China Kasih Bantuan ke Pengusaha Hadapi Dampak Perang Dagang AS

China berjanji akan memberikan bantuan lebih besar kepada bisnis-bisnis yang sedang kesulitan di tengah meningkatnya tekanan dari luar negeri. Komitmen ini disampaikan dalam rapat Politbiro, badan politik tertinggi kedua di China, yang dipimpin langsung oleh Presiden Xi Jinping pada Jumat lalu.

oleh Septian DenyDiterbitkan 28 April 2025, 07:00 WIB
Bendera AS dan China berkibar berdampingan (AP/Andy Wong)

Liputan6.com, Jakarta China berjanji akan memberikan bantuan lebih besar kepada bisnis-bisnis yang sedang kesulitan di tengah meningkatnya tekanan dari luar negeri. Komitmen ini disampaikan dalam rapat Politbiro, badan politik tertinggi kedua di China, yang dipimpin langsung oleh Presiden Xi Jinping pada Jumat lalu.

Melansir CNBC Internasional, Minggu (27/4/2025), langkah ini diambil seiring perang dagang Amerika Serikat-China yang kembali memanas bulan ini, setelah Washington dan Beijing memberlakukan tarif balasan baru yang nilainya lebih dari 100%. 

Akibatnya, sejumlah bank besar Wall Street memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi China tahun ini. Padahal, Beijing masih mengejar target pertumbuhan sekitar 5% yang sudah ditetapkan sejak Maret lalu.

Punya Berbagai Langkah Strategis

Dalam pertemuan tersebut, otoritas China menekankan perlunya berbagai langkah untuk membantu bisnis yang sedang kesulitan, termasuk melalui pemberian dukungan keuangan, sebagaimana tertulis dalam hasil rapat berbahasa Mandarin yang diterjemahkan oleh CNBC.

Selain itu, Politbiro juga menyarankan adanya "pengurangan tepat waktu" pada suku bunga dan rasio persyaratan cadangan, yaitu jumlah dana cadangan yang wajib disimpan oleh bank. Langkah ini diharapkan dapat memberikan ruang likuiditas tambahan untuk mendukung dunia usaha.

Menurut kepala peneliti di Bank of China, Zong Liang pemerintah masih mempertahankan arah kebijakan yang ditetapkan sejak awal tahun, namun tetap membuka ruang fleksibilitas untuk kebijakan yang lebih terfokus. 

Ia memperkirakan China akan melakukan penelitian lebih mendalam terhadap bisnis-bisnis tertentu untuk menemukan strategi dukungan yang lebih efektif dalam menghadapi dampak tarif.

Sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas, pemerintah China sebelumnya telah menaikkan target defisit fiskal menjadi 4% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada bulan Maret. Menteri Keuangan Lan Fo’an saat itu menyatakan bahwa langkah tersebut memberikan ruang gerak lebih luas bagi China untuk menggunakan kebijakan fiskal secara aktif.

 

Perusahaan Besar di China Bergerak Cepat Merespon Tarif

Sejumlah warga mengibarkan bendera AS dan China di sekitar lokasi KTT APEC, Selasa (14/11/2023). (AP/Evan Vucci)

Sejak ketegangan dagang dengan AS meningkat, pemerintah daerah dan sejumlah perusahaan besar di China juga telah bergerak cepat, berusaha mengalihkan produk ekspor ke pasar domestik guna mempertahankan pendapatan.

Dalam hasil rapat Politbiro tersebut, pemimpin China juga menegaskan pentingnya meningkatkan pendapatan bagi kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah serta mendorong konsumsi jasa. Di saat yang sama, mereka mendorong pengembangan lebih lanjut di bidang teknologi, termasuk integrasi kecerdasan buatan (AI).

Pasar Saham Berfluktuasi Pernyataan resmi dari rapat Politbiro juga langsung berdampak di pasar keuangan. Indeks CSI 300 di China sempat melemah, sementara indeks Hang Seng di Hong Kong memangkas sebagian keuntungannya setelah pengumuman tersebut.

Sebagai catatan, Politbiro merupakan badan yang beranggotakan pejabat tingkat tinggi Partai Komunis China dan biasanya berfungsi menetapkan arahan kebijakan utama negara.

 

Kebijakan Pemerintah

Banner Infografis Perang Dagang AS-China Segera Berakhir. (Sumber Foto: AFP)

Menurut Bruce Pang, profesor madya tambahan di Sekolah Bisnis CUHK, hasil pertemuan Politbiro ini menegaskan kembali kebijakan dari Dewan Negara badan eksekutif tertinggi dan kementerian pemerintah, 'yang menggarisbawahi komitmen dan kolaborasi tingkat tinggi.

Pang juga menilai meskipun tidak ada kejutan besar dalam kebijakan baru tersebut, langkah-langkah ini membekali para pembuat kebijakan dengan alat untuk menavigasi ketidakpastian eksternal.

Ia juga menambahkan, ia mengantisipasi undang-undang baru di sektor swasta yang bisa membantu meningkatkan lingkungan bisnis di China.

Ke depan, Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional badan legislatif China dijadwalkan akan bertemu dari Minggu hingga Rabu untuk membahas dan meninjau undang-undang baru yang dirancang untuk memperkuat sektor swasta di negara tersebut. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya