Skema Baru Subsidi BBM Masuk Finalisasi, Kapan Diterapkan?

pemerintah masih melakukan penghitungan data acuan. Menurut Menteri Bahlil penghitungan subsidi BBM sudah mendekati selesai.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 02 Mei 2025, 20:20 WIB
PT Pertamina Patra Niaga, Subholding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero), menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Non-Subsidi Pertamax Series dan Dex Series. (Foto: Pertamina)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan kabar terbaru skema baru subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Pembahasan data tunggal acuan skema subsidi BBM disebut hampir rampung.

Skema subsidi BBM itu merujuk pada pemberian subsidi ke produk BBM. Pada saat yang sama, akan ada masyarakat yang masuk dalam kategori yang bisa mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) BBM.

Bahlil mengatakan, pemerintah masih melakukan penghitungan data acuannya. Menurutnya penghitungan itu sudah mendekati selesai.

"Kita lagi menghitung agar data tunggalnya itu bisa segera selesai. Tapi kelihatannya sudah hampir selesai. Kita tunggu timing-nya aja," ungkap Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (2/5/2025).

Kendati demikian, Bahlil belum mengungkap kapan target pembahasan itu selesai. Dia juga tidak berbicara kapan skema subsidi BBM 'blending' itu berlaku.

"Ya kita tunggu lah timing-nya," ucap dia.

Masih Dibahas

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, kembali buka suara terkait penyusunan skema baru BBM subsidi. Ia hanya memberikan kode bahwa penyelesaiannya mendekati tahap akhir. Namun, Bahlil belum mau merincikan lebih lanjut soal tahapannya.

"Skema BBM baru belum selesai. Masih 1 persen lagi," ujar Bahlil singkat di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (3/2/2025).

Kode serupa dengan ucapan sedikit berbeda sempat dilontarkannya pada 7 Januari 2025 lalu. Bahlil menyebut pengumpulan data calon konsumen BBM subsidi hampir rampung 100 persen. Namun kembali, ia tak ingin berandai-andai kapan itu bisa diselesaikan.

"Ya 98 (persen) lah ya. Dikit lagi. (Kapan selesai?) Doain ya. Kita akan umumkan nanti di tahun ini," ucap Bahlil.

 

Tumpang Tindih Data

Petugas melakukan pengisian bahan bakar pertalite di SPBU Pertamina Abdul Muis, Jakarta, Kamis (30/6/2022). PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, PT Pertamina Patra Niaga, akan melakukan uji coba pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi, Pertalite dan Solar, secara terbatas bagi pengguna yang sudah terdaftar pada sistem MyPertamina, mulai 1 Juli mendatang. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Menurut dia, persoalan utama yang belum terselesaikan dalam menerapkan kebijakan penyaluran BBM subsidi tepat sasaran ialah tumpang tindih data.

"Selama ini kan datanya antara Kemensos lain, Pertamina lain, PLN lain. Sekarang datanya seluruhnya dikumpul ke satu pintu lewat BPS," ungkapnya.

Dikatakan Bahlil, proses pengumpulan data calon penerima ini sampai tiga kali mengalami perubahan. Sehingga ia meminta masyarakat bersabar, menanti keputusan final siapa saja yang nantinya berhak menenggak BBM subsidi.

"Sudah tiga kali perubahan, sudah hampir, tinggal sedikit lagi (selesai). Karena kita tidak ingin data-data penerima peralihan subsidi itu tidak tepat sasaran. Karena temanya ini kan subsidi tepat sasaran," tuturnya.

"Karena datanya kan antara penerima masih ada yang tumpang tindih. Kan kita menyatukan semua sumber dari kementerian/lembaga, maupun BUMN yang sumber datanya kita jadikan satu, supaya tidak terjadi tumpang tindih. Masa kita memberikan subsidi kepada orang yang enggak tepat, kan enggak pas," urainya.

 

Sabar

Penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Non-Subsidi Pertamax Series dan Dex Series mulai 29 Maret 2025. (c) Istimewa

Pun saat ditanya apakah skema penyalurannya nanti bakal turut mengalami perubahan, Bahlil meminta publik untuk bersabar menunggu. Namun, ia memberi kisi-kisi itu tidak akan jauh berbeda dari yang sebelumnya telah disampaikan.

"Nanti kalau sudah final semua kita umumkan, termasuk skema dan lainnya. Tapi yang pernah saya omongin itu tidak akan bergeser jauh-jauh dari situ," pungkas Bahlil.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya