Buyback Saham Capai Rp 21,49 Triliun, Pasar Modal RI Tetap Bergairah di Tengah Gejolak Global

Sebanyak 40 emiten menyampaikan rencana pembelian kembali saham (buyback) tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Investor asing mulai kembali masuk ke pasar, mencatatkan net buy sebesar Rp 5,53 triliun

oleh Tira SantiaDiterbitkan 03 Juni 2025, 11:05 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan, Derivatif, dan Bursa Karbon (KE PMDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi, dalam konferensi pers RDKB OJK, ditulis Selasa (3/6/2025). (Tira/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan, Derivatif, dan Bursa Karbon (KE PMDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi, melaporkan selama periode 20 Maret hingga 28 Mei 2025 tercatat sebanyak 40 emiten menyampaikan rencana pembelian kembali saham (buyback) tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), dengan total alokasi dana mencapai Rp21,49 triliun.

"Dari 40 Emiten tersebut terdapat 31 Emiten yang telah melakukan pelaksanaan buyback dengan nilai realisasi sebesar Rp2,16 triliun atau sebesar 10,05 persen," dalam konferensi pers RDKB OJK, ditulis Selasa (3/6/2025).

Meski dihadapkan pada ketidakpastian global akibat tensi perdagangan dan geopolitik, pasar saham domestik tetap menunjukkan ketahanan. Secara month-to-date (mtd), indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat 6,04 persen ke level 7.175,82, dan secara year-to-date (ytd) naik 1,35 persen.

"Nilai kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp12.420 triliun atau naik 6,11 persen mtd (naik 0,69 persen ytd)," ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, investor asing mulai kembali masuk ke pasar, mencatatkan net buy sebesar Rp 5,53 triliun secara mtd pada Mei 2025. Ini menjadi pembalikan tren setelah sebelumnya sejak Desember 2024 tercatat net sell. Namun, secara ytd investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp45,19 triliun.

Dari sisi sektoral, hampir seluruh indeks sektor mencatatkan penguatan, dengan sektor material dasar (basic material) dan energi menjadi yang tertinggi. Sektor teknologi menjadi satu-satunya yang mengalami pelemahan.

"Kinerja indeks sektoral secara umum menguat dengan penguatan tertinggi dialami oleh sektor basic material, dan energy, sementara hanya sektor technology terpantau melemah," ujarnya.

 

Sisi Likuiditas

Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian pasar saham secara ytd mencapai Rp12,90 triliun, meningkat dari Rp12,47 triliun pada April 2025.Di pasar obligasi, indeks ICBI naik 0,78 persen mtd ke level 409,16, seiring dengan penurunan rata-rata yield Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 4,76 basis poin mtd.

Investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp24,09 triliun mtd di pasar SBN, dan sebesar Rp0,21 triliun di obligasi korporasi.

Dalam industri pengelolaan investasi, nilai Asset Under Management (AUM) per 27 Mei 2025 mencapai Rp848,88 triliun, naik 1,91 persen mtd. Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana juga mengalami kenaikan menjadi Rp517,99 triliun, atau naik 3,16 persen mtd, dengan total net subscription sebesar Rp8,26 triliun pada Mei 2025.

 

Penghimpunan Dana di Pasar Modal

Karyawan memfoto layar pergerakan IHSG, Jakarta, Rabu (3/8/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu (3/08/2022), ditutup di level 7046,63. IHSG menguat 58,47 poin atau 0,0084 persen dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

OJK juga mencatat bahwa penghimpunan dana di pasar modal masih berada pada tren positif. Total nilai Penawaran Umum mencapai Rp65,56 triliun, termasuk Rp3,31 triliun dari 6 emiten baru.

"Sementara itu, masih terdapat 85 pipeline Penawaran Umum dengan perkiraan nilai indikatif sebesar Rp74,94 triliun," ujarnya.

Sementara itu, perkembangan Securities Crowdfunding (SCF)menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan. Sejak diberlakukannya regulasi SCF hingga 27 Mei 2025, telah ada 18 penyelenggara yang mengantongi izin OJK, dengan 825 efek diterbitkan oleh 594 penerbit. Jumlah investor SCF tercatat sebanyak 180.862 dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp1,57 triliun.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya