Mengenal Sastrawan Betawi di Era Pra Kemerdekaan

Pada masa itu, beberapa sastrawan Betawi aktif menerbitkan karya-karya mereka. Selain dalam bentuk tulis, mereka juga berkontribusi dalam sastra lisan.

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 16 Mei 2025, 05:00 WIB
Ilustrasi babad, sastra. (Gambar oleh Dariusz Sankowski dari Pixabay)

Liputan6.com, Jakarta - Perkembangan karya sastra Indonesia telah mengalami perkembangan sejak masa pra-kemerdekaan hingga sekarang. Beberapa sastrawan Betawi memiliki kontribusi yang cukup besar dalam perjalanan tersebut.

Pada masa itu, beberapa sastrawan Betawi aktif menerbitkan karya-karya mereka. Selain dalam bentuk tulis, mereka juga berkontribusi dalam sastra lisan.

Mengutip dari laman Seni & Budaya Betawi, jumlah sastrawan Betawi pada masa sebelum kemerdekaan memang tak terlalu banyak. Namun, eksistensi mereka dapat dilihat sebagai sahibulhikayat atau tukang cerita yang kebanyakan memiliki pendidikan beragam, mulai dari pendidikan Belanda, pesantren, maupun madrasah.

Sebagai tukang cerita, sumber keahlian mereka tak dapat ditelusuri secara jelas. Beberapa orang menyebut mereka belajar dari guru atau cukup belajar sendiri (autodidak).

1. Muhammad Bakir bin Sofyan bin Usman bin Fadli

Penyalin atau penulis naskah Muhammad Bakir bin Sofyan bin Usman bin Fadli adalah salah satu sastrawan Betawi yang tak diketahui detail latar belakangnya. Hanya tempat tinggal saja yang diketahui, yakni di Kampung Pecenongan, Langgar Tinggi.

Naskah-naskahnya menggunakan huruf Jawi, sehingga diperkirakan ia pandai baca tulis Arab. Ia juga diprediksi pandai dalam baca tulis naskah-naskah Melayu.

Besar kemungkinan, kemahirannya menulis diperoleh dari proses belajar secara turun temurun dari orang tuanya. Dari naskah-naskah yang ia tulis, ia lalu menyewakannya dengan tarif 10 sen per hari per satu naskah. Muhammad Bakir memanfaatkan keahliannya dalam menyalin atau menulis naskah untuk memperoleh nafkah.

2. Oom Piet

Setelah zaman Muhammad Bakir, tak begitu jelas keberadaan sastrawan Betawi berikutnya. Pada masa itu, muncul surat kabar Betawi, seperti Soerat Chabar Betawie (1858), Bintang Betawi (1900), dan surat kabar Taman Sari (1904).

Dengan demikian, seharusnya lahir pula sastrawan-sastrawan Betawi lainnya. Terdapat seorang penulis yang kerap menggunakan nama samaran, Oom Piet. Ia mengasuh rubrik Omong-Omong Hari Senen dalam surat kabar Taman Sari yang terbit 13 Januari 1904. Sama seperti Muhammad Bakir, ia juga tak diketahui lebih lanjut soal jati dirinya.

 

Kwee Kek Beng

3. Kwee Kek Beng

Selain dua nama di atas, ada juga sastrawan Betawi lainnya bernama Kwee Kek Beng. Ia adalah orang Betawi keturunan Tionghoa yang lahir di Jakarta pada 16 November 1900.

Ia tamat belajar di HCS, sekolah menengah di Jakarta. Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikan ke HKS, sekolah guru di Jakarta.

Kwee Kek Beng telah menjadi wartawan dan pengarang sejak muda. Sebagai pengarang, ia kerap menggunakan nama samaran Anak Djakarta atau Garem. Kwee Kek Beng meninggal dunia di Jakarta pada 31 Mei 1975.

4. Tio Is Soei

Selain Kwee Kek Beng, ada pula sastrawan keturunan yang banyak mengangkat soal kebetawian. Adalah Tio Is Soei yang sayangnya tak diketahui secara jelas identitas dan latar belakangnya.

Pada 1911, ia mulai menulis karya fiksi dan menerbitkan novel pertamanya, Sie Po Giok. Selain menulis novel dan biografi, Tio Is Soei juga banyak menulis untuk surat kabar dan majalah.

5. Aman Dt. Madjoindo

Pada 1930-an, muncul sosok Aman Dt. Madjoindo. Ia menulis buku berbahasa Betawi berjudul Si Doel Anak Betawi.

Dalam Ensiklopedia Sastra Indonesia, ia dikenal sebagai novelis dan pengarang cerita anak-anak. Selain sebagai pengarang, Aman juga bekerja sebagai penerjemah.

6. Tjalie Robinson

Ada satu lagi sastrawan sebelum merdeka yang terkenal, yakni Tjalie Robinson. Ia dilahirkan di Belanda, tetapi banyak menghabiskan masa mudanya di Indonesia.

Ia banyak menulis sebagai sastrawan, kolumnis, dan jurnalis. Ia juga merupakan seorang guru. Dua keahlian tersebut ia gunakan untuk banyak membina sastra dan seni.

Penulis: Resla

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya