Ekonomi Indonesia Melambat di Kuartal I 2025, Ternyata Gara-gara Ini

Pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 4,87% (YoY) di kuartal I 2025, lebih rendah dari 5,02% pada kuartal sebelumnya, sekaligus menjadi laju pertumbuhan paling lambat sejak kuartal ketiga 2021.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 16 Mei 2025, 11:15 WIB
Motor utama ekonomi, konsumsi rumah tangga, tumbuh tipis 4,89% (YoY), tertahan oleh penurunan daya beli pada kelompok makanan dan minuman serta transportasi & komunikasi. (Liputan6.com/Angga Yuniar).

Liputan6.com, Jakarta - Ekonomi Indonesia diperkirakan akan melambat pada 2025. Hal ini terlihat dari realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2025 yang tidak lebih dari 5%. Perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia ini didorong oleh sejumlah faktor, mulai dari ketidakpastian global akibat perang dagang hingga melemahnya permintaan konsumsi dan investasi.

Permata Institute for Economic Research (PIER), lembaga riset ekonomi milik Permata Bank, memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2025 hanya akan berada di kisaran 4,5% hingga 5%, menurun dibandingkan realisasi 2024 sebesar 5,03%, dan lebih rendah dari proyeksi awal sebesar 5,11%.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menjelaskan, PIER memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 akan melambat, lebih rendah dari target sebelumnya. Ketidakpastian perang dagang yang meningkat telah mendorong perusahaan untuk menunda investasi dan rencana ekspansi.

"Oleh karena itu, kami berharap pemerintah dapat merespons dengan kebijakan fiskal yang lebih ekspansif dan stimulus tepat sasaran, agar konsumsi dan investasi domestik kembali bergerak," kata Josua Pardede dikutip Jumat (16/5/2025).

Data kuartal I 2025 mengonfirmasi tren pelemahan. Pertumbuhan PDB hanya mencapai 4,87% (YoY), lebih rendah dari 5,02% pada kuartal sebelumnya, sekaligus menjadi laju pertumbuhan paling lambat sejak kuartal ketiga 2021.

 

Motor Utama Ekonomi Melambat

Tercatat, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia hingga Maret 2024 mencapai level 54,2 poin. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Motor utama ekonomi, konsumsi rumah tangga, tumbuh tipis 4,89% (YoY), tertahan oleh penurunan daya beli pada kelompok makanan dan minuman serta transportasi & komunikasi. Sementara itu, pertumbuhan investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga melambat signifikan menjadi 2,12%, terutama karena investasi pada bangunan, struktur, mesin, dan peralatan ikut menurun.

Belanja pemerintah pun tidak mampu menjadi penopang karena mengalami kontraksi sebesar 1,38% (YoY), menyusul realisasi tinggi pada 2024 akibat dorongan belanja Pemilu. Hanya sektor ekspor yang mencatat pertumbuhan, didorong oleh penguatan kinerja ekspor nonmigas.

Dari sisi sektoral, meskipun sektor pertanian tumbuh signifikan sebesar 10,52% (YoY) berkat panen padi dan jagung, serta sektor manufaktur dan perdagangan ritel menunjukkan pertumbuhan stabil, sektor konstruksi dan pertambangan justru mengalami tekanan. Kontraksi terjadi di pertambangan akibat pemeliharaan tambang emas dan tembaga, sementara sektor konstruksi melambat karena adanya realokasi anggaran pemerintah.

“Melihat tren ini, PIER merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 menjadi di bawah 5%, lebih rendah dari perkiraan awal sebesar 5,11%,” ujarnya.

 

Perang Dagang

Suasana gedung pencakar langit di Jakarta, Selasa (15/11/2022). Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi salah satu yang terbaik di antara negara G20. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Ketegangan perdagangan global masih menjadi sumber utama tekanan terhadap ekonomi domestik. Perang dagang yang belum mereda berpotensi menghambat arus investasi dan memperlemah konsumsi dalam negeri. Sektor-sektor berorientasi ekspor, terutama yang sangat tergantung pada pasar Amerika Serikat seperti tekstil, garmen, elektronik, furniture, serta produk karet, diprediksi akan terkena dampak paling besar.

Sebaliknya, sektor-sektor yang lebih fokus pada pasar domestik seperti perdagangan dan jasa diperkirakan tetap mampu menopang pertumbuhan, meskipun tidak cukup untuk mengimbangi pelemahan dari sektor lainnya.

"Meningkatnya kekhawatiran atas perlambatan pertumbuhan yang tampak lesu dapat membuka ruang bagi pelonggaran moneter. Jika ketidakpastian global mereda dan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed menguat, maka Bank Indonesia dapat memangkas suku bunga acuan (Bl-Rate) hingga 50 basis poin sepanjang sisa tahun ini," tutup Josua Pardede.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya