Liputan6.com, Jakarta - Pola asuh berdampak pada perkembangan anak. Hal-hal seperti cara orangtua berkomunikasi dengan anak, memperlakukan, mendidik, serta menerapkan disiplin pada anak termasuk ke dalam pola asuh.
Ada beberapa jenis pola asuh yang diterapkan orangtua ke anak dan memiliki dampak tertentu. Beberapa tipe pola asuh itu termasuk:
Advertisement
Pola Asuh Otoriter
Pola asuh otoriter cenderung penuh kekerasan, banyak larangan, sedikit kasih sayang dan kurang kedekatan. Membuat anak cenderung tumbuh dengan rasa tidak berharga, bisa juga memberontak.
Pola Asuh Demokratif
Pola asuh demokratif dinilai cukup ideal. Ada keseimbangan antara ketegasan dengan kasih sayang. Anak tumbuh dengan paham aturan, juga tangki cinta kasihnya terisi. Mereka memahami dirinya berharga dan layak didengarkan.
Pola Asuh Permisif
Pola asuh permisif cenderung menuruti segala keinginan anak, tidak ada batasan. Seakan kebebasan penuh itulah kasih sayang. Padahal anak butuh dibentuk karakternya, kebiasaannya, etikanya, dan moralnya.
Pola Asuh Neglected
Pola asuh neglected atau pengabaian adalah pola asuh yang meniadakan kasih sayang, ketegasan, dan pemenuhan kebutuhan lainnya. Ini tentu membuat anak sangat kehilangan arah hidup.
“Maka, ada baiknya sebelum masuk pada jenjang pernikahan, masing-masing individu mempelajari apa itu relasi pernikahan? Apa dan bagaimana menjalani peran sebagai suami dan istri? Agar ini benar-benar dipersiapkan dan dipahami,” kata psikolog Livina Suryanata , M.Psi, dalam keterangan pers Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) dikutip pada Senin (2/6/2025).
Pengetahuan Soal Pola Asuh sebagai Bekal Berumah Tangga
Livina menyampaikan, pengetahuan tentang pola asuh sangatlah penting untuk menjadi bekal menjalani rumah tangga agar mampu mengarahkan diri saling mendukung membentuk keluarga yang fungsional.
Sebaiknya, pasangan suami istri juga membekali diri dengan pengetahuan yang cukup mengenai peran sebagai orangtua. Apalagi mendampingi anak bertumbuh di setiap tahapan memiliki cara dan tantangan yang berbeda-beda.
“Setiap orang perlu berproses memahami kekurangan dan kelebihan dirinya untuk menjadi versi dirinya yang terbaik. Tidak ada keluarga yang sempurna. Namun setiap orang punya kesempatan untuk belajar menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri demi menciptakan keluarga yang fungsional menghadapi tantangan kehidupan modern,” ucap Livina.
Program Pembekalan Ilmu Parenting bagi Orangtua
Untuk memberi bekal itu, Kemendukbangga menyediakan program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Program ini bertujuan agar setiap ayah memiliki kesadaran soal peran penting dalam pola pengasuhan anak.
Keberadaan program GATI diperkuat dengan kehadiran Kelas Orangtua Hebat yang menghadirkan tenaga ahli di bidangnya untuk memberikan materi terkait permasalahan yang terjadi di masyarakat.
Program ini diperkuat dengan kehadiran program Taman Asuh Sayang Anak atau Tamasya untuk menggerakan program utama yang diampu, yakni Pembangunan Keluarga. Tamasya sendiri adalah program pemberdayaan anak-anak di tempat penitipan anak.
Kehadiran program yang menjadi bagian dari quick wins Kemendukbangga/BKKBN itu dilandasi kekhawatiran semakin "menggilanya" penggunaan gawai di era modern sekarang ini. Bukan saja oleh orang dewasa, tetapi sudah merambah ke dunia anak-anak.
Ironisnya, kebanyakan orangtua belum memahami tentang batasan penggunaan gawai yang berdampak kepada anak. Orangtua, apalagi anak, susah memfilter informasi yang begitu luas yang mereka terima. Informasi itu menciptakan kebiasaan-kebiasaan dan perilaku tidak sesuai dengan usia anak.