Review Film Thunderbolts: Manusia, Ruang-ruang Aib, dan Upaya Berdamai dengan Gelapnya Masa Lalu

Hadirnya Thunderbolts menjawab pertanyaan: Apa yang bisa disajikan Marvel setelah Avengers: Endgame dan mangkatnya Iron-Man versi Robert Downey Jr.?

oleh Wayan DianantoDiterbitkan 04 Mei 2025, 08:00 WIB
Hadirnya Thunderbolts menjawab pertanyaan: Apa yang bisa disajikan Marvel setelah Avengers: Endgame dan mangkatnya Iron-Man versi Robert Downey Jr.?

Liputan6.com, Jakarta Hadinya Thunderbolts pekan ini menjawab pertanyaan (sebagian pencinta film yang notabene bukan penggemar militan Marvel): Apalagi yang bisa disajikan setelah Avengers: Endgame dan meninggalnya Iron-Man versi Robert Downey Jr.?

Formula dan selera humornya yang digunakan selama beberapa tahun terakhir relatif bisa “diraba” audiens dan bisa jadi, publik menanti gebrakan baru. Thunderbolts dengan Florence Pugh dan Sebastian Stan di luar dugaan mampu menjawab keraguan publik.

Bayangkan. Tak ada Robert Downey Jr yang ikonis. Tanpa Chris Evan yang charming-nya minta ampun dan Scarlett Johansson absen. Di tangan Jake Schreier, film Thunderbolts malah jadi titik balik di mana semua pemain tampil prima sekaligus meyakinkan.

Inilah review film Thunderbolts. Tak salah film ini beroleh tingkat kesegaran 88 persen dari RottenTomatoes. Ini bukan film pahlawan super menyelamatkan dunia. Ia malah mengajukan pertanyaan esensial: siapa musuh manusia sebenarnya?

 


Di Balik Kongres Adalah Bucky?

Salah satu adegan film Thunderbolts. (Foto: Dok. Marvel Studios/ IMDb)

Via telepon, Yelena (Florence Pugh) putri Alexei Shostakov (David Harbour) yang selama ini bekerja untuk Valentina (Julia Louis-Dreyfus) ingin pensiun. Permintaan ini dikabulkan. Syaratnya, Yelena mesti menyelesaikan tugas akhir di bunker sedalam 1,6 km di bawah tanah.

Di sana, ada pembelot dengan mengakses bukti-bukti penting. Yelena diminta menghabisi orang ini. Apes. Di sana, ia bertemu John Walker (Wyatt Russell), Antonia Dreykov (Olga Kurylenko), Ava (Hannah John-Kamen), dan Bob (Lewis Pullman).

Sampai di sini, Yelena mencium bau busuk skandal yang berhubungan dengan proyek The Sentry. Suhu dalam bunker mendadak memanas. Tanda-tanda kebakaran (atau sengaja dibakar) mulai tampak. Mau tak mau, mereka bekerja sama agar selamat.

Di sisi lain, Valentina Allegra de Fontaine yang menjabat Direktur Utama CIA sekaligus pemilik Watch Tower menghadapi pemakzulan dari pihak kongres. Salah satu yang berada di balik kongres adalah Bucky (Sebastian Stan).

 


Tak Ada Kekuatan Super

Salah satu adegan film Thunderbolts. (Foto: Dok. Marvel Studios/ IMDb)

Tak ada kekuatan super mererawang masa depan, terbang, atau membaca pikiran seseorang. Thunderbolts bergerak dengan sejumlah pertanyaan mendasar misalnya, bagaimana jika orang-orang yang selama ini dianggap second-liner berada di garis depan?

Lanjut Baca:

Mengingat, tiap orang berhak mendapat kesempatan tampil atau menunjukkan aura kebintangan. Ndilalah, para tokoh dalam film ini memanfaatkan kesempatan itu dengan maksimal. Yang paling bersinar terang adalah Florence Pugh sebgaai Yelena. Ia “menangkap” esensi dan mempresentasikan sejumlah momen dengan apik dari pengakuan atas kesepian, rindu figur ayah, mencoba jadi teman baru padahal sendirinya masih meraba-raba bagamana teman sebenarnya. Dan masih banyak lagi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya