekan yang panjang atau long weekend sebenarnya kurang dapat mendorong tingkat kunjungan secara maksimal ke pusat perbelanjaan, jika dibandingkan dengan hari libur yang tanggung ataupun hari libur terjepit," ungkap Alphonzus kepada Liputan6.com, Sabtu (7/6/2025).
Lantaran, ia menilai, libur akhir pekan yang panjang lebih menguntungkan bagi industri usaha pariwisata. Di mana masyarakat kelas menengah atas akan lebih banyak bepergian keluar negeri ataupun keluar pulau.
"Masyarakat kelas menengah akan banyak bepergian keluar kota, sehubungan dengan telah cukup baiknya infrastruktur transportasi. Terutama jalan tol yang telah dibangun terkoneksi satu sama lain dan nyaman bagi para pengguna," ujarnya.
Libur Kejepit Lebih Menguntungkan Mal
Di sisi lain, Alphonzus menyebut hari libur yang tanggung atau hari libur kejepit akan lebih menguntungkan bagi pusat perbelanjaan. Lantaran lebih akan secara maksimal mendorong kunjungan ke mal.
"Dikarenakan kurang menguntungkan jika bepergian keluar kota, apalagi keluar pulau serta keluar negeri dalam jangka waktu liburan yang sempit ataupun pendek," kata dia.
"Kondisi tersebut di atas tentunya lebih banyak terjadi di kota-kota besar, seperti salah satunya adalah Jakarta," dia menambahkan.
Lebih Tinggi 10-15% dari Akhir Pekan Biasa
Kendati begitu, ia mengutarakan, momen long weekend tetap membuat kunjungan ke mal lebih ramai dibanding akhir pekan biasa. Dengan estimasi kenaikan berkisar 10-15 pesen.
Sebab, kata Alphonzus, pusat perbelanjaan harus berbagi tingkat kunjungan dengan sektor pariwisata, yang turut digenjot oleh stimulus ekonomi dari pemerintah.
"Seperti diskon tiket pesawat terbang dan kereta api, diskon jalan tol dan lainnya yang semuanya itu mendorong perjalanan wisata," pungkas Alphonzus.