Oleh-oleh Sri Mulyani dari Amerika Serikat

Menkeu Sri Mulyani menekankan perlunya persatuan dan peningkatan kolaborasi regional ASEAN melalui berbagai langkah seperti peningkatan integrasi perdagangan regional.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 30 April 2025, 14:10 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati bersama para wakil menteri keuangan dalam konferensi pers APBN KiTa, di Jakarta, Rabu (30/4/2025). (Tira/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, menghadiri Pertemuan Musim Semi (Spring Meeting) Grup Bank Dunia (World Bank Group) dan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund) yang diselenggarakan pada 21–25 April 2025 di Washington, DC, Amerika Serikat (AS).

Sri Mulyani juga menghadiri Pertemuan Tingkat Menteri dan Gubernur Bank Sentral (Finance Ministers and Central Bank Governors/FMCBG) G20 yang menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian Spring Meeting.

"Saya baru tadi malam mendarat, baru selesai dalam perjalanan di Amerika Serikat bertemu dengan para investor di New York dan di Washington DC untuk Spring Meeting, IMF and World Bank Spring Meeting dan G20 Meeting, serta berbagai pertemuan bilateral yang dilakukan dengan teman-teman menteri keuangan terkait maupun dengan multilateral development bank," kata Menkeu dalam konferensi pers APBN KiTa, di Jakarta, Rabu (30/4/2025).

Dalam pertemuan Spring Meeting World Bank and IMF, Menkeu menyampaikan bahwa Indonesia memiliki perhatian yang sama dengan banyak negara terkait kenaikan tarif impor AS yang berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap perdagangan global, pembangunan ekonomi, dan kepercayaan pasar.

Untuk itu, Menkeu menekankan perlunya persatuan dan peningkatan kolaborasi regional ASEAN melalui berbagai langkah seperti peningkatan integrasi perdagangan regional, percepatan pengembangan rantai pasok, penguatan jaring pengaman keuangan regional serta penguatankolaborasi multilateral di tingkat global dan regional.

Sementara itu, pembahasan dalam pertemuan FMCBG antara lain mengenai dinamika globalisasi saat ini yang dinilai tidak sehat dan tidak berkelanjutan.

Kondisi ini mendorong upaya negara tertentu untuk mengurangi defisit perdagangan dan mempertahankan tarifnya. Sebagai respons, beberapa negara berupaya memperkuat konsumsi domestik dan menegaskan kembali pentingnya menolak praktik proteksionisme.

"Untuk itu, kerja sama internasional untuk memodernisasi aturan perdagangan, memperkuat multilateralisme, dan mereformasi World Trade Organization (WTO) menjadi semakin penting. Selain itu, negara-negara G20 perlu mendorong de-eskalasi ketegangan perdagangan dan menolak perang tarif," ujarnya.

 

Bahas Perdagangan Global 2025

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam acara Silaturahmi Ekonomi Bersama Presiden RI: Memperkuat Daya Tahan Ekonomi Nasional, di Menara Mandiri Sudirman, Jakarta Selatan, Selasa (8/4/2025)

Selanjutnya, dalam agenda pertemuan Early Warning Exercise (EWE) IMF, Menkeu menyampaikan pandangan terkait prospek perdagangan global tahun 2025 yang semakin sarat dengan tantangan seperti fragmentasi dan proteksionisme yang turut meningkatkan ketidakpastian danmemicu volatilitas pasar keuangan.

Menkeu menyerukan kerja sama multilateral yang memprioritaskan solusi yang saling menguntungkan. Transisi globalisasi harus dirancang dengan cermat untuk menghindari pemutusan hubungan kerja, ekonomi yang terpinggirkan, atau beban utang yang tidak berkelanjutan.

"Kita harus menolak paradigma yang tidak menguntungkan dan sebaliknya membentuk sistem yang menghasilkan pertumbuhan yang inklusif, sehingga negara-negara ekonomi berkembang memiliki suara yang berarti dan tidak ada negara yang tertinggal,” jelas Menkeu.

 

Pertemuan lainnya

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. (Foto: tangkapan layar/Tira Santia)

Agenda penting lain yang dihadiri oleh Menkeu yaitu pertemuan International Monetary Fund Committee (IMFC) Breakfast. Pada pertemuan tersebut, Menkeu menyoroti bahwa meski globalisasi telah mendorong kemajuan dalam perdagangan, teknologi, dan pertumbuhanekonomi, manfaatnya belum dirasakan merata. Hal ini menimbulkan ketimpangan, kehilangan pekerjaan, dan keresahan sosial di banyak negara.

Hal tersebut menjadi tantangan politik ke depan yaitu bagaimana mengelola trade-offs yang menjadi tuntutan globalisasi, kedaulatan, localjobs, dan identitas budaya, di tengah meningkatnya ketidakpuasan terhadap biaya integrasi

Adapun di sela-sela agenda utama, Menkeu juga berkesempatan menghadiri beberapa pertemuan bilateral antara lain pertemuan dengan President WBG, Ajay Banga; Managing Director of IMF Kristalina Georgieva; President of the European Investment Bank, Nadia Calvino; Ratu Maxima dari Belanda; World Bank Regional Vice President for East Asia and Pacific, Manuela V. Ferro; Managing Director International Finance Cooperation (IFC), Makhtar Diop; Treasury Secretary of The USA, Scott Bessent; dan Menteri Keuangan Jerman, Jorg Kukies.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya