Liputan6.com, Papua - Di tengah keragaman budaya Indonesia, Papua memiliki tradisi unik, pesta bakar batu. Ritual ini merupakan perwujudan rasa syukur, media perdamaian, dan bukti toleransi dalam masyarakat Papua.
Prosesi ini melibatkan pemanasan batu dalam lubang tanah. Hal ini telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat di bumi cenderawasih.
Advertisement
Mengutip dari berbagai sumber, pesta bakar batu diawali dengan penggalian lubang sedalam sekitar 50 cm. Batu-batu kemudian dipanaskan hingga membara di atas kayu bakar.
Setelah mencapai suhu optimal, batu panas tersebut disusun di dasar lubang yang telah dialasi rumput atau daun pisang. Mulai dari ubi, singkong, sayuran, hingga daging babi atau ayam, ditata rapi di atas batu panas kemudian ditutup kembali dengan daun dan batu tambahan.
Proses memasak ini memakan waktu beberapa jam. Selama menunggu, biasanya diadakan pertemuan adat, pidato tokoh masyarakat, atau diskusi.
Hal yang membuat pesta bakar batu istimewa adalah perannya sebagai media rekonsiliasi. Tradisi ini sering digelar usai konflik antarsuku atau sebagai bentuk penyelesaian sengketa adat.
Penyembelihan babi dan pembagian makanan secara adil ditujukan untuk berdamai. Setiap kelompok yang bertikai akan duduk bersama, menyantap hidangan yang sama, sebagai tanda mengubur permusuhan.
Tolikara
Di Kabupaten Tolikara, misalnya, pesta bakar batu kerap menjadi ajang pertemuan antara pemimpin daerah dengan masyarakat. Proses pembagian makanan yang tertib mengajarkan nilai-nilai keadilan dan persamaan hak yang dijunjung tinggi dalam budaya Papua.
Prosesi ini awalnya identik dengan daging babi sebagai bahan utama. Lalu perkembangan zaman membawa adaptasi dalam tradisi ini.
Masyarakat Papua menunjukkan toleransi tinggi dengan menyertakan ayam sebagai alternatif bagi mereka yang tidak mengonsumsi babi. Di daerah Walesi Jayawijaya, komunitas Muslim bahkan mengadopsi tradisi ini dengan mengganti bahan utama menjadi ayam saat menyambut Ramadan.
Pembagian makanan dalam pesta bakar batu dilakukan dengan sistem yang teratur. Para pejabat dan tamu kehormatan mendapat bagian pertama, diikuti oleh perwakilan kelompok masyarakat.
Tradisi ini dikenal dengan berbagai nama di seantero Papua. Masyarakat Dani menyebutnya lago lakwi. Sementara di Wamena dikenal sebagai kit oba isago.
Di Paniai, ritual ini bernama mogo gapil, sedangkan masyarakat pesisir menyebutnya Barapen. Pesta bakar batu tidak hanya digelar untuk acara besar.
Ritual ini juga menjadi bagian dari berbagai momen penting kehidupan, mulai dari kelahiran, pernikahan, kematian, pembukaan ladang baru, hingga penyambutan tamu penting.
Penulis: Ade Yofi Faidzun