Scudetto Lepas? Ini Momen-Momen yang Hancurkan Peluang Juara Inter Milan

Inter Milan kehilangan poin saat melawan Lazio di San Siro. Hasil ini membuat peluang Inter untuk mempertahankan gelar Serie A musim ini semakin terancam.

oleh Aga Deta AndityaDiperbarui 20 Mei 2025, 13:45 WIB
Inter Milan merespons dengan serangan balik. Di menit ke-79, sundulan Denzel Dumfries membawa La Beneamata memimpin kembali. (Nicolo Campo/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Inter Milan kehilangan poin saat melawan Lazio di San Siro pada akhir pekan kemarin. Hasil ini membuat peluang Inter untuk mempertahankan gelar Serie A musim ini semakin terancam.

Nerazzurri ditahan imbang Lazio 2-2. Kehilangan dua poin itu terasa lebih menyakitkan karena Napoli juga gagal menang atas Parma di laga lainnya sehingga batal mengambil alih puncak klasemen.

Bermain di kandang sendiri, Inter sebenarnya sempat unggul dua kali saat melawan Lazio. Namun, dua kali pula keunggulan mereka sirna karena kurangnya konsentrasi di menit-menit penting.

Kegagalan ini tentu membuat fokus tertuju pada hasil imbang kontra Lazio yang terasa menentukan. Namun jika ditarik ke belakang, sejumlah poin yang terbuang sejak awal musim sebenarnya jauh lebih merugikan.

Musim ini, Inter kembali melakukan kesalahan serupa seperti musim 2021/2022. Dan jika tidak ada keajaiban di pekan terakhir, sejarah tampaknya akan kembali terulang dengan akhir yang menyakitkan.


Start Lambat yang Berbuah Bencana

Bek Inter Milan asal Italia, Francesco Acerbi (kiri) berebut bola dengan gelandang Lazio asal Uruguay, Matias Vecino selama pertandingan sepak bola Serie A Italia di stadion San Siro, Milan, pada 18 Mei 2025. (Nicolo Campo/AFP)

Inter memulai Serie A musim ini dengan langkah terseok-seok. Dari lima laga pertama, mereka hanya meraih dua kemenangan.

Padahal, beberapa lawan yang dihadapi bukan tim unggulan. Mereka kebobolan gol penyama dari Genoa di menit ke-95 dan hanya bermain imbang lawan Monza yang sepanjang musim berada di dasar klasemen.

Kekalahan dari Milan dalam Derby della Madonnina juga menjadi pukulan awal. Ironisnya, Milan kemudian memecat pelatih mereka hanya tiga bulan setelah laga itu.


Lengah di Momen-Momen Kritis

Saat ini, Inter Milan tertahan di posisi dua klasemen Serie A 2024/2025 dengan 78 poin dari 37 pertandingan, tertinggal satu poin dari Napoli, sang pemuncak klasemen Serie A 2024/2025. (Nicolo Campo/AFP)

Kesalahan Inter tidak berhenti di awal musim saja. Mereka terus kehilangan poin di pertandingan-pertandingan yang seharusnya bisa dimenangkan.

Pada Oktober, mereka sempat unggul 4-2 atas Juventus, tapi kebobolan dua gol di 20 menit terakhir dan harus puas dengan hasil imbang 4-4. Laga melawan Napoli di San Siro juga berakhir 1-1, meski mereka tampil dominan.

Bulan Februari juga tak kalah mengecewakan. Mereka kalah 0-1 dari Juventus dalam laga minim peluang, dan kembali sial saat gol kemenangan Bologna tercipta di masa injury time.


Jadwal Padat dan Kelelahan Menumpuk

Menjaga peluang juara Serie A musim 2024/2025, I Nerazzurri tampil dominan sejak awal laga. (Nicolo Campo/AFP)

Memang, Inter menjalani musim yang sangat padat, dengan laga setiap tiga hari dan partisipasi hingga fase akhir Liga Champions. Wajar jika energi dan fokus menurun di akhir musim.

Namun, hal itu seharusnya bisa diantisipasi sejak awal. Dropping poin di awal musim terjadi saat skuat masih segar dan belum terlalu terdampak rotasi.

Simone Inzaghi dan timnya tahu betapa pentingnya konsistensi, apalagi setelah gagal juara karena satu poin saja pada 2022. Sayangnya, pelajaran itu belum sepenuhnya mereka petik.


Satu-Satunya Harapan: Final Liga Champions

Bek Inter Milan, Yann Bisseck berebut bola dengan pemain Lazio, Taty Castellanos pada lanjutan Serie A 2024/2025 di Giuseppe Meazza, 19 Mei 2025. (Spada//LaPresse via AP)

Kini, Inter tak punya pilihan selain menang di laga terakhir sambil berharap pesaing mereka terpeleset. Jika tidak, mereka hanya bisa berharap pada Liga Champions untuk menutup musim dengan senyuman.

Final di Eropa nanti bisa menjadi penyelamat atau penegas kegagalan total musim ini. Segalanya kini bergantung pada mentalitas dan kesiapan mereka menghadapi momen krusial.

Namun satu hal yang pasti, jika gelar Serie A kembali lepas, penyebab utamanya bukan hanya satu laga imbang di pekan terakhir. Tapi karena terlalu banyak poin terbuang sejak lama.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya