Penyangga Iklim Bumi Mulai Masuk Titik Balik, Bersiap Menuju Perubahan Permanen

Dunia kini di ambang tipping points—batas kritis saat sistem iklim bisa runtuh sendiri. Dampak perubahanya disebut bisa terjadi permanen.

oleh Agustinus Mario DamarDiterbitkan 01 Juni 2025, 19:00 WIB
Pencairan lapisan es di Antartika Barat akan meningkat dan tidak bisa dihindari dalam beberapa dekade mendatang. (Photo: I. NOYAN YILMAZ/SCIENCE PHOTO LI via AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Bumi disebut tengah bersiap menghadapi ancaman lebih besar akibat perubahan iklim ekstrem. Menurut para peneliti, hal ini diakibatkan titik balik iklim atau tipping points yang disebut akan segera dilalui.

Untuk diketahui, tipping points merupakan titik kritis ketika sistem Bumi berubah secara drastis dan permanen. Setelah melewati batas ini, perubahan akan terjadi secara mandiri, bahkan lebih cepat serta tidak bisa dikembalikan dengan mudah.

Dikutip dari Earth.com, Minggu (1/6/2025), kondisi ini bisa terjadi karena kenaikan suhu global yang telah melewati ambang batas 1,5°C pada tahun 2024.

"Setiap sepersepuluh derajat di atas 1,5°C meningkatkan risiko," ujar Annika Ernest Högner dari Potsdam Institute for Climate Impact Research.

Perubahan ini disebut bukan sekadar angka. Sebab, setiap sepersepuluh derajat tambahan meningkatkan risiko terganggunya “penyangga” utama iklim Bumi seperti lapisan es Greenland, lapisan es Antarktika Barat, arus laut Atlantik, dan hutan hujan Amazon.

 

Perubahan yang Sudah Terjadi

Gambar satelit yang diambil oleh satelit Copernicus Sentinel-3 pada 15 November 2023 dan dirilis oleh Maxar Technologies pada 26 November 2023, menunjukkan gunung es A23a (CR) di dekat Pulau Joinville (CL), di Samudra Selatan. Gunung es terbesar di dunia, yang terpisah dari garis pantai Antartika pada 1986, kini mulai bergerak setelah lebih dari 30 tahun. Luasnya hampir 4.000 km persegi (1.500 mil persegi), lebih dari dua kali luas London Raya, dan tebalnya kira-kira 400 m (1.312 kaki). (HANDOUT / COPERNICUS SENTINEL-3 / AFP)

Para peneliti sempat mengungkap beberapa contoh perubahan yang sudah terjadi. 

Berapa di antaranya adalah lapisan es mencair lebih cepat daripada kemampuannya membeku kembali, hutan hujan Amazon kehilangan kelembapan dan berubah menjadi sabana, hingga arus laut Atlantik melemah akibat air tawar dari pencarian es.

Yang lebih mengkhawatirkana, perubahan ini saling berkaitan. Kehancuran satu sistem dapat mempercepat keruntuhan lainnya yang dikenal sebagai fenomena tipping cascade.

Di sisi lain, meski target iklim global menahan suhu di bawah 1,5°C, dunia kini mengalami overshoot yakni lonjakan suhu sementara di atas batas.

Studi terbaru menunjukkan jika suhu nantinya diturunkan kembali, kerusakan yang telah dipicu bisa berlangsung selama ratusan tahun. Ini karena sistem iklim tidak pulih secepat ketika terganggu.

 

Perubahan yang Terjadi Permanen

Foto udara dari area hutan hujan Amazon yang gundul akibat kebakaran ilegal di kotamadya Labrea, Negara Bagian Amazonas, Brasil, diambil pada tanggal 20 Agustus 2024. (EVARISTO SA / AFP)

Simulasi komputer menunjukkan semakin tinggi puncak suhu dan semakin lama dunia berada di atas 1,5°C, maka semakin besar kemungkinan satu atau lebih sistem Bumi mengalami keruntuhan permanen.

Terlebih, saat ini, kebijakan iklim global masih menempatkan kita di jalur menuju 2,6°C pemanasan hingga akhir abad ini. Kondisi ini jelas melewati batas bahaya.

Untuk itu, para peneliti mengingatkan tipping points bukan lagi sekadar konsep akademis. Alasannya, ini merupakan kondisi yang bisa terjadi, serta jika dilewati, dunia akan memasuki fase iklim baru yang tidak bisa dikendalikan.

Infografis Journal Dunia Kepanasan, Akibat Perubahan Iklim Ekstrem?. (Liputan6.com/Tri Yasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya