Megawati Tegaskan Tanah Subur Bali Milik Negara untuk Rakyat, Tak Boleh Dikonversi

Megawati meminta para kepala daerah dari PDIP meniru apa yang dilakukan Gubernur Bali I Wayan Koster dengan membuat peta pembangunan 100 tahun Bali.

oleh Delvira HutabaratDiterbitkan 09 Mei 2025, 07:22 WIB
Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato politiknya saat perayaan HUT ke-51 PDIP di Sekolah Partai DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Rabu (10/1/2024). PDIP merayakan HUT ke-51 dengan tema "Safyam Era Jayate, Kebenaran Pasti Menang". (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri mengusulkan agar tanah subur di Bali tidak dikonversi atau tidak boleh diubah-ubah.

Hal itu disampaikan Megawati dalam sambutannya di acara Penganugerahan Trisakti Tourism Award 2025 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (8/5/2025).

Awalnya, Megawati meminta para kepala daerah dari PDIP meniru apa yang dilakukan Gubernur Bali I Wayan Koster dengan membuat peta pembangunan 100 tahun Bali. Menurutnya, hal itu tak boleh ditentang pemerintah pusat, sebab demi kebaikan rakyat.

"Yang saya minta apa? Orang asing? Oh, bukan. Yang nomor satu adalah apa? Tanah subur di Bali dikonversi. Apa artinya dikonversi? Tidak boleh diubah. Dia adalah milik negara untuk rakyat," kata Megawati dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (9/5/2025).

Menurutnya, tanah Bali bisa digunakan untuk rakyat, misalnya untuk menghasilkan pendapatan.

"Bisa mengolah, mencari makannya. Mengerti? Awas nggak mengerti dan tidak dilaksanakan. Kalau Bali saja bisa, masak daerah lain tidak bisa," katanya.

Ingatkan Orang Asing di Bali Tak Boleh Seenaknya

Megawati kemudian mengingatkan juga bahwa di Bali orang asing tak boleh berperilaku seenaknya.

"Orang asing. Tidak boleh seenak-enaknya sendiri. Kenapa? Di Bali pernah kejadian, Masya Allah. Di Bali itu kan pura. Tahu-tahu ditayangkan. Gimana sih ini juga? Tolong, dong, kalian itu,” kata dia.

“Masa ada orang asing? Maaf, ya. Tidak berpakaian masuk ke pura. Ada apa itu? Ada apa itu? Tolong jawab saya. Kalau ada yang mau protes, itu kan tidak beradab. Saya suruh dia deportasi. Boleh tanya sama Pak Giri. Betul? Seketika,” sambungnya.

Dideportasi

Megawati mengaku tak bisa mentolerir perilaku orang asing yang tak pantas di Bali. Untuk itu, ia memerintahkan agar orang tersebut dideportasi.

"Saya bilang, no, no, deportasi, deportasi. Sekarang di Bali, ya, itu salah satu supaya mau bikin gubernur. Jadi, kalau ada orang asing masuk, saya sudah minta juga untuk diberlakukan ke seluruh bagian daripada kita," pungkasnya.

Infografis Menanti Pertemuan Prabowo dengan Megawati. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya