Liputan6.com, Jakarta - Di tengah berbagai tantangan global dan dinamika sosial nasional, sejumlah tokoh bangsa menegaskan pentingnya menjaga persatuan dan membangun optimisme kolektif sebagai fondasi untuk mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih baik.
Narasi pesimistis seperti "Indonesia gelap" dinilai tidak mencerminkan realitas keseluruhan. Sebaliknya, bangsa ini tengah berada dalam proses menuju kebangkitan. Dalam situasi yang penuh tekanan, persatuan dan semangat positif menjadi kunci untuk melangkah ke depan.
Advertisement
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Marsudi Syuhud mengingatkan pentingnya membangun narasi yang menginspirasi, bukan menakutkan.
"Narasi 'Indonesia gelap' muncul saat harapan masyarakat tidak sejalan dengan realitas, apalagi dalam tekanan ekonomi. Tapi dalam ajaran agama, kita diajarkan untuk membangun dengan semangat optimisme dan kebersamaan, bukan dengan rasa takut atau saling menyalahkan,” tegasnya.
Marsudi juga mendukung pendekatan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai mampu menyeimbangkan antara harapan dan kenyataan dalam strategi pembangunan nasional.
“Presiden Prabowo hadir membawa harapan. Ia menetapkan prioritas pembangunan nasional secara strategis, menyesuaikan dengan dinamika global yang juga menimpa banyak negara, bukan hanya Indonesia,” ungkapnya.
Presiden Prabowo diketahui mengedepankan pembangunan terstruktur sebagai respons atas krisis global, dengan tetap membuka ruang bagi kritik dan masukan publik. Sikap ini dinilai sebagai bentuk nyata dari komitmen terhadap prinsip demokrasi yang deliberatif.
Jaga Stabilitas Nasional
Sementara itu, pengamat komunikasi politik Universitas Indonesia, Aditya Perdana, menilai kemampuan Prabowo dalam merangkul berbagai kekuatan politik sebagai kekuatan penting dalam menjaga stabilitas nasional.
“Ini bukan hanya langkah politik, tapi modal besar untuk mempercepat pembangunan,” ujar Aditya.
Ia juga menyoroti sikap terbuka Presiden terhadap kritik sebagai indikator kedewasaan dalam berpolitik. “Pengakuan beliau atas kelemahan dalam komunikasi publik adalah wujud evaluasi diri yang dewasa, dan itu menunjukkan komitmen terhadap prinsip demokrasi yang sehat,” katanya.
Sejalan dengan itu, para tokoh bangsa diimbau untuk terus memperkuat semangat kebangsaan, mendorong harmoni sosial, serta menolak segala bentuk polarisasi. Perbedaan pandangan seharusnya dimaknai sebagai ruang dialog yang membangun, bukan pemicu perpecahan.
Dengan menjaga semangat kebersamaan dan optimisme, Indonesia diyakini mampu melangkah menuju masa depan yang lebih cerah, adil, dan sejahtera untuk seluruh rakyatnya.