Cuaca Indonesia Hari Ini Kamis 17 April 2025: Mayoritas Pagi dan Malam Sebagian Berawan

Langit sebagian besar wilayah Indonesia pada Kamis pagi (17/4/2025) diprediksi cerah, cerah berawan, dan berawan. Namun ada juga beberapa wilayah yang turun hujan dengan intensitas ringan yaitu Pontianak, Pangkal Pinang, Tanjung Pinang dan Palembang. Seperti itulah prakiraan cuaca Indonesia hari ini.

oleh Arviola Marchsyalina SyurgandariDiterbitkan 17 April 2025, 07:15 WIB
Gedung-gedung bertingkat dengan latar belakang awan cumulonimbus terlihat di perairan Teluk Jakarta, Minggu (10/1/2021) (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Langit sebagian besar wilayah Indonesia pada Kamis pagi (17/4/2025) diprediksi cerah, cerah berawan, dan berawan. Namun ada juga beberapa wilayah yang turun hujan dengan intensitas ringan yaitu Pontianak, Pangkal Pinang, Tanjung Pinang dan Palembang. Seperti itulah prakiraan cuaca Indonesia hari ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, cuaca di sebagian besar kota-kota Indonesia pada siang hari nanti diprakirakan bakal cerah berawan, di antaranya Banda Aceh, Denpasar, Jakarta Pusat, Banjarmasin, Tarakan, Kota Jayapura, Pekanbaru, dan Mamuju.

Namun tak sedikit kota-kota besar di Indonesia yang diguyur hujan dengan intensitas sedang pada siang nanti, seperti Bengkulu, Palangkaraya, Makassar, Padang, Palembang, dan Medan. Adapun wilayah yang akan turun hujan dengan petir yaitu Pangkal Pinang.

Selanjutnya, malam hari nanti, cuaca Indonesia sebagian besar diprediksi berawan, cerah berawan, cerah, dan turun hujan berintensitas ringan di beberapa wilayah.

Berikut informasi prakiraan cuaca Indonesia selengkapnya yang dikutip Liputan6.com dari laman resmi BMKG www.bmkg.id:

 Kota  Pagi  Siang  Malam
 Banda Aceh  Cerah Berawan  Cerah Berawan  Cerah Berawan
 Denpasar  Cerah Berawan  Cerah Berawan  Cerah
 Serang  Berawan  Berawan  Berawan
 Bengkulu  Berawan  Hujan Ringan  Berawan
 Yogyakarta   Cerah  Cerah  Cerah
 Jakarta Pusat   Berawan  Cerah Berawan  Berawan
 Gorontalo   Berawan  Berawan  Cerah Berawan
 Jambi   Berawan  Hujan Ringan  Berawan
 Bandung   Berawan  Berawan  Cerah Berawan
 Semarang   Berawan  Berawan  Berawan
 Surabaya   Berawan  Berawan  Berawan
 Pontianak   Hujan Ringan  Berawan  Berawan
 Banjarmasin   Cerah Berawan  Cerah Berawan  Cerah Berawan
 Palangkaraya  Berawan  Hujan Ringan  Hujan Ringan
 Samarinda  Berawan  Berawan  Berawan
 Tarakan   Berawan  Cerah Berawan  Cerah Berawan
 Pangkal Pinang  Hujan Ringan  Hujan Petir  Cerah Berawan
 Tanjung Pinang   Hujan Ringan  Berawan  Berawan
 Bandar Lampung  Berawan  Berawan  Berawan
 Ambon   Cerah Berawan  Berawan  Berawan
 Ternate   Berawan  Berawan  Berawan
 Mataram   Berawan  Cerah  Berawan
 Kupang   Cerah Berawan  Berawan  Berawan
 Kota Jayapura  Berawan  Cerah Berawan  Cerah Berawan
 Manokwari   Cerah  Berawan  Cerah Berawan
 Pekanbaru   Cerah Berawan   Cerah Berawan  Cerah Berawan
 Mamuju   Cerah Berawan  Cerah Berawan  Cerah Berawan
 Makassar   Berawan  Hujan Ringan  Berawan
 Kendari   Berawan  Berawan  Hujan Ringan
 Manado    Cerah Berawan  Berawan  Cerah Berawan
 Padang   Berawan  Hujan Ringan  Berawan
 Palembang  Hujan Ringan   Hujan Ringan  Berawan
 Medan   Cerah Berawan  Hujan Ringan  Cerah Berawan

Sumber Utama Polusi

Seorang anak perempuan mengenakan masker saat dijemput orang tuanya di Bangkok, Thailand (30/1) (AP Photo/Sakchai Lalit)

Laporan tersebut mengungkap bahwa angka kematian akibat polusi mencapai hampir satu dari empat kematian secara keseluruhan. Dampaknya tidak hanya dirasakan di masa kanak-kanak, tetapi juga berlanjut hingga usia dewasa, menyebabkan berbagai masalah kesehatan kronis.

Mengutip kanal Global Liputan6.com yang melansir dari Bangkok Post, Minggu, 9 Februari 2025, UNICEF menyatakan bahwa seluruh 500 juta anak di Asia Timur dan Pasifik terpapar tingkat polusi udara yang tidak sehat. Sumber utama polusi dalam rumah tangga berasal dari bahan bakar yang digunakan untuk memasak dan pemanasan, yang menjadi penyebab utama kematian anak di bawah lima tahun.

Selain itu, sekitar 325 juta anak tinggal di negara-negara dengan tingkat rata-rata tahunan partikel halus (PM2.5) yang melebihi pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hingga lima kali lipat. Sumber utama polusi ini berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, biomassa, dan limbah pertanian.

Paparan jangka panjang terhadap polutan udara dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan kognitif anak. UNICEF memperingatkan bahwa dampak polusi udara dapat menyebabkan penyakit seperti asma, kerusakan paru-paru, keterlambatan perkembangan, diabetes, hingga penyakit jantung di kemudian hari.

Dampak Kesehatan Akibat Polusi Udara

Ibu Kota India, New Delhi diselimuti kabut asap polusi udara yang menyebabkan kualitas udara di sejumlah daerah sekitar menjadi sangat buruk. (Money SHARMA/AFP)

Menurut edisi kelima laporan "State of Global Air" yang dirilis oleh Health Effects Institute dan UNICEF pada 2024, polusi udara menyebabkan 700.000 kematian anak di bawah lima tahun secara global pada 2021.

Angka tersebut setara dengan hampir 2.000 kematian per hari, menjadikannya faktor risiko kematian tertinggi kedua bagi anak-anak setelah malnutrisi. Partikel halus PM2.5 disebut sebagai indikator paling akurat dalam memprediksi dampak kesehatan buruk akibat polusi udara di seluruh dunia.

"Setiap napas sangat berarti, tetapi bagi terlalu banyak anak, setiap napas justru membawa bahaya," ujar Direktur Regional UNICEF untuk Asia Timur dan Pasifik June Kunugi. "Udara yang mereka hirup, pada masa di mana tubuh dan otak mereka masih berkembang, terlalu sering mengandung tingkat polusi yang membahayakan pertumbuhan, kesehatan paru-paru, dan perkembangan kognitif mereka."

Beberapa kota di Asia seperti New Delhi, Dhaka, dan Bangkok saat ini tengah berjuang melawan polusi udara yang semakin parah akibat pembakaran musiman tanaman pertanian, polusi kendaraan, serta fenomena cuaca yang menjebak partikel debu di atmosfer.

INFOGRAFIS JOURNAL_ Berbagai Polusi Berdampak pada Perubahan Iklim (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya