Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama PT PP (Persero) Tbk atau PTPP, Novel Arsyad mengungkap rencana perseroan melepas sejumlah anak usaha. Tujuannya mengembalikan bisnis inti BUMN konstruksi tersebut.
Dia mengatakan, anak usaha dengan kinerja kurang baik akan didivestasikan. Kendati begitu, dia enggan membocorkan nama perusahaannya.
Advertisement
"Jadi clue-nya yang dilepas, yang memang sudah sulit untuk kita kembangkan. Jadi kalau nanti saya ngomong nama salah. Yang sulit kita kembangkan sedang kita kaji ada beberapa, tapi itu adalah langkah strategis kita," ungkap Novel dalam Konferensi Pers Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), di Kantor PT PP, Jakarta, dikutip Kamis (1/5/2025).
Dia menegaskan, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah menentukan core business PT PP. Sejalan dengan itu, upaya divestasi dilakukan sebagai strategi perusahaan.
"Tapi kalau clue-nya yang sulit untuk dikembangkan lagi ya harus kita lepas, dan yang jelas di luar core kita. Karena kan kita punya core business yang sudah jelas dari Kementerian BUMN," tuturnya.
Dalam mengurangi beban perusahaan, beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain menginsolidasikan, mendivestasi, hingga melikuidasi anak usaha.
"Jadi baik itu konsol, kemudian kita melakukan divestasi, kita melakukan likuidasi, kemudian kita memang kita tumbuhkan lebih besar, itu adalah langkah-langkah strategis kita," ungkap dia.
Banyak Anak Usaha
Novel menjelaskan, ada 63 perusahaan yang terafiliasi denga PT PP. Sebagian diantaranya tengah ditinjau untuk dilepas. Meski, dia masih enggan memberikan bocoran.
"Anak perusahaannya banyak, ada afiliasi banyak. Kita tuh punya banyak 63 perusahaan afiliasi, sedang dikaji semua. Sabar, pasti kita kasih tau. Karena untuk performance PP yang lebih bagus," urainya.
"Jadi kita supaya jangan terbebani di situ. Mana yang bukan core pasti kita geser, terus kemudian yang bisnisnya memang tidak bisa dipertahankan pasti kita pinggirkan," tegas Novel.
Dia mengatakan, anak usaha yang masih potensial akan didukung untuk berkembang. Namun, untuk mengurangi beban usaha, sebagian lainnya bakal dilepas.
"Yang memang bisa dikembangkan lebih bagus pasti kita akan support. Dan mana yang mungkin tadinya konsolidasi menjadi dekonsolidasi, supaya tidak membebani kinerja. Ini langkah-langkah strategisnya kita kasih semua dan tahun ini pasti kita akan selesaikan," tandasnya.
PT PP Mau Divestasi Anak Usaha
Sebelumnya, PT PP (Persero) Tbk atau PTPP akan mendivestasikan sejumlah anak usaha yang tidak berkaitan dengan core business perusahaan. Targetnya, proses divestasi itu bisa selesai pada pertengahan 2024 mendatang.
Direktur Utama PT PP, Novel Arsyad mengatakan divestasi anak usaha sudah mulai diproses. Anak usaha di sektor Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM) akan dilepas dalam waktu dekat.
"Divestasi sekarang sedang berproses. Jadi divestasi yang cukup signifikan kita ada di PP Infrastruktur yang bergerak di bidang SPAM. Ini sedang berjalan dan kita berharap di sekitar pertengahan tahun ini itu bisa diselesaikan. Di samping kita juga mendivest ada hotel," ungkap Novel dalam Konferensi Pers usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Di Kantor PT PP, Jakarta, Rabu (30/4/2025).
Dia menegaskan kembali langkah divestasi itu sejalan dengan rencana untuk memperbaiki arus kas perusahaan. Novel juga menerangkan sudah memetakan kinerja anak usahanya.
"Jadi langkah kami beberapa hal, baik dari sisi apakah itu didivestasi ataukah ada langkah dekonsolidasi dan juga mungkin juga likuidasi. Dan mana-mana saja yang harus kita kembangkan karena punya potensi yang cukup bagus ke depan," tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Strategi Korporasi dan HCM, I Gede Upeksa menyampaikan divestasi anak usaha dilakukan agar perusahan fokus pada core business-nya. Harapannya hal itu bisa meningkatkan keuntungan dan mengurangi beban utang.
"Sehingga apa-apa bisnis kita yang tidak inline, tidak mendukung core itu akan kita divestasi. Tujuannya adalah satu mendapatkan profit, yang kedua untuk proceed dari divestasi itu untuk menurunkan beban debt kita," tuturnya.
Anak Usaha Didivestasi
Dia mengatakan, ada dua proses divestasi yang sudah berjalan. Targetnya, pada Juni 2025, proses itu bisa selesai.
"Satu di (sektor) infrastruktur air, yang kedua di infrastruktur kereta api. Nah ini kita merencanakan total proceed-nya kurang lebih di Rp 3 triliun. Itu yang akan kita lakukan dan sudah berproses," kata Gede.
Tahapannya, ditargetkan Perjanjian Jual Beli (CSPA) sudah bisa selesai pada Mei 2025 dan tahap final jual beli (SPA) bisa selesai satu bulan setelahnya.
"Nah di saat ini kita sudah didampingi oleh Financial Advisor untuk melakukan proses divestasi. Jadi harapannya nanti di bulan Mei sudah ada CSPA dan SPA di bulan Juni, sehingga kita akan bisa memproceed dua anak usaha tersebut," bebernya.