Indonesia Rilis Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2025, IHSG Melompat 0,53%

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melonjak 0,53% pada sesi pertama perdagangan, Senin, (5/5/2025).

oleh Agustina MelaniDiperbarui 05 Mei 2025, 12:29 WIB
Penguatan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengumumkan penangguhan 90 hari atas tarif timbal balik terhadap mitra dagang. (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di zona hijau hingga penutupan perdagangan sesi pertama, Senin (5/5/2025). Penguatan IHSG terjadi di tengah rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025 yang mencapai 4,87%.

Mengutip data RTI, IHSG ditutup melonjak 0,53% pada sesi pertama perdagangan awal pekan ini. IHSG ditutup ke posisi 6.851,54 pada sesi pertama. Indeks saham LQ45 menguat 0,81% ke posisi 769,54. Seluruh indeks saham acuan menghijau.

Pada sesi pertama, IHSG berada di level tertinggi 6.857,71 dan level terendah 6.824,39. Sebanyak 315 saham menguat sehingga angkat IHSG. 246 saham melemah dan 235 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan 698.023 kali dengan volume perdagangan 13,1 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 5,7 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.390.

Mayoritas sektor saham menghijau kecuali sektor saham kesehatan turun 0,64% dan sektor saham teknologi melemah 0,23%. Sementara itu, sektor saham basic menguat 1,41%, dan pimpin penguatan terbesar.

Sektor saham consumer siklikal naik 1,01%, sektor saham energi menanjak 0,73%, sektor saham industri menanjak 0,12%, sektor saham consumer nonsiklikal mendaki 0,68%.

Lalu sektor saham keuangan bertambah 0,20%, sektor saham properti menguat 0,35%, sektor saham infrastruktur menanjak 0,68% dan sektor saham transportasi naik 0,27%.

Sementara itu, saham INTP berbalik arah ke zona merah pada sesi pertama. Saham INTP susut 2,86% ke posisi Rp 5.100 per saham. Harga saham INTP dibuka naik 25 poin ke posisi Rp 5.275 per saham. Saham INTP berada di level tertinggi Rp 5.300 dan terendah Rp 5.025 per saham. Total frekuensi perdagangan 1.732 kali dengan volume perdagangan 26.977 saham. Nilai transaksi Rp 13,8 miliar.

Harga saham RALS naik 0,48% ke posisi Rp 420 per saham. Saham RALS dibuka stagnan di posisi Rp 418 per saham. Harga saham RALS berada di level tertinggi Rp 426 dan terendah Rp 412 per saham. Total frekuensi perdagangan 1.194 kali dengan volume perdagangan 120.252 saham. Nilai transaksi Rp 5 miliar.

Harga saham LPPF menanjak 4,95% ke posisi Rp 1.910 per saham. Harga saham LPPF dibuka naik 10 poin ke posisi Rp 1.830 per saham. Saham LPPF berada di level tertinggi Rp 1.945 dan level terendah Rp 1.820 per saham. Total frekuensi perdagangan 3.461 kali dengan volume perdagangan 109.807 saham. Nilai transaksi Rp 20,8 miliar.

Top Gainers-Losers

Orang-orang memantau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia saat pembukaan usai libur Lebaran, Jakarta pada tanggal 8 April 2025. (BAY ISMOYO/AFP)

Saham-saham yang masuk top gainers antara lain:

  • Saham JATI melonjak 34,33%
  • Saham OPMS melonjak 25,93%
  • Saham HELI melonjak 23,76%
  • Saham SOLA melonjak 16,90%
  • Saham LMPI melonjak 14,05%

 

Saham-saham yang masuk top losers antara lain:

  • Saham ZATA merosot 12,50%
  • Saham KONI merosot 10,70%
  • Saham ANDI merosot 10%
  • Saham NINE merosot 9,86%
  • Saham KARW merosot 9,84%

 

Saham-saham teraktif berdasarkan nilai antara lain:

  • Saham BBCA senilai Rp 379,5 miliar
  • Saham BMRI senilai Rp 298,5 miliar
  • Saham GOTO senilai Rp 293,8 miliar
  • Saham BBRI senilai Rp 273,1 miliar
  • Saham ANTM senilai Rp 183,3 miliar

 

Saham-saham teraktif berdasarkan frekuensi antara lain:

  • Saham BBRI tercatat 21.624 kali
  • Saham MBMA tercatat 19.314 kali
  • Saham WIRG tercatat 16.991 kali
  • Saham ANTM tercatat 15.022 kali
  • Saham BBCA tercatat 14.011 kali
  •  

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2025

Deretan gedung perkantoran di Jakarta, Senin (27/7/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta mengalami penurunan sekitar 5,6 persen akibat wabah Covid-19. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 4,87% pada kuartal I 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year).

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan, produk domestik bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku pada kuartal I-2025 mencapai Rp 5.665,9 triliun. Sementara itu, PDB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp 3.264,5 triliun.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025 adalah sebesar 4,87% bila dibandingkan dengan kuartal I-2024 atau secara year-on-year," kata Amalia dalam konferensi pers pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2025, di Jakarta, Senin (5/5/2025).

Menurut Amalia, kontraksi ekonomi secara kuartalan atau quarter-to-quarter pada kuartal I merupakan pola musiman yang umum terjadi.

Ia menjelaskan bahwa setiap awal tahun, kegiatan ekonomi biasanya cenderung melambat dibandingkan akhir tahun sebelumnya, sehingga pola penurunan di kuartal pertama ini sejalan dengan tren historis.

"Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025 ini sejalan dengan pola yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya di setiap kuartal ke-I itu relatif selalu lebih rendah dibandingkan dengan kuartal IV tahun sebelumnya," jelasnya.

Dari sisi lapangan usaha, hampir seluruh sektor mencatatkan pertumbuhan positif pada kuartal I-2025 secara tahunan. Namun, satu sektor yakni pertambangan mengalami kontraksi.

"Pada kuartal I-2025 secara year-on-year, seluruh lapangan usaha tumbuh positif kecuali lapangan usaha pertambangan," ujarnya.

Sektor Penopang Ekonomi

Investasi, khususnya non-bangunan, tetap menopang pertumbuhan ekonomi. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Lima sektor utama yang menjadi penopang terbesar ekonomi Indonesia yaitu industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan transportasi, secara kumulatif menyumbang 63,96% terhadap total PDB nasional.

Sektor pertanian mencatatkan pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan signifikan sebesar 10,52%. Pertumbuhan ini dipicu oleh panen raya serta meningkatnya produksi komoditas utama seperti padi dan jagung di berbagai sentra pertanian nasional.

"Sektor pertanian tumbuh double digit sebesar 10,52%. Ini karena didukung oleh panen raya dan meningkatnya produksi tanaman padi dan jagung," ujarnya.

Sektor industri pengolahan, yang merupakan tulang punggung ekonomi nasional, juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,55% dan menyumbang 19,25% terhadap total PDB. Kinerja sektor ini menunjukkan bahwa aktivitas industri tetap berjalan stabil di tengah dinamika global.

Sementara itu, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 9,01%, didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat serta penguatan logistik nasional. Kontribusinya terhadap PDB mencapai 6,08%.

Sektor jasa lainnya juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi. Peningkatan ini dipicu oleh meningkatnya jumlah perjalanan wisatawan domestik dan kunjungan wisatawan mancanegara selama triwulan I-2025, yang turut menggairahkan sektor perhotelan, restoran, serta jasa hiburan.

"Kemudian ada juga jasa lainnya yang relatif tumbuh tinggi karena ditopang oleh meningkatnya jumlah perjalanan wisatawan Nusantara dan kunjungan wisatawan mancanegara selama triwulan I-2025," ujarnya.

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya