Ragam Kuliner dalam Fase Kehidupan Masyarakat Betawi

Upacara sakral tersebut dilakukan di seluruh fase kehidupan manusia, mulai dari kehamilan, kelahiran, bayi, anak-anak, remaja, perkawinan, hingga kematian.

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 06 Juni 2025, 12:00 WIB
Masih punya daging kambing di dalam kulkas? Langsung bikin resep Gulai Kambing Sedap Wangi aja. (Foto: Bango.co.id)

Liputan6.com, Jakarta - Makanan tak hanya menjadi identitas suatu daerah, melainkan juga sebagai simbol yang menemani setiap fase kehidupan. Sama halnya di lingkungan masyarakat Betawi yang selalu ditandai dengan berbagai kuliner berbeda.

Mengutip dari laman Seni & Budaya Betawi, dalam setiap peringatan atau upacara yang menandai perpindahan fase kehidupan masyarakat Betawi, makanan selalu hadir sebagai simbol tertentu. Upacara sakral tersebut dilakukan di seluruh fase kehidupan manusia, mulai dari kehamilan, kelahiran, bayi, anak-anak, remaja, perkawinan, hingga kematian.

Kehamilan

Pada fase kehamilan, terdapat upacara khas nujuh bulanan. Sesuai namanya, upacara ini digelar saat usia kehamilan mencapai tujuh bulan. Upacara ini bertujuan untuk memperoleh perlindungan dari Allah SWT.

Dalam pelaksanaanya, upacara nujuh bulan juga diikuti dengan pembacaan Al-Qur'an, terutama surah Yusuf dan Maryam. Melalui upacara ini, keluarga berharap Tuhan memberikan perlindungan kepada bayi agar lahir dengan selamat, saleh, dan berakhlak mulia.

Dalam upacara ini, terdapat hidangan wajib berupa rujak yang terdiri dari tujuh buah-buahan. Biasanya, buah-buahan yang digunakan adalah delima, mangga muda, jeruk bali, pepaya setengah matang, bengkuang, plum, dan kentang manis. Sajian rujak ini dilengkapi dengan sambal rujak yang terdiri dari gula aren, asam jawa, cabai rawit, garam, dan terasi.

Tujuh buah-buahan tersebut dipilih karena memiliki makna tersendiri. Sebut saja delima yang matang dan berwarna merah dipercaya dapat membuat bayi sangat menarik dan disukai semua orang.

 

Kelahiran

Pada fase kelahiran, masyarakat Betawi akan menggelar prosesi mapas. Dalam pelaksanaannya, ibu yang baru melahirkan diharuskan mengonsumsi sayur papasan yang banyak mengandung jenis sayuran untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi baru lahir.

Bayi

Fase bayi merupakan salah satu fase yang paling penting. Selama periode ini, seorang manusia belajar untuk memahami berbagai hal. Sebagai masyarakat yang religius, orang Betawi biasanya akan menjalankan syariat Islam akikah.

Pesta akikah dilakukan dengan menyembelih dua kambing untuk anak laki-laki atau satu kambing untuk anak perempuan. Upacara lainnya adalah memotong rambut bayi ketika sudah berumur 40 hari.

Selain itu, ada juga fase puput puser yang akan dibarengi dengan prosesi puput puser atau puputan. Upacara ini diselenggarakan saat tali pusat bayi lepas atau puput.

Adapun upacara yang biasanya dilakukan adalah pesta komunal sederhana dengan sajian nasi kuning. Tak lupa, aneka lauk pauk dan ayam sempyok juga disajikan sebagai pendamping.

Selain dua upacara tersebut, fase bayi juga diisi dengan mengadakan pengajian dan berbagi nasi berkat. Umumnya, nasi berkat berisi daging kambing yang dimasak menjadi gulai atau sate.

Fase Remaja hingga Dewasa

Pada fase remaja, orang Betawi memiliki dua prosesi, yaitu sunatan atau khitanan (untuk anak laki-laki) dan khatam Al’Quran atau pembacaan seluruh Al-Qur’an. Dalam acara sunatan, orang Betawi akan menyajikan nasi kuning khas Betawi yang terbuat dari ketan.

Nasi ini dilengkapi dengan lauk pauk berupa semur daging, acar kuning, serundeng, bawang goreng, dan emping melinjo. Adapun pada acara khataman, makanan yang disajikan berupa nasi kuning, nasi uduk, hingga tumpeng.

Memasuki fase dewasa, orang Betawi akan menggelar acara yang berhubungan dengan pernikahan. Setidaknya, terdapat tujuh prosesi selama fase dewasa, di antaranya ngedeleng, ngelamar, bawe tande putus, sebar undangan, ngerudut, akad nikah, kebesaran, negot, dan pulang tige ari.

Penulis: Resla

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya