1 Juni 1993: Artileri Serbia Serang Pertandingan Sepak Bola Sarajevo, 11 Orang Tewas Termasuk 4 Anak

Ratusan pria, wanita, dan anak-anak sedang menyaksikan pertandingan ketika peluru pertama menghantam lapangan.

oleh Tanti YulianingsihDiterbitkan 01 Juni 2025, 06:00 WIB
Ilustrasi lapangan sepak bola. (dok. Sandro Schuh/Unsplash)

Liputan6.com, Beograd - Sebelas orang tewas setelah pasukan Serbia menembakkan artileri ke arah pertandingan sepak bola hari libur di Bosnia. Empat anak termasuk di antara korban tewas, dan 100 lainnya terluka di lapangan darurat di pinggiran Sarajevo, Dobrinja.

Ratusan pria, wanita, dan anak-anak sedang menyaksikan pertandingan ketika peluru pertama menghantam lapangan. Beberapa menit kemudian, tembakan kedua menyasar, melukai mereka yang berusaha menolong korban serangan pertama.

"Hari ini sangat buruk, banyak pasien terluka, termasuk warga sipil dan anak-anak," kata Dr. Mufiazod Lvic, seorang ahli bedah di Sarajevo seperti dikutip dari BBC on This Day, Minggu (1/6/2025).

Meskipun wilayah itu sering mengalami serangan, warga percaya bahwa blok apartemen tinggi di sekitar lapangan cukup melindungi mereka dari artileri Serbia. Kini, banyak yang yakin pertandingan tersebut sengaja menjadi sasaran.

Serangan di Hari Raya Muslim

Ilustrasi jenazah. (Pexels.com/Pavel Danilyuk)

Serangan terjadi pada salah satu hari raya Muslim terpenting tahun itu. Kawasan tersebut seharusnya termasuk zona "aman" PBB — istilah yang ditolak mentah-mentah oleh Presiden Bosnia Alija Izetbegovic. Pemerintahnya menyebut zona itu hanya "jebakan maut."

Bosnia menuduh komunitas internasional membiarkan Serbia dan memperingatkan bahwa tanpa perubahan kebijakan, pembantaian Muslim akan terus berlanjut.

Cedric Thornberry dari pasukan perlindungan PBB membela konsep zona aman: "Kesulitan kami bukan hanya soal kerja sama pihak-pihak terkait, tetapi juga kurangnya pasukan di lapangan. Pemerintah pun tidak bergegas mengirim tambahan tentara."

Menteri Luar Negeri Inggris Douglas Hurd berharap Dewan Keamanan PBB segera mengeluarkan resolusi tentang perlindungan aman di Bosnia.

Pembantaian Dua Tahun Kemudian

Ilustrasi jenazah. (Credit: pexels.com/Pavel)

Serangan di pinggiran Kota Dobrinja diikuti oleh pembantaian dua tahun kemudian yang lebih buruk pada tahun 1995, ketika 'tempat berlindung yang aman' Srebrenica dikuasai oleh pasukan Serbia Bosnia pimpinan Jenderal Ratko Mladic.

Ribuan pria dan anak laki-laki Muslim Bosnia dipisahkan dari keluarga mereka dan dibantai, meskipun ada pasukan PBB Belanda.

Orang Kroasia Bosnia merebut sebagian besar wilayah yang sebelumnya diduduki oleh orang Serbia Bosnia.

Pada tahun 1995, Perjanjian Damai Dayton ditandatangani di Paris, yang menciptakan dua entitas dengan ukuran yang hampir sama, satu untuk Muslim Bosnia dan Kroasia, yang lainnya untuk orang Serbia.

Pasukan penjaga perdamaian internasional dikerahkan, yang menandakan dimulainya era baru bagi Bosnia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya